Semacam Ahok

“Saya menghormati Pak Mochtar bukan karena beliau professor, tapi karena saya tahu beliau banyak baca” – Mas Awang.

Kelas Teori Hubungan Internasional B (THI B) kamis pagi itu memang bukanlah jadwal yang seharusnya. Pengampu kelas yang hari itu kebagian jadwal untuk membagikan ilmunya pada mahasiswa, Mas Awang, menegaskan kalau Senin sore bukanlah waktu yang pas untuk dia mengisi kelas. Sudah terlalu banyak jadwal untuk seminar dan diskusi yang menunggunya. Shit happens. Mas Awang dan Pak Dafri — duo pengampu kelas– rupanya telah bersepakat untuk membuat jadwal di kamis pagi permanen. Konsensus di antara keduanya jelas : Senin sore bukan waktu yang pantas — kendati Pak Dafri lebih menyoroti energi mahasiswa yang sudah di titik penghabisan.

Sudah bukan jadwal yang seharusnya, ketidaklaziman kelas THI B berlanjut dengan durasi yang tidak lebih dari 1 jam. Bertepatan dengan pembukaan Dies Natalis Fisipol, kelas ini harus susah payah mencari konsentrasinya di tengah suara jatilan yang membahana dan menggelegar. Dentuman bass drum yang diresonansikan oleh loud speaker cukup untuk mengaburkan suara Mas Awang dan mengacaukan perhatian mahasiswa.

Meskipun begitu, aku merasa bahwa kelas hari itu mahal harganya. Terbatasi oleh sempitnya waktu dan kecilnya kesempatan, Mas Awang memang pada awalnya berupaya untuk menyampaikan materi yang sudah dia siapkan melalui medium power point. Memang terlihat seperti metode kebanyakan dosen, namun kelas kali ini dibuat berharga oleh kejadian-kejadian impromptu yang terus berlangsung. Teguran pada yang datang terlambat dan motivasi untuk membaca. Kedua hal tersebut yang membuat kelas ini berharga.

Mas Awang terbilang datang tepat waktu, sekitar 09.30. Realitanya, banyak mahasiswa yang tidak datang sebelum kehadiran Mas Awang. Menutup pintu lima menit setelah eksistensinya di kelas, satu persatu mahasiswa masuk dan semacam mengganggu prosesi belajar mengajar. Sedari awal, sudah terlihat raut kekecewaan dari dosen muda satu ini. Hingga pada suatu ketika, dia angkat bicara “Kemarin kita sudah sepakat jika ada yang datang setelah saya, silakan tetap di luar saja. Saya tidak peduli pakaian apa yang kalian gunakan. Tapi, dalam hubungan yang profesional ketepatan waktu itu penting.” Perlahan, kelas menjadi hening. Aku meyakini bahwa terjadi perdebatan menarik di dalam keheningan itu. Ada yang di hatinya bersuara menghujat mas Awang. Sementara yang lain tertegun dan merenung karena ucapan Mas Awang yang keras pagi itu. Belum lagi yang menganggap ucapan Mas Awang angin lalu.

Teguran dari Mas Awang mengenai ketepatan waktu ialah satu dari sedikit aksi serupa yang dilancarkan oleh dosen muda. Sangat jarang dosen HI mengingatkan mahasiswanya akan hal yang fundamental ini. Mungkin karena kebanyakan menganggap bahwa kami sudah dewasa sehingga sudah seharusnya tahu mana yang benar mana yang salah. Tidak perlu lagi mengingatkan atau memarahi mahasiswa atas perilakunya, itu sudah bukan tanggung jawab mereka lagi. Hmm, memang ada benarnya ucapan seperti itu. Namun, sesekali mahasiswa memang harus diberi peringatan, diberi teguran. Arsitektur relasi interpersonal di HI pada khususnya dan fisipol pada umumnya memang bukan ketegangan yang diciptakan sedari awal pertemuan. Alasan karena kemanusiaan telah melarangnya. Tapi kebenaran harus ditegakkan. Dan berkata mengenai kebenaran merupakan kewajiban. Terlebih lagi, sebagai bagian dari institusi moral, dosen memiliki otoritas dan pengalaman yang lebih tinggi dari mahasiswa. Dosenpun memiliki kesempatan yang besar untuk membentuk karakter dari calon penerus bangsa yang kian hari kian diragukan kemampuannya. Oleh karena itu, imho sesekali sangat dibutuhkan tindakan yang sebagian mahasiswa merasa tidak mengenakkan ini.

Ketika mulai menyampaikan materi, Mas Awang mengawali dengan mengatakan bahwa tidak ada yang susah di HI. Asal mahasiswa mau membaca materi dan tau apa inti dari HI, adalah hal sepele untuk menyerap maksud dari penulis. Kemudian Mas Awang mulai melemparkan pertanyaan pada mahasiswa mengenai buku apa saja yang pernah dibacanya. Tak ada satupun yang berani menjawab. Aku yakin bahwa realita sebenarnya tidak seperti itu. Teman-teman apalagi HI UGM sudah banyak yang menamatkan buku — minimal Dynamics of Diplomacy. Namun, karakter “kerendahan hati” membatasi mereka untuk berani menjawab pertanyaan Mas Awang. Nekat saja aku bilang bahwa pernah baca chapter di WP — salah satu kitab HI. Dia tanya teori apa saja yang ada di situ. Aku bilang tiga teori besar,yakni liberal, realis, dan konstruktivisme ada di chapter-chapter awal. Mas Awang bertanya lebih dalam, teori apa yang kamu hafal luar kepala? Aku bilang bahwa hanya tau surface-nya saja. Lebih dalam lagi, Mas Awang menanyai teori mana itu. Konstruktivis aku bilang. Kemudian aku menyampaikan perdebatan mengenai koeksistensi konstruktivis sebagai teori. Mungkin teman-teman di kelas polpem Asteng akan teringat apa yang disampaikan Mas Randi di kelas jam 7. Namun, memang yang tertulis di WP seperti itu.

Selesai menanyaiku, Mas Awang terus berdendang betapa rendahnya literasi mahasiswa HI. Dia terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang 90% retoris. Salah satunya adalah siapa yang pernah membaca habis buku Morgenthau Politik Antar Bangsa. Ada yang berusaha menjawab — Wita– tapi juga tidak memenuhi kriteria Mas Awang. Sembari terus mengkritik mahasiswanya, Mas Awang juga secara implisit dan terkadang eksplisit menyampaikan bahwa dia adalah seseorang yang telah banyak melahap buku, jurnal, dan bacaan akademis lainnya. Mas Awang juga menyinggung bahwa seseorang bisa dihargai karena ilmu yang dia miliki. “Seorang yang punya jabatan itu cuma dihargai ketika mereka menjabat. Setelah sudah tidak menjabat, mereka tidak ada artinya lagi. Orang kayapun bagi saya tidak ada artinya. Orang saya hormati karena berapa buku yang telah mereka baca. Saya menghormati Pak Mochtar bukan karena beliau professor, tapi karena saya tahu beliau banyak baca.”

Bagi sebagian orang, pertanyaan-pertanyaan Mas Awang pasti membuat hati panas. “Mas Awang sombong!” Apakah benar seperti itu? Coba kita lihat dari sisi lain. Pertanyaan Mas Awang merupakan motivasi yang diberikan olehnya untuk mahasiswa agar mereka lebih banyak membaca. Segala “keumukannya” merupakan amalan dari paradigma lakukan sesuatu terlebih dahulu, baru menyuruh orang lain untuk melakukannya. Sehingga di sini lengkap bahwa Mas Awang tidak sedang omong kosong. Mas Awang sedang mendorong orang lain untuk melaksanakan suatu amalan. Mas Awang sedang mengajak orang lain untuk mengerjakan kebaikan. Mas Awang sedang berusaha mengentaskan generasi muda, khususnya mahasiswa THI B yang hadir pagi itu, dari kebodohan. Mas Awang sedang berupaya untuk menyejajarkan kualitas insan Indonesia dengan insan lain di dunia.

Pagi ini, aku sepintas lalu melihat berita bahwa tingkat baca Indonesia termasuk yang terendah di dunia. Kemudian, aku juga teringat teguran keras seorang senior agar aku membaca buku secara menyeluruh, tidak partikular agar dapat berargumen yang masuk ke dalam logikanya. Kedua hal ini setidaknya makin meyakinkanku untuk membaca dan menerima sisi positif “senandung” Mas Awang pagi itu. Akupun teringat sosok seorang Ahok yang menegur habis-habisan birokrat di jajaran Pemprov DKI demi meningkatkan kualitas pelayanannya terhadap masyarakat. Tidak lain, tujuan Ahok untuk kebaikan bersama. Aku melihat semangat macam Ahok itu pada tindakan Mas Awang.

Mengakhiri tulisan ini, tidak perlu dengan banyak kalimat. Aku akan lebih banyak membaca buku HI mulai sekarang!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s