Identitas

Ilmuwan sosial tidak memiliki kesepakatan akan makna identitas. Stuart Hall merangkum ketidaksepakatan tersebut ke dalam tiga kelompok pendapat, yakni “Enlightenment subject”, “sociological subject”, dan “post-modern Subject”.[1] Pada dasarnya, Enlightment subject menganggap bahwa manusia adalah individu yang fully centred dan unified. Manusia dianggap memiliki kapasitas untuk beralasan, memiliki kesadaran dan tindakan. Manusia memiliki inti yang terdiri atas sebuah inner core yang sedari lahir hingga akhir hayatnya secara esensial tetap. Enlightenment subject menganggap inner core tersebut merupakan identitas dari manusia. Singkat kata identitas subyek adalah inner core, yang merupakan hasil pemikiran secara sadar dari seorang subyek yang sifatnya tetap.

  • Enlightment Subject

Konsepsi identitas Enlightenment subject bisa ditelusuri melalui lahirnya gagasan individual subject di antara masa renaissance dan zaman pencerahan. Gagasan tersebut dianggap sebagai motor dari sistem sosial era modern. Raymond Williams mencatat bahwa gagasan individual subject mengandung dua arti penting. Di satu sisi, subyek bersifat indivisible. Di sisi lain, subyek juga sebagai entitas yang singular, distinctive, dan unique. Stuart Hall sendiri menilai bahwa sejarah Filsafat Barat amat terpengaruh oleh gagasan ini.  Dua filsuf kenamaan, Rene Descartes dan John Locke, menurut Hall adalah contoh filsuf yang terpengaruh gagasan tersebut. Descartes membedakan dua substansi utama dari manusia, yakni matter dan mind. Menurutnya, pusat dari mind adalah individual subject yang memiliki kapasitas untuk berpikir dan beralasan. Dari situ muncullah adagium yang terkenal “cogito ergo sum”. Sementara itu, John Locke mendefinisikan manusia sebagai “the sameness of a rational being” – identitas subyek tetap sama dan terus berada di dalam diri subyek.

  •  Sociological Subject

Sociological subject muncul sebagai bentuk ketidaksepakatan terhadap gagasan individual subject. Sociological subject masih sepakat bahwa inner core adalah identitas manusia. Namun, inner core itu tidak dibentuk secara otonom dan self sufficient oleh subyek – sebagaimana diyakini oleh Enlightenment subject. Inner core dibentuk dalam relasi antara subyek dengan masyarakat dimana dia tinggal. Pembentukan ini berupa hubungan dialogis yang terus menerus antara dunia kultural dengan identitas yang ditawarkan oleh inner core.

Kemunculan sociological subject erat kaitannya dengan perkembangan masyarakat modern yang kian kompleks. Dua perkembangan besar dalam Ilmu Biologi dan Sosiologi turut berperan dalam memperluas gagasan subyek modern. Pertama, Biologi Darwinian yang menyatakan bahwa subyek telah terbiologi – reason diberi dalam basis alam dan memiliki dasar dalam pembangunan fisik otak manusia. Kedua, Sosiologi yang meletakkan subyek dalam proses kelompok dan norma kolektif, yang mendasari kehidupan subyek. Oleh karenanya, individu terbentuk dengan keanggotaannya, partisipasinya, dalam hubungan social yang lebih luas; dan sebaliknya bagaimana proses dan struktur dipertahankan oleh tindakan mereka sendiri. Gagasan ini sering disebut interactive sociological model, yang menstabilkan antara yang luar dan yang dalam.

  •  Postmodern Subject

Post-modern subject juga tidak sepakat dengan gagasan individual subject a la Enlightenment subject. Inti gagasan dari post-modern subject ialah de-centring rational dan individual subject. Menurut kalangan post-modern subject, identitas ialah sesuatu yang amat susah dipastikan, tidak pernah utuh, dan terfragmen secara inheren. Kalangan post-modern tidak percaya akan adanya identitas yang tetap. Suatu subyek bisa memiliki identitas yang beragam, tidak jarang antara identitas satu dengan identitas yang lain kontradiktif. Oleh karena itu, suatu subyek acapkali mengalami ketegangan antar-identitas, dimana terjadi tarik menarik yang mengubah-ubah titik identifikasi dari subyek. Identitas diproduksi dan didefinisikan secara historis. Selayaknya yang diproduksi secara historis, identitas mengalami transformasi secara konstan. Dalam rentang sejarah tersebut, identitas terbentuk dan bertransformasi dalam representasi.

Konseptualisasi post-modern subject didasarkan pada kontribusi dari beberapa ilmuwan yang menentang Cartesian subject. Marx misalnya, menegaskan bahwa manusia tidak memiliki kuasa penuh untuk mencetak sejarah. Dia dihadapkan pada hambatan-hambatan yang telah ada mendahuluinya. Freud menyatakan bahwa tindakan manusia ditentukan oleh ketidaksadaran. Sementara itu, De Saussure menyampaikan bahwa manusia tidak pernah mampu menyampaikan makna secara sebenar-benarnya. Yang manusia lakukan hanyalah menyampaikan sesuatu sesuai dengan sistem makna dalam bahasa yang telah ada sebelumnya. Foucault menjelaskan bahwa manusia tidak lain ialah ‘docile body’ yang diproduksi oleh disciplinary power di sekolah, rumah sakit, dan sebagainya.

Konseptualisasi mengenai subyek cukup terpengaruh oleh proses de-centring ini. Menurut Hall, ada dua pengaruh penting. Pertama, Lacan yang mengikuti pendapat Freud mengatakan bahwa sejak ketidaksadaran memainkan peranan penting dalam pembentukan identitas seseorang, gagasan tentang diri yang penuh dan utuh tidak dimiliki oleh subyek sejak lahir, melainkan dipelajari secara gradual dan parsial selama masa balita. Masa ini disebut oleh Lacan sebagai “mirror-phase”. Masa dimana balita belajar untuk menyadari citra yang dia temukan di cermin –baik secara literal, maupun figurative dengan mencerminkan tampilan yang lain—sebagaimana menreleksikan diri yang benar, bersatu, dan utuh. Walaupun begitu, diri yang penuh dan bersatu hanyalah fantasi, dimana identitas seseorang sangat susah original, selalu bertransformasi. Kedua, Derrida mengikuti pendapat De Saussure, menegaskan bahwa individu tak pernah bisa memastikan makna dari suatu statement, termasuk makna dari identitas seseorang. Sebuah kata yang kita gunakan selalu membawa makna yang lain, tidak perduli betapa kerasnya usaha seseorang untuk menetapkan maknanya. Implikasinya makna itu tidak stabil dan tidak pernah bisa dipastikan. Selalu ada echoes dari makna lain yang diluar control, yang selalu menentang dan merusak usaha seseorang untuk memproduksi identitas yang pasti dan stabil.

[1] S. Hall, The Question of Cultural Identity, Hal. 275.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s