Setelah 11 tahun…

Aku masih ingat betul bagaimana Indonesia kalah dari Thailand dalam Final Piala Tiger — sekarang Piala AFF — dalam drama adu penalti di Gelora Bung Karno 2002 silam. Kiprah Indonesia dalam kejuaraan tersebut merupakan debutku sebagai pengamat dan penikmat sepakbola domestik — sesuatu yang dianggap banyak orang konyol dan kampungan. Dari kejuaraan itu pulalah aku mulai mencintai sepakbola dalam negeri yang penuh centang perenang. 

Final Piala Tiger 2002 juga mengajarkanku bagaimana harapan yang begitu tinggi pupus dalam satu rangkai peristiwa. Final itu juga memberikanku pengalaman berharga : melihat Timnas Indonesia kalah di tepi jurang kemenangannya. Cukup sakit rasanya waktu itu. Akupun harus merelakan persiapan UAS IPS untuk keesokan harinya tidak begitu maksimal. Demi Final Piala Tiger 2002. 

Sejak saat itu, satu persatu kesempatan Timnas untuk meraih gelar juara setelah masuk final juga pupus. Aku menjadi saksi bagaimana Timnas diperdaya oleh lawan-lawannya. Entah itu kandang, maupun tandang.

Final Piala Tiger 2004, Timnas asuhan Peter Withe harus bertekuk lutut pada Singapura. Mereka kalah baik itu di Jakarta, maupun di Singapura. 

Final Piala Tiger 2010, Timnas asuhan Alfred Riedl harus menyerah kalah terhadap negara tetangga Malaysia. Kalah 3-0 di leg pertama, Timnas (infotainment) hanya mampu menang tipis 2-1 di Jakarta. 

Final Sea Games 2011 di Jakartapun, Indonesia tidak mampu mempecundangi Negeri Jiran. Di hadapan publiknya, Indonesia hanya bisa menganga melihat gagahnya penendang Malaysia dalam adu penalti malam itu.

Namun demikian, harapan itu akhirnya terwujud. Bukan oleh Timnas Senior yang kian hari kian mendapat sorotan luas dari media masa. Bukan juga dari Timnas U-23 yang konon dilatih oleh arsitek bertangan dingin. Harapan itu diwujudkan oleh anak-anak muda bertalenta penuh tenaga yang mampu menggapai mimpinya. Sekelompok anak muda dengan umur yang tidak lebih dari 19 tahun. Sekelompok anak muda yang tidak hanya dilatih, namun juga dididik oleh seorang “guru” bernama Indra Sjafrie. Seorang guru yang telah berulang kali mempersembahkan trofi kelompok umur bagi Indonesia. Seorang guru yang rela tidak digaji demi berkibarnya sang merah putih. Seorang guru yang nyaris disingkirkan oleh kecongkakan sebagian pengurus oportunis PSSI. 

Anak-anak muda itu, akhirnya menurunkan hujan di ladang yang kering kerontang. Menghilangkan keretakan bangga sebagai bangsa. Memberikan asa untuk masa selanjutnya. 

Akupun berhitung selesai pertandingan semalam. Rupanya sudah 11 tahun aku menunggu Timnas meraih trofi yang kurekam dengan memori sendiri. Terima Kasih Garuda Jaya! 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s