Tentang “Kita sebagai Negara Berdaulat”

Kalau anda bertanya pada Menteri Luar Negeri mengenai apa prioritas Politik Luar Negeri Indonesia era Jokowi, anda di antaranya akan mendapat jawaban menjaga kedaulatan Republik Indonesia. Kalau anda bertanya pada Panglima TNI mengenai apa tugas TNI, anda diantaranya akan mendapat jawaban menjaga kedaulatan Republik Indonesia.

Lalu dimana letak permasalahannya? Bukankah menjaga kedaulatan merupakan hal yang lumrah dan harus terus diperjuangkan sepanjang hayat republik ini?

Mari sejenak kita berfikir, apa yang biasanya anda jaga? Saya misalnya, berusaha keras untuk menjaga agar helm full-face yang baru saya beli tidak raib dicuri. Sebelum saya meninggalkan parkiran sepeda motor, saya selalu memastikan bahwa helm tersebut telah terkunci dengan aman. Seorang lelaki yang baru saja jadian dengan pacarnya yang sudah dibribik selama bertahun-tahun akan dengan sekuat tenaga dan sepenuh jiwa menjaga pacarnya, agar tidak direbut oleh lelaki lain yang lebih ganteng, kaya, ataupun pintar. Alim di sini tidak jadi soal karena kecenderungannya orang alim tidak nikung. Dari dua ilustrasi tersebut, kita bisa memahami bahwa apa yang biasanya kita jaga hak milik kita atas suatu material — saya mohon maaf karena mengasosiasikan pacar sebagai sesuatu yang material, yang pasti maksud saya bukan menyamakan pacar anda dengan pasir, semen, dan batu-bata. Ketika hak milik kita atas sesuatu yang material itu dirampas oleh orang lain, di situlah letak ketidakmampuan kita untuk menjaga.

Yang penting di sini ialah, apakah kedaulatan itu adalah sesuatu yang material dan hak milik melekat pada pemiliknya, dalam hal ini negara?  Apa pula kedaulatan itu?

Dalam ‘alkitab Ilmu Politik Indonesia’, Miriam Budiarjo menjelaskan  kedaulatan sebagai “kekuasaan tertinggi untuk membuat undang-undang dan melaksanakannya dengan semua cara (termasuk paksaan) yang tersedia.” Miriam Budiarjo menambahkan, ada dua jenis kedaulatan. Pertama, kedaulatan internal yang merupakan kekuasaan tertinggi dari negara untuk memaska semua penduduknya agar menaati undang-undang serta peraturannya. Kedua, kedaulatan eksternal yang merupakan kemampuan negara untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan negara lain.

Hari-hari ini, kita tengah disibukkan oleh isu hukuman mati terhadap warga Australia dan Brazil yang terbukti bersalah telah mengedarkan narkoba di Indonesia. Tekanan silih berganti datang dari pemerintah kedua negara bersangkutan agar Indonesia, dalam hal ini Pak Jokowi, luluh sehingga membatalkan rencana eksekusi mati terhadap warga-warganya. Tony Abbott (Perdana Menteri Australia) bahkan merasa perlu untuk mengungkit-ungkit kebaikan Australia terkait bantuannya terhadap rekonstruksi Aceh pasca Tsunami. Hal ini dikemudian hari memancing kemarahan banyak warga Indonesia. Bayangkan saja, anda yang tengah memutuskan pacar anda dirayu oleh dirinya untuk mengurungkan niat anda dengan menyatakan “Sayang, selama ini aku udah ngebayarin kita nonton & makan RP 5.987.650,00 Aku juga udah beliin kamu cincin emas 3 gram, kan rugi kalo kita putus?!” Mendengar itu pasti anda langsung nge-block dan memusnahkan semua kemungkinan komunikasi dengannya.  Tidak hanya Pak Jokowi, Menteri Luar Negeri kita kian intens keep in touch dengan Julie Bishop (Menteri Luar Negeri Australia) dimana keduanya terus bernegosiasi soal hukuman mati itu. Mungkin keduanya selalu WA-an, Line-an, atau Skype-an tiap harinya. Namun, baik Pak Jokowi maupun Bu Retno stance-nya firm : hukuman mati tetap akan dijalankan, sebagai bentuk dari kedaulatan politik kita!

Demonstrasi dan tanda pagar di twitter kian menggelora menuntut terpidana mati dari kedua negara agar segera dieksekusi. Masyarakat juga ibarat amplifier bagi Pak Jokowi dan Bu Retno dengan menggelorakan wacana eksekusi mati sebagai bentuk kedaulatan kita. Mereka geram dan kesal terhadap tindakan pejabat berwenang di negara seberang  yang terus berusaha memengaruhi stance pemerintah. Bagi mereka ini, kedaulatan adalah sesuatu yang final dan tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Mungkin Tuhan termasuk di dalamnya.

Inilah yang menjadi masalah. Kedaulatan sejatinya bukanlah sesuatu yang bersifat final, mutlak, dan tak dapat diganggu gugat. Kedaulatan juga bukanlah suatu material yang kita punya hak milik atas material tersebut 100%. Lebih-lebih kedaulatan eksternal, melekatnya konsep tersebut pada suatu negara dan segala konsekuensinya sangat terkait dengan pengakuan dari negara lain. Ketika kita yakin bahwa dengan kedaulatan, kita tidak boleh dipengaruhi oleh negara lain, buang jauh keyakinan anda itu. Negara-negara niscaya saling memengaruhi. Oleh karenanya, tidak ada kedaulatan mutlak sebagaimana anda bayangkan selama ini.

Apa yang disampaiakan Pak Jokowi dan Bu Retno sebenarnya bisa kita maknai secara lain. Ketika mereka mengatakan bahwa “kita negara berdaulat” bisa jadi makna terpendam yang tidak tersampaikan adalah kita bukan negara berdaulat. Atau yang paling moderat adalah selama ini, kita bukanlah negara yang berdaulat. Mari kita berimajinasi lagi. Ketika anda tengah menulis status “Aku pasti bisa!” sebenarnya ada keraguan yang begitu besar di diri anda tentang kemampuan anda untuk melakukan sesuatu. Bisa jadi apa yang disampaikan adalah untuk menutupi apa yang tidak tersampaikan.

Dengan demikian, yang ingin saya sampaikan adalah there’s no such full sovereignty! Kedaulatan erat kaitannya dengan relasi kita dengan negara lain. Kedaulatan selalu berada dalam dinamika dan transformasi dalam perjalanan sejarah. Mari kita dinginkan kepala, bersihkan hati, dan lebarkan senyum. Karena ketika kita menuntut pemerintah untuk menyelamatkan TKI kita yang akan dipancung di Arab Saudi karena kedapatan membunuh majikannya, kita tengah menyuruh pemerintah kita untuk melanggar kedaulatan negara lain.

Oh ya, jangan lupa menjaga helm dan pacar anda baik-baik!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s