Islam Moderat

Kita yang hidup di era pasca 9/11 hampir bisa dipastikan cukup akrab dengan istilah Islam Moderat. Istilah ini terus menerus diucapkan, ditampilkan, ditulis, dan diajarkan oleh pelbagai macam aktor. Mulai dari pejabat, ulama, aktivis, hingga media masa. Seperti yang sudah-sudah, istilah yang menggejala di Indonesia biasanya meninggalkan celah yang besar yakni pemahaman dari kita mengenai istilah itu sendiri. Kita misalnya, sering mengucap komunisme, neoliberal, pluralis, globalisasi, good governance, dan macam-macam istilah lain. Namun kita menerima istilah populer tersebut secara taken for granted tanpa mempermasalahkan apa sebenarnya makna dari istilah tersebut? Atau yang lebih canggih, apa akibat dari menggejalanya istilah tersebut? Tulisan ini setidaknya berusaha untuk menjawab pertanyaan yang pertama.

Bukan perkara mudah untuk mendefinisikan apa itu Islam moderat. Tidak ada kesepakatan antara para sarjana untuk menjelaskan bagaimana Islam moderat itu terlihat, bagaimana Islam moderat berperilaku, apa yang dipercayai oleh Islam moderat, dan bagaimana praktik keagamaannya. Alih-alih ada kesepakatan, sebagian kalangan menyangsikan keabsahan terminologi Islam moderat. Ada yang menganggapnya sebagai terminologi yang kontradiktif.[1] Ada juga yang menganggapnya sebagai mitos.[2] Lebih dari itu, acapkali kita jumpai artikel yang membahas Islam moderat tidak secara  tegas mendefinisikan apa itu Muslim moderat.

Salah satu sarjana yang berusaha mendefinisikan Islam Moderat adalah Andar Nurbowo. Menurutnya, secara sederhana, Islam moderat dapat didefinisikan sebagai paham teologi dan praksis Islam yang ramah, toleran, terbuka, dan menerima nilai-nilai universal demokrasi.[3] Islam moderat tambahnya, adalah Islam yang bersahabat dengan peradaban lain, termasuk barat.[4] Ada kesan yang kuat dari Nurbowo untuk menunjukkan adanya dikotomi dalam Islam. Dalam hal ini, Nurbowo menjelaskan bahwa Islam radikal sebagai negasi dari Islam moderat yang harus dilawan.

Selain Nurbowo, Rabasa dan kawan-kawan juga berusaha mendefinisikan Islam moderat. Menurut mereka, Islam moderat adalah mereka yang melaksanakan dimensi kunci dari budaya demokratis.[5]   Dalam hal ini, Islam moderat mendukung terlaksananya demokrasi dan HAM yang diakui secara internasional, penerimaan terhadap sumber hukum nonsektarian, penghormatan terhadap hak wanita dan agama minoritas, serta sikap oposisi terhadap terorisme dan kekerasan.[6] Sama seperti Nurbowo, Rabasa dan kawan-kawan memiliki kecenderungan untuk membagi Islam secara dikotomis. Rabasa dan kawan-kawan juga menganggap Islam radikal sebagai negasi dari Islam moderat yang harus dilawan. Baik Nurbowo maupun Rabasa dan kawan-kawan, keduanya sepakat bahwa cara untuk melawan Islam radikal adalah dengan memperkuat Islam moderat itu sendiri.[7]

[1] Lihat R. Ibrahim, ‘Why ‘Moderate Islam’ is an Oxymoron’, Middle East Forum (daring), 24 Maret 2014, <http://www.meforum.org/3802/moderate-islam>, diakses pada 14 Januari 2014.

[2] Lihat B. Shah, ‘The Myth of the Moderate Muslim’, New Statesmen (daring), 6 Oktober 2014, <http://www.newstatesman.com/religion/2014/10/myth-moderate-muslim>, diakses pada 14 Januari 2014.

[3] A. Nurbowo, ‘Islam, Sekularisme, dan Demokrasi di Eropa’, Prisma, Vol 29, No 4, Oktober 2010, Hal. 55.

[4] A. Nurbowo, Hal. 55.

[5] A. Rabasa, C. Benard, L.H. Schwartz, dan P. Sickle, Building Moderate Muslim Networks, RAND Corporation, Pittsburgh, 2007, Hal. 66.

[6] A. Rabasa, C. Benard, L.H. Schwartz, dan P. Sickle, Hal. 66-68.

[7] Lihat A. Nurbowo, Hal. 56 dan  A. Rabasa, C. Benard, L.H. Schwartz, dan P. Sickle Hal. Xii.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s