Adopsi Terminologi

“Ilmu perbandingan politik yang awalnya didominasi pendekatan legal-formal dirasa tidak mampu memenuhi tuntutan zaman. Ilmu perbandingan politik pada suatu ketika menggunakan disiplin ilmu lain untuk memahami fenomena politik yang terjadi di masyarakat, khususnya di negara baru. Disiplin ilmu antropologi misalnya, digunakan untuk menjelaskan bagaimana interaksi kekuasaan di suatu wilayah yang tidak didapati di dunia Barat.” (Disarikan dari kuliah Perbandingan Politik Prof. Dr. Yahya Muhaimin)

Belakangan, ada fenomena unik dalam publisitas politik di Indonesia. Tidak ada yang beda dari metodenya. Media melakukan interview dengan politisi mengenai permasalahan politik tertentu. Diolah di meja redaksi, hasil interview kemudian menjadi sebuah berita yang tersebar luas pada khalayak. Namun, yang menarik adalah bagaimana politisi itu mengungkapkan fenomena politik yang sedang terjadi. Tren yang sedang berkembang, mereka menggunakan istilah populer yang tidak lazim dalam pembelajaran dan diskursu ilmu politik. 

Jangan heran jika kita akan menemukan istilah sinetron politik, kelabilan politik, atau bahkan orgasme politik. Istilah-istilah yang terdengar bombastis itu belum pernah disebut atau diperkenalkan oleh ilmuwan politik di dunia barat — yang menjadi pusat perkembangan ilmu ini. Istilah nyeleneh itu juga tidak lazim karena mengadopsi terminologi ilmu yang jauh dari ilmu politik — seperti orgasme politik yang mengadopsi dari ilmu kedokteran mungkin– kendati terdengar tidak senonoh. 

Fenomena ini bisa dimaknai beragam. Tentu ada orang yang menganggap ini bukanlah hal yang merisaukan. Bahasa yang sifatnya arbiter mempersilakan penggunanya untuk menggunakan pilihan kata sesuka hatinya. Yang penting, maksudnya tersampaikan. Di sisi lain, orang menganggap bahwa para politisi sedang berusaha mencari popularitas. Mereka ingin menciptakan suatu tren yang melekat pada dirinya agar orang selalu ingat terhadap sosok politisi ini. Tentunya, demi elektabilitas di pemilu berikutnya. 

Adopsi terminologi ini juga bisa dimaknai sebagai kekhasan politik di Indonesia. Dalam hal ini, banyak fakta unik nan menarik yang tidak bisa kita sejajarkan dengan negara barat. Berbagai pertarungan politik entah itu di parlemen ataupun di arena lain rupanya kian menunjukkan tradisi khusus dengan bungkus dan fungsi baru. Tradisi itu bisa jadi terbangun secara sosial. Bagaimana realita sosial yang berkembang di tengah masyarakat membentuk perilaku dari para politisi. Realita sosial masyarakat yang setiap malamnya dipenuhi oleh tayangan sinetron di tv, realita bahwa dunia “intim” telah sebegitunya berubah dari hal yang tabu menjadi hal yang lazim untuk dibicarakan, dan masih banyak realita lain. Dengan demikian, penggunaan istilah nyeleneh itu menggambarkan sedikit bagian dari realita sosial yang tengah berkembang di masyarakat. 

Pada akhirnya, relativitas budaya tidak bisa dilepaskan dari ilmu politik. Karya klasik dari ilmuwan seperti Clifford Geertz –religion of Java– ataupun Ben Anderson –Power in Javanese Culture– menunjukkan betapa bangsa ini memiliki tradisinya sendiri. Tradisi itu, yang telah mengakar, secara empirik menunjukkan bagaimana masyarakat di nusantara bertahan hidup. Arah angin dalam segala perilaku ataupun budaya yang kini makin tertuju ke dunia barat harusnya tidak membuat kita berhenti, ataupun minder dalam memahami dan mengembangkan teorisasi yang sesuai dan telah terpatri dalam kehidupan bangsa. Fenomena baru yang muncul seperti penggunaan adopsi terminologi yang merupakan bukti terjadinya akulturasi dan asimilasi budaya mengingatkan betapa banyaknya fenomena baru yang menarik untuk diteliti. Penelitian itu bukan saja sumbangsih untuk perkembangan ilmu, tapi juga untuk memahami apa yang perlu dan apa yang kita butuhkan. Itu saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s