Merajut Ukhuwah di Negeri dengan Minoritas Muslim

Ukhuwah Islamiyah merupakan salah satu konsep dan prinsip penting dalam Islam. Mengacu pada pendapat Hasan Al Banna, Ukhuwah Islamiyah merupakan keterikatan jiwa dan hati satu sama lain dengan ikatan aqidah. Pendiri Ikhwanul Muslimin ini bahkan mengatakan bahwa Ukhuwah Islamiyah merupakan suatu konsepsi nasionalisme bagi ummat Muslim. 

“Nasionalisme yang menghimpunkan semua manusia dan menembus segala batas. Seluruh bumi Allah adalah tanah air seorang Muslim. Seorang Muslim harus memperjuangkan tanah airnya dari segala bentuk penindasan.” [1]

Konsepsi ukhuwah dengan kata lain tak ubahnya raison d etre bagi ummat Muslim untuk melakukan pelbagai macam tindakan dalam rangka mewujudkan solidaritas sesama Muslim. Konsepsi ini menjadi pendorong bagi ummat Muslim di seluruh dunia untuk membebaskan saudaranya dari segala macam penindasan.

Pendapat Hasan Al Banna tersebut tidak bisa dilepaskan dari Al Quran dan As Sunah yang merupakan landasan hukum utama bagi kaum Muslimin. Dari kedua sumber tersebut, kita akan mendapati ayat-ayat maupun hadist yang menjelaskan bahwa ummat Muslim adalah suatu kesatuan. Dalam Al Quran Surat Al-Anbiyaa ayat 92 misalnya Allah berfirman bahwa “Ummatmu ini adalah ummat yang satu dan Aku adalah Tuhanmu”. Selain itu Surat Al-Hujuraat ayat 10 Allah berfirman “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah  antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Rasulullah Muhammad SAW tidak lupa menegaskan betapa pentingnya ukhuwah. Muhammad pernah menyampaikan bahwa, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal berkasih sayang dan saling mencintai adalah laksana satu tubuh. Jika satu bagian merasakan sakit, maka bagian yang lain akan merasakan sakit pula.” (H.R. Bukhari Muslim)

Sekarang, kita jalan-jalan dari tinjauan singkat mengenai konsep ukhuwah. Ya, jalan-jalan. Mengapa harus jalan-jalan? 

Jalan-jalan adalah salah satu upaya saya untuk mendapat pemahaman empirik dari ayat-ayat maupun hadits dan ijtihad para ulama mengenai Islam. Sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat al-‘Ankabut (29) ayat 20. “Katakanlah : Berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.  Dengan jalan-jalan, saya juga berusaha untuk mensyukuri nikmat dari Allah. Karena saya dapat melihat bagaimana indahnya penciptaan Allah melalui segala keelokan alam di pelbagai tempat, namun juga indahnya penciptaan yang berwujud manusia. Manusia sebagai insan kamil ini diberi akal yang mendorong dirinya untuk mewujudkan penciptaan-penciptaan lain yang sering membuat kita takjub. Budaya yang bisa berupa bahasa, aksara, pakaian, seni musik, seni tari, seni arsitektur, dan seni-seni lainnya, membuat kita terbuai akan keindahan duniawi yang diciptakan manusia sendiri. 

Kali ini, saya berkesempatan untuk berjalan-jalan ke Myanmar atau yang biasa kita kenal dengan Burma. Negara di ujung barat Asia Tenggara. Negara yang sedang mengalami transisi demokrasi dari rezim junta militer.

Sedari awal meniatkan diri untuk berangkat, tidak pernah muncul dalam benak saya mengenai keislaman. Sama sekali. Nihil. Negara ini memang tidak identik dengan Islam. Kecuali kasus penindasan terhadap masyarakat minoritas Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine. Kasus penindasan ini malah bikin saya was-was. Bagaimana tidak? Muka saya yang 11-12 dengan etnis Rohinya, serta tampilan jenggot saya yang panjang menimbulkan prasangka bahwa saya akan mendapat masalah dengan imigrasi Myanmar. Yang terbersit adalah saya akan dicap sebagai orang Indonesia yang berintensi untuk menjadi milisi yang membantu perjuangan kaum Rohingnya. Sekitar 5 hari sebelum keberangkatan, dengan berat hati saya membersihkan tampilan muka saya supaya terhindar dari masalah di Bandara Internasional Yangon. Saya tidak ingin dideportasi secara konyol! *Istighfar*

Myanmar lebih identik dengan Budha yang memang mayoritas.  Budha bahkan menempatkan diri sebagai lokomotif kebudayaan Myanmar. Bangunan-bangunan megalitik seperti pagoda berlapiskan emas ada hampir di tiap sudut kota. Bangunan yang menurut saya mirip tumpeng di balik ini tetap menjadi pusat spiritualitas yang sakral bagi kaum Budha di sana. Sopir taksi yang mengantar saya ke Shwe Dagon bercerita bahwa kaum Budha yang masuk ke pagoda kelas wahid ini tidak dikenakan biaya. Dia bahkan mendorong saya dan nDembiq (teman seperjalanan saya) untuk menelusupkan diri di antara mereka daripada harus membayar tiket sebesar 50 USD! hahahaha… Jika berkunjung ke Myanmar, bisa dipastikan bahwa turis meniatkan dirinya untuk mengunjungi pagoda-pagoda tenar. Saya berani bertaruh, hampir tidak ada turis yang berniat untuk mengunjungi rumah ibadah lain, apalagi masjid. 

Tapi, identitas saya sebagai seorang Muslim secara alamiah membentuk prilaku saya selama di sana. Pertama, soal makanan. Di Myanmar, anjing-anjing bertebaran. Mungkin seperti ayam, bebek, atau kambing di sudut-sudut kampung dan desa di Indonesia. Early warning sistem diri saya sontak bergemuruh. Kamu harus hati-hati fan! Ini adalah pertanda bahwa soal kesucian jadi masalah besar. Apalagi soal halal tidaknya makanan. Saya beruntung karena selama di Myanmar saya mengikuti sebuah konferensi. Panitia menyediakan makanan halal bagi kaum muslim. Meskipun begitu, saya sempat salah ambil makanan dan terlanjur saya makan sampai habis ketika saya mengetahui bahwa itu bukan makanan halal. *istighfar lagi* Selain itu, hotel tempat saya menginap selalu menyediakan roti sebagai breakfast. Sayapun tidak perlu mengeluarkan sangu abon dari Indonesia.😀

Kedua, soal sholat. saya tidak tahu secara pasti kapan waktu sholat subuh, dhuhur, ashar, maghrib, dan Isya’ di sini. Yang saya bisa lakukan cuma melihat pertanda alam, dengan patokan-patokan sebagaimana yang biasa di Indonesia untuk menentukan kapan saya harus Sholat. Masalah utama adalah, di mana saya harus sholat? Ketika di hotel, bukanlah menjadi masalah karena ruang privat yang saya sewa menjamin keamanan saya untuk beribadah. Namun, bagaimana jika saya sedang berkegiatan di luar? Masalah utama adalah ketika konferensi itu sendiri. Tidak ada sedikitpun ruang untuk sholat! Saya terpaksa sekali waktu kehilangan sholat karena itu. *tobat*

Namun, saya rasa persoalan tempat hanya terjadi di konferensi. City sight seeing di Yangon menyadarkan saya bahwa Masjid bukanlah bangunan yang terlalu susah dicari sebagaimana di Bali. Bisa saya katakan, di sudut-sudut penting Yangon, khsusunya kota tua, banyak sekali masjid! Entah itu di depan Pasar Aung San yang menjadi jujugan utama pemburu oleh-oleh, ataupun di dekat City Hall, keajaiban Allah ada di sana! 

Saya sempat dua kali menyempatkan sholat di Masjid di Yangon. Yang pertama di dekat hotel saya. Dari luar, tampilan masjid tampak tidak mbejaji. Bayangkan anda sedang berada di daerah kumuh, Jalan Gembong Surabaya. Dengan bangunan-bangunan tinggi, tua, reot, dan kusam, terselip satu bangunan masjid dengan tampilan luar yang tidak jauh berbeda dengan bangunan sekitarnya. Saya disapa seorang penjaga penitipan sepatu di depan masjid, dengan kondisi yang tidak kalah memprihatinkan. Feeling saya, “wah masjid di sini nggak jauh beda sama di Indonesia. Sepatu adalah barang yang jadi incaran.” Saya pun bertanya dengan bahasa inggris dan bahasa isyarat karena ternyata penjaga sepatu itu tidak bisa bahasa inggris. Saya ditunjukkan di mana tempat wudhu dan saya terperanjat! Tempat wudhu di masjid itu sangatlah bagus dan bersih. Jauh dari kondisi tempat wudhu masjid-masjid di Jogja yang memprihatinkan. Di sana, orang berwudhu sambil duduk karena telah disediakan kursi permanen di depan kran air. Di setiap kran, juga disediakan sabun untuk membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di tubuh. Di UGM, tidak ada yang seperti ini. hahaha. 

Yang membuat saya lebih heran adalah kondisi bangunan utama masjid. Sangat indah! Keramik cemerlang menutupi tembok. Ukiran-ukiran kaligrafi yang tertempel di kayu menghiasi mihrab. Mimbarnya gagah. Sama seperti mimbar-mimbar masjid NU. Karpetnya baru, tebal, dan harum! Ac split dan stand melengkapi ruangan yang menjadi tempat mengingat dan menghamba pada Allah ini. Saya termasuk orang yang merugi karena tidak khusyu’ sholat di sana. Rokaat demi rokaat yang saya jalani belum mampu menghilangkan rasa heran bahwa ada yang semacam ini di Myanmar!

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. al-Hujurat [49]: 13) 

Ayat di atas menjadi dasar saya untuk memberanikan diri bertanya pada saudara sesama muslim di mana tempat makanan halal. Malam itu, perut kami keroncongan stadium akhir. Mereka tidak mengerti apa yang saya katakan dalam bahasa inggris. Sampai pada suatu ketika, salah seorang di antara mereka menjawab pertanyaan kami dan menjadi translator dengan kelompok muslim yang saya temui. Hati saya tergetar ketika di tanya, “Are You Moslem?” “Yes sir! We are hungry and we want to eat halal food!” Orang ini, memimpin diskusi kecil dengan kelompoknya, seraya berunding siapa yang harus mengantarkan kami dan kemana kami harus di antar.

Pilihan jatuh pada seorang pria separuh baya bernama Yunus. Kami mengikuti kemana Yunus pergi seraya memasrahkan diri pada Allah. Yunus membawa kami melintasi slum area Myanmar. Menyebrangi stasiun di sana yang sangat kumuh via jembatan penyebrangan,  dan memasuki area perumahan rakyat. Di sana, perumahan rakyat berbentuk flat dengan 8 – 10 lantai. Yunus sendiri tinggal di lantai 8. Saya cuma bisa mengingat-ingat kemana saya belok supaya saya bisa kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan, kami menggunakan bahasa isyarat karena Yunus tidak bisa berbahasa Inggris. Yang paling berkesan, Yunus melakukan peregangan otot sembari memandu perjalanan kami. Peregangan otot itu dilakukan di tepi jalan protokol dengan truk besar yang acapkali melintas dan kami melawan arus! Kami gumun dengan tingkah lakunya! hahahaha.. 

Setelah sampai di salah satu tempat makan, kami harus berpisah dengan Yunus. Saya ucapkan “Jazakumullahu khoiron katsir” padanya. Semoga kita bertemu di surga Allah nanti. Selain karena kebaikannya memandu jalan, saya juga diantar ke tempat makan yang enak. Kaki lima di tengah pasar memang. Tapi kudapannya seperti gulai ikan dan rendang masakan padang Indonesia. Sedap, pedas, dan nikmat! Harganya murah pula. Dua orang dengan nasi yang banyak, kami hanya menghabiskan sekitar 17.000 rupiah. 

Sepulangnya dari temat makan, saya terus bersyukur pada Allah. Hamdallah dan tasbih menggema di hati saya. Inikah keindahan dari ukhuwah? Selama ini saya cuma bisa bayangkan dan hafalkan saja. Atau, saya melihat sekelompok tarbiyah berteriak ukhuwah dan melakukan demonstrasi mendukung kemerdekaan Palestina. Atau, hate speech terhadap kafir liberal, yahudi zionis yang terus menyerang Islam di pelbagai belahan dunia. Tapi, pengalaman di Yangon menyadarkan saya betapa tingginya nikmat ukhuwah itu. Bukan dalam titik konflik, tapi titik kerjasama. Dari titik-titik yang mungkin orang anggap hal sepele. Melalui ukhuwah, kendati berbeda bangsa dan budaya, kami masih bisa bersatu dan saling mengenal. Bersatu untuk menegakkan perintah Allah. Karena ukhuwah itu, hati saya seketika tentram. Dan menurut orang Jawa, ketentraman hati adalah kemulyaan hidup. Subhanallah!

[1] A. J. Prabowo, 10 Isu Global di Dunia Islam, NFP, Yogyakarta, 2012,  Hal. 48.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s