Perilaku Pemilih Australia Kontemporer : Memahami Kemenangan Julia Gillard

Oleh M. Irfan Ardhani 

Dalam memahami perilaku pemilih pada pemilihan umum Australia kontemporer, berkembang argumentasi bahwa ekonomi merupakan isu utama yang sangat berpengaruh. Isu ekonomi dianggap telah menjadi arena kontestasi wacana yang bisa menjadi sarana efektif bagi kontestan pemilu untuk memengaruhi pemilih agar memberikan suaranya pada mereka. Kemenangan Koalisi Liberal-Nasional dalam Pemilihan Umum Australia tahun 2013 misalnya, acapkali dianggap sebagai kemenangan wacana ekonomi yang mereka usung. Koalisi Liberal-Nasional dalam Pemilihan Umum 2013 di Australia tersebut sekaligus menandai berakhirnya kekuasaan Partai Buruh dengan orientasi pengelolaan ekonomi yang antagonistik terhadap Koalisi Liberal-Nasional. Setelah tujuh tahun berkuasa, Partai Buruh hanya berhasil meraih 57 kursi sementara Koalisi Liberal-Nasional mendapat 87 kursi. Sebagaimana diamanatkan oleh Konstitusi Australia, kemenangan Koalisi Liberal-Nasional berarti hak atas kursi perdana menteri. Kemenangan ini seakan menegaskan bahwa siapa yang mampu memenangkan kontestasi isu ekonomi, akan menjadi pemenang dalam Pemilihan Umum Australia.

Oleh karena itu, esai ini akan mendiskusikan pengaruh isu ekonomi terhadap perilaku pemilih Australia kontemporer. Alih-alih menyebut ekonomi sebagai isu utama, penulis lebih memilih untuk menyebut ekonomi sebagai isu penting dalam memengaruhi perilaku pemilih. Penulis berargumen bahwa pengaruh terhadap perilaku pemilih tidak bisa disimplifikasi berdasarkan isu ekonomi semata. Perilaku pemilih ditentukan oleh faktor yang beragam. Di samping itu, dalam masyarakat modern yang kompleks, negara tidak hanya dihadapkan pada isu ekonomi. Banyak isu lain yang lebih memengaruhi perilaku pemilih dalam Pemilihan Umum Australia 2010. Tulisan ini akan mengusung kemenangan Partai Buruh dalam Pemilihan Umum Australia 2010 sebagai studi kasus yang menjelaskan bahwa isu ekonomi tindak menjadi isu utama yang memengaruhi perilaku pemilih di Australia beberapa tahun terakhir.  

Memenangkan Pemilu

Memenangkan pemilu berarti mendapatkan suara terbanyak dari pemilih. Hal tersebut mendorong kita untuk membahas seluk beluk upaya yang dilakukan oleh kandidat ataupun partai pengusungnya dalam memahami dan membangun sistem kepercayaan yang saling menguntungkan dengan pemilih.[1] Hal tersebut biasanya tercermin melalui strategi politik untuk memenangkan pemilu.

Strategi yang disusun untuk memenangkan pemilu, menurut Firmanzah terbagi atas tiga tahapan. Pertama, kontestan harus memahami perilaku pemilih. Kedua, kontestan harus mampu menyusun program kerja yang sesuai dengan kebutuhan pemilih dan juga membangun citra positif di mata pemilih. Ketiga, kontestan harus memaksimalkan kesempatan kampanye untuk menegaskan dan mengingatkan pemilih akan program kerja yang diusung oleh kontestan.

Memahami pemilih merupakan langkah terpenting untuk menentukan strategi pemenangan pemilu. Dengan memahami rasionalitas pengambilan keputusan dari pemilih, kontestan bisa menyusun strategi yang tepat guna memenangkan pertarungan politik. Menurut Firmanzah, pemilih terbagi ke dalam konstituen, pemilih non-partisan, dan pemilih partai lain.[2] Dalam menentukan pilihannya, menurut Firmanzah pemilih terbagi ke dalam dua orientasi, yakni orientasi problem solving dan orientasi  ideologi. Pemilih yang mengevaluasi dan megnanalisis kontestan berdasarkan ‘policy-problem-solving’ terkait erat dengan konsep position yang dicanangkan oleh Stokes.[3] Konsep position mengacu pada sejauh mana pemilih menilai kedekatan pendapatnya dengan kebijakan yang akan dilakukan atau ditawakan oleh kontestan. Sementara itu, orientasi ideologi menjelaskan bagaiamana pemilih cenderung memilih partai atau kontestan yang memiliki kesamaan ideologi dengan mereka.[4]

Berpolitik berarti menjual ide dan gagasan pada masyarakat. Menjual ide dan gagasan pada masyarakat berarti berusaha untuk menyusun program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Mencoba untuk memahami apa yang sedang dihadapi, mengapa hal tersebut muncul serta bagaimana efeknya, membuat program kerja yang akan disusun menjadi akurat, fokus, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas menjadi kunci penting dalam strategi pemenangan pemilu. Kemudian,  ketika semua kontestan membeberkan rancangan program kerja mereka, maka partai membutuhkan citra untuk membedakannya dengan partai yang lain. Citra politik adalah konstruksi atas representasi dan persepsi masyarakat akan suatu kontestan mengenai semua hal yang terkait dengan aktivitas politik. Citra positif, cenderung akan memberi efek positif terhadap capaian suara. Sebaliknya, citra negatif cenderung memberi efek negatif terhadap capaian suara.

Setelah memiliki program kerja dan membangun citra positif, kampanye dibutuhkan oleh kontestan untuk memamparkan program kerja dan memengaruhi opini publik sekaligus memobilisasi masyarakat agar memberikan suara kepada mereka sewaktu pencoblosan. Pada dasarnya, dalam kampanye terjadi proses komunikasi politik antara kontestan dan pemilih. Dalam kampanye, partai juga membangun citra politik mereka baik secara internal maupun eksternal. Kampanye ini seyogianya tidak hanya dilakukan dalam jangka pendek, seperti dalam jadwal yang telah ditetapkan oleh komisi pemilihan, melainkan secara konsisten dalam jangka waktu yang panjang. Tujuannya adalah menciptakan memori kolektif dalam masyarakat sehingga mendorong masyarakat untuk mendukung kontestan yang diusung.

Perilaku Pemilih Australia

Salah satu ilmuwan politik yang berusaha menjelaskan perilaku pemilih di Australia adalah Dean Jaensch. Profesor Ilmu Politik dari Universitas Flinders ini menjelaskan bahwa pada dasarnya, perilaku pemilih di Australia konsisten. Dalam hal ini, perilaku pemilih ideal sebagaimana dibayangkan oleh  theorist demokrasi klasik – dimana keputusan untuk memberikan suara oleh pemilih didasarkan pada pertimbangan dan ajudikasi rasional – adalah minoritas dibanyak negara demokratis, tidak terkecuali Australia.[5] Argumen Jaensch didasarkan pada pola hasil pemilu Australia dimana mayoritas pemilih menunjukkan stabilitas dalam dukungannya terhadap partai politik.[6]

Dalam studi mengenai perilaku pemilih Australia, Jaensch menegaskan bahwa loyalitas terhadap partai adalah faktor utama yang membuat seorang individu untuk menentukan pilihan. Menurut Jaensch, identifikasi terhadap partai adalah produk dari kuatnya sosialisasi politik di keluarga, pengaruh faktor sosial, dan tendensi yang jelas mengenai komitmen terhadap partai yang ditularkan dari generasi ke generasi.[7] Australia memiliki kebiasaan memilih yang relatif khas dibanding dengan negara-negara barat yang dijadikan laboratorium utama riset mengenai perilaku pemilih. Pendapat Jaensch dikuatkan oleh riset yang dilakukan Shane P. Singh dari Michigan State University pada 2009 menegaskan bahwa partisanship merupakan ciri utama dari perilaku pemilih di Australia.[8]

Kendatipun begitu, Jaensch menjelaskan bahwa dalam setiap pemilihan umum, ada dua faktor yang bisa jadi memengaruhi perilaku pemilih, yakni faktor jangka panjang dan faktor jangka pendek. Dalam kasus Australia, faktor jangka panjang diantaranya adalah identifikasi pribadi terhadap partai politik tertentu, efek sosialisasi politik dalam kelompok sosial dimana individu terafilisasi : kelas, pekerjaan, agama, ras, dan tempat tinggal (urban atau rural).[9] Di sisi lain, faktor jangka pendek juga memengaruhi perilaku pemilih. Jaensch menjelaskan bahwa kita tidak boleh luput dari perhatian terhadap rangkaian kejadian, isu, personalitas dan penekanan terhadap kampanye pemilu, dan usaha untuk membangun hal tersebut terletak pada upaya individual.[10] Beberapa faktor seperti isu yang dibawa oleh partai; nature dan gaya kampanye; peran dan dampak dari pemimpin partai; serta kejadian domestik maupun internasional memiliki pengaruh terhadap keputusan final dari para pemilih. Faktor jangka pendek ini selalu muncul di tiap pemilu dan memang acapkali menjadi penentu kemenangan kontestan di pemilu tertentu.

Pemilu 2010 : Pertarungan Dua Kandidat Baru

Partai Buruh yang dipimpin oleh Julia Gillard berhasil memenangi pemilu 21 Agustus 2010. Ketika itu, Partai Buruh mampu mengalahkan koalisi Liberal-Nasional yang dipimpin oleh Tony Abbott. Pemilu 2010 bisa dibilang menampilkan hasil yang khas. Baik Partai Buruh, maupun koalisi Liberal-Nasional mendapat 72 kursi di Parlemen Australia. Hasil tersebut menghasilkan kondisi hung parliament pertama sejak 1940 sehingga 6 kursi sisanya akan menentukan kondisi parlemen.[11] Akhirnya, 4 kursi yang salah satunya dari Partai Hijau bergabung dengan Partai Buruh sehingga menghasilkan konfigurasi 76 kursi untuk pemerintah dan 74 kursi untuk oposisi.

Julia Gillard menjalani pemilihan umum dalam posisinya sebagai Perdana Menteri Petahana. Naiknya Julia Gillard sebagai perdana menteri merupakan hasil dari mekanisme internal Partai Buruh. Perdana Menteri Kevin Rudd, yang memenangkan Pemilihan Umum 2007, pada 24 Juni 2010 harus digantikan oleh Gillard melalui ‘bloodless Parliament House Coup’.[12] Penggulingan Kevin Rudd dari posisinya sebagai Ketua Partai Buruh sekaligus sebagai Perdana Menteri merupakan upaya dari internal Partai Buruh untuk menyelamatkan masa depan partai dalam pemilihan umum. Hal ini disebabkan oleh buruknya performa pemerintahan Rudd dalam menangani beberapa permasalahan domestic dan internasional yang berujung pada merosotnya tingkat elektabilitas Rudd dan Partai dalam polling.[13]

Jika dibandingkan dengan pemilihan-pemilihan sebelumnya, pemilihan umum 2010 termasuk minim atensi masyarakat. Beberapa survey menunjukkan bahwa ketertarikan masyarakat terhadap pemilu 2010 tergolong rendah.[14]  Menurut McAllister, Bean, dan Pietsch, rendahnya atensi masyarakat disebabkan oleh kurangnya sorotan media serta mereka tidak terlalu menyoroti perdebatan kebijakan. Di sisi lain, kedua kandidat utama yang diusung, yakni Julia Gillard dan Tony Abbott kurang begitu popular di mata masyarakat.

Kampanye : Pertarungan Dua Kandidat dalam Isu dan Citra

Menyadari hal tersebut, masa kampanye menjadi ajang penting bagi kontestan untuk memperkenalkan diri dan meyakinkan masyarakat untuk memilih kontestan tersebut. Perdana Menteri petahana mengumumkan bahwa pemilu akan dilaksanakan pada 21 Agustus 2010 pada 17 Juli 2010. Hal tersebut berarti semua kontestan memiliki waktu lima minggu untuk melangsungkan kampanye. Kendatipun demikian, hampir semua dari kontestan pemilu tidak mengumumkan sedari awal kampanyenya. Rerata dari mereka meresmikan kampanyenya di minggu-minggu terakhir  menjelang pemungutan suara.

Kampanye yang dilangsungkan oleh Partai Buruh dilatar belakangi oleh friksi internal di dalam partai seiring ‘kudeta’ terhadap posisi Kevin Rudd. Dengan dihadapkan pada permasalahan tersebut, Gillard diharuskan menjadi sosok baru yang mampu mengubah citra partai dengan kepemimpinannya yang tegas namun disukai. Dalam kampanye, Gillard dan Partai buruh mengusung slogan ‘Moving forward Australia’. berjalannya waktu, slogan tersebut mendapat cacian bertubi-tubi dari koalisi. Gillard dianggap tidak merepresentasikan keberlanjutan dalam tubuh Partai Buruh. Permasalahan berlanjut karena Gillard dihadapkan pada persoalan terbongkarnya diskusi internal partai mengenai dana pensiun. Setelah itu, Gillard mengubah slogan menjadi ‘the real Julia’ sekaligus mengganti formasi tim kampanyenya. Hal ini justru mengundang makin banyak cercaan dari koalisi karena Gillard selama ini dianggap palsu. Dalam pemilu, Gillard dan Partai Buruh terlihat berupaya menggarap pemilih yang berorientasi policy problem-solving dengan fokus terhadap isu pembangunan National Broadband Network (NBN) agar mencakup seluruh region di Australia dan koneksinya lebih cepat; kebijakan pendidikan melalui perbaikan sekolah; dan pengelolaan kemakmuran melalui National Disability Strategy.[15]

Di sisi lain, koalisi juga dihadapkan pada persoalan internal dimana dalam waktu yang relatif singkat, mereka harus berganti tiga kali pimpinan. Pimpinan terkahir, Tony Abbott, terpilih untuk menjadi kandidat perdana menteri yang di usung koalisi. Slogan yang mereka usung adalah “End the waste, payback the debt, stop the big new taxes, stop the boats, and struggling families”. Dalam kampanyenya, terlihat upaya koalisi untuk mendekati pemilih orientasi policy problem solving. Kampanye yang dilakukan oleh koalisi sendiri menekankan pada persona Tony Abbott sebagai orang yang maskulin karena hobinya berolahraga; pemotongan budget di bidang birokrasi dan menghentikan perjuangan Australia untuk meraih kursi anggota tidak tetap dewan keamanan PBB; serta memperpanjang welfare quarantine arrangement, menghentikan violent gangs yang meresahkan masyarakat serta perbaikan pendanaan bagi sekolah.[16] Di samping itu, koalisi juga menegaskan posisinya untuk mengubah kebijakan mengenai pencari suaka melalui konsep stop the boat sembari membuka kembali solusi Nauru.

Penentu Kemenangan Buruh

Dalam usaha untuk menjelaskan kemenangan Julia Gillard di pemilu 2010, McAllister, Bean, dan Pietsch telah melakukan riset yang cukup komprehensif. Melalui riset ini, mereka menjelaskan bahwa kemenangan Gillard sangat dipengaruhi oleh posisi dan rencana kebijakannya terhadap isu-isu yang menghangat selama kampanye. Mereka melakukan riset yang cukup detail dengan membandingkan bagaimana persepsi dan kecenderungan dukungan masyarakat terhadap posisi kontestan ke masing-masing isu. Riset ini menunjukkan bahwa isu ekonomi bukan merupakan isu utama yang memengaruhi perilaku pemilih Australia pada pemilu 2010. Isu-isu jangka pendek, seperti gender malah menjadi penentu kemenangan Gillard.

Menurut riset yang dilakukan oleh McAllister, Bean, dan Pietsch, setidaknya ada beberapa isu yang mengemuka semasa pemilu, yakni kesehatan, pengelolaan ekonomi, pendidikan, perubahan iklim, dan perlindungan perbatasan.[17] Namun demikian, masyarakat memiliki sendiri isu-isu yang menjadi prioritasnya. Dalam hal ini, tiga isu menjadi isu prioritas utama yakni kesehatan, pengelolaan ekonomi, dan pendidikan.[18] Hasil riset menunjukkan bahwa tidak ada kandidat yang mendominasi keunggulan di isu-isu tersebut. Satu sama lain saling unggul di isu-isu yang berbeda.

Dalam bidang kesehatan, survey riset menunjukkan Partai Buruh unggul dibanding koalisi dengan 36% suara.[19] Dalam hal ini, Program Medicare yang diusung oleh Gillard menekankan pada pemberian jaminan kesehatan terhadap masyarakat. Di samping itu, pemerintah mengalokasikan dana yang relatif besar untuk kesehatan. Dana tersebut akan digunakan untuk operasionalisasi rumah sakit publik dan juga pelatihan tenaga keperawatan yang baru sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Australia. Sementara itu, jika Abbott terpilih, Abbott justru tidak akan melaksanakan program medicare sehingga pemerintah tidak mengalokasikan dana yang relatif besar terhadap kesehatan.

Di bidang pendidikan, survey riset juga menunjukkan keunggulan Partai Buruh dengan 41% suara.[20] Dalam hal ini, keunggulan Partai Buruh ditentukan oleh program perbaikan sekolah yang dicanangkannya. Namun, program ini juga menimbulkan kekecewaan masyarakat terhadap  karena dalam melakukan pembenahan sekolah, masyarakat merasa, program tersebut memiliki manajemen proyek yang kontroversial. Selain itu, dana yang dialokasikan dirasa terlalu besar untuk kualitas pengerjaan yang sangat buruk.[21]

Menariknya, riset yang dilakukan oleh McAllister, Bean, dan Pietsch menegaskan bahwa isu ekonomi merupakan isu minor dalam pemilu 2010. Mereka berpendapat bahwa masyarakat tidak fokus terhadap isu ini sebagaimana tercermin dalam hasil prioritas masyarakat. Menurut mereka, isu perekonomian tidak begitu penting karena ekonomi Australia yang telah mapan sejak tahun 1990-an. Sejak 1990-an Australia telah memasuki tahapan pertumbuhan ekonomi yang stabil. Selain itu, angka pengangguran tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara maju yang lain. Dalam konteks yang lebih kontemporer, Australia menorehkan prestasi dalam menghadapi krisis financial global 2008. Secara meyakinkan, Australia merupakan satu-satunya negara maju di dunia yang mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Menurut McAllister, Bean, dan Pietsch, kondisi tersebut membuat masyarakat Australia tidak pernah mengalami kesusahan karena krisis. Sehingga, upaya-upaya untuk mengkapitalisasi capaian Partai Buruh tidak berhasil mendapat simpati dari masyarakat. Kendatipun demikian, hasil survey riset menunjukkan bahwa dalam isu ekonomi Koalisi lebih unggul dengan 37% suara.[22]

Terpilihnya Julia Gillard sebagai Perdana Menteri Australia menunjukkan bahwa gender berpengaruh terhadap perilaku pemilih. Sebenarnya, wanita dicirikan sebagai pribadi yang lembut dan akomodatif sehingga tidak cocok untuk menghadapi dunia politik yang begitu maskulin dengan penuh intrik yang relatif kasar. Namun demikian, Julia Gillard melalui kepemimpinannya di Partai Buruh, mampu menunjukkan fakta yang sebaliknya.[23] Sebagai wanita, Gillard terlihat tangguh untuk menghadapi persoalan ‘kudeta’ terhadap Kevin Ruddd. Selain itu, gender affinity memiliki pengaruh yang menentukan dalam terpilihnya Gillard sebagai perdana menteri karena kelompok-kelompok wanita cenderung lebih memilih Gillard dibanding Abbott. Masyarakat Australia juga terdorong untuk membuat momentum bersejarah bagi Australia karena high profile candidacy dari seorang Gillard ini, berpadu dengan performanya sebagai pemimpin partai politik besar. Sehingga masyarakat merasa perlu untuk mendukung Gillard.[24]

Penutup

Isu ekonomi bukanlah isu utama yang memengaruhi perilaku pemilih Australia dalam beberapa tahun terakhir. Daripada menyebutnya sebagai isu utama, isu ekonomi lebih bisa disebut sebagai isu penting bersama isu-isu lainnya. Dalam tiap pemilu sendiri, perilaku pemilih Australia ditentukan oleh faktor jangka panjang yang khususnya berupa identifikasi terhadap partai tertentu dan jangka pendek bisa jadi berubah-ubah tiap pemilu. Dalam pemilu 2010, perilaku pemilih Australia lebih ditentukan oleh faktor jangka pendek, yang ditunjukkan oleh beberapa preferensi policy problem solving. Di samping itu, faktor gender juga menjadi penentu kemenangan Partai Buruh terhadap koalisi. Namun demikian, kondisi hung parliament sebenarnya menunjukkan bahwa kesuksesan strategi politik di antara kedua kelompok berimbang.

 

 

 

                                                                                                                 

 

[1] Firmanzah, Marketing Politik, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2008, Hal. 48.

[2] Firmanzah, Hal. 86.

[3] Firmanzah, Hal. 104.

[4] Firmanzah, Hal. 107

[5] Mengenai warga negara ideal dalam pemilihan umum, Elcock pada 1976 memberi 4 kriteria, yakni adanya  political knowledge, political attitudes, political beliefs, dan political evaluations. Lihat D. Jaensch,  The politics of Australia, ‘Macmillan Education Australia’, South Melbourne, 1992, Hal. 402.

[6] D. Jaensch,  The politics of Australia, ‘Macmillan Education Australia’, South Melbourne, 1992, Hal. 402.

[7] D. Jaensch, Hal. 404.

[8] S.P. Singh, ‘The Dimension of Politics and Voter Behaviour in Preferential System : The Case of Australia’, Australian Journal of Political Science, Vol. 44, No. 3, September 2009, Hal. 430.

[9] D. Jaensch,  Hal. 407.

[10] D. Jaensch,Hal. 407.

[11] McAllyster, Bean, dan Pietsch, ‘Leadership Change, Policy Issues and Voter’, Australian Journal of Political Science, Vol. 47, No. 2, June 2012, Hal. 190.

[12] Holmes dan Fernandes, 2010 Federal Election : A Brief History, Parliament of Australia Library, Canberra, 2012, Hal. 13.

[13] Holmes dan Fernandes, Hal. 11-13.

[14] McAllyster, Bean, dan Pietsch, Hal. 198.

[15] Holmes dan Fernandes, Hal. 15.

[16] Holmes dan Fernandes, Hal. 20.

[17] McAllyster, Bean, dan Pietsch, Hal. 197.

[18]  McAllyster, Bean, dan Pietsch, Hal. 197.

[19] McAllyster, Bean, dan Pietsch, Hal. 197.

[20]  McAllyster, Bean, dan Pietsch, Hal. 197.

[21]  McAllyster, Bean, dan Pietsch, Hal. 197.

[22]  McAllyster, Bean, dan Pietsch, Hal. 203.

[23]  Denemark, Ward, Bean, ‘Gender and Leader Effects in the 2010 Australian Election’, Australia Journal of Political Science, Vol. 47 No. 4, Tahun 2012, Hal. 564.

[24]  Denemark, Ward, Bean, Hal. 564.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s