di Tengah Pulau Jawa (2)

Senin itu, sepagi mungkin aku meninggalkan rumah Achda. Stasiun Balapan jadi tujuan. Aku mengejar kereta Prambanan Ekspress tujuan Lempuyangan yang berangat pukul 05.30

Ada hal penting yang harus kulakukan hari itu. Janji untuk mengirim dokumen ke instansi diplomatik pemerintah membuatku tidak bisa meluangkan waktu untuk bersantai. Kurang lebih satu jam beristirahat di rumah — yang kuisi dengan membersihkan kamar yang cukup kotor dan berantakan– aku harus berangkat ke kampus untuk bertemu dengan Ajeng dan Viyasa.

Kira-kira jam 10 aku datang di kampus, Gedung BA Lantai 5. Sesuai dengan janji yang telah disepakati. Ajeng datang beberapa saat kemudian. Disusul Viyasa. Kami harus membenahi proposal dan undangan yang belum beres sepenuhnya. Masih ada beberapa kesalahan.  Tidak mudah untuk menyelesaikannya. Pak Nanang yang tidak kunjung menandatangani surat yang telah diajukan jauh hari dan keterbatasan kemampuan untuk mengedit proposal benar-benar jadi sumber penyebab sakit kepala. Setidaknya untuk diriku.

Hingga akhirnya kami menyerah. Mendengarkan petuah Mas Dedi mengenai pengerjaan Student Working Paper menjadi pembelah perhatian yang kala itu tengah tertuju pada tugas. Ramuan antara rintik gerimis ditambah sedapnya micin indomie pada akhirnya meregangkan ketegangan urat syaraf yang sudah bertahan lima jam lebih. Selesai itu semua, suhu otak menurun. Hati lebih tenang.

Dua hari berikutnya, kegiatan tak jauh-jauh dari mengurusi dokumen. Sial bagiku. Surat khusus yang hendak dibawa ke Semarang pada hari Kamisnya salah! Terjadi kesalahan penulisan. Bagiku itu fatal. Apa boleh buat, untuk sementara waktu surat itu tidak kubawa. Aku menyelesaikan satu urusan dari dua urusan yang seharusnya aku selesaikan di Semarang.

Kamis Sore aku berangkat ke ibukota Jawa Tengah itu menggunakan travel. Ada kisah unik dalam perjalananku menuju pool travel yang relatif tidak jauh dari rumah. Karena aku bangun kesorean, aku hanya punya waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke pool. Jika aku hanya jalan kaki, rasanya berat. Niat untuk naik bus ataupun becak tidak kesampaian karena ketiadaannya. Beruntung aku menemukan Andhong lewat. Aku iseng tanya apakah boleh ikut menumpang dan nyatanya boleh! Akupun tidak perlu meneteskan peluh lebih banyak untuk mencapai pool. Akhirnya, aku bisa datang di pool tepat waktu. Fyuh

Sekitar setengah jam lebih aku menunggu di pool bersama penumpang lain, armada travel akhirnya disiapkan. Isuzu ELF keluaran terbaru yang berwarna merah pekat itu begitu mencolok perhatian. Ketika aku membuka pintu, aku menyadari bahwa pilihanku tepat. 60 ribu rupiah biaya yang kukeluarkan cukup sebanding dengan interior travel yang sangat baik dibanding travel yang pernah kunaiki sebelumnya (Iqro’ — sekarang sudah bangkrut) Di samping itu, kasarnya mesin diesel tidak begitu terasa. Suspensi yang cukup empuk membuat perjalananku ke Semarang cukup nyaman sore itu. Buktinya aku bisa tidur nyenyak selama perjalanan.

Sampai di Semarang, aku turun di daerah Simpang Lima. Ada kenangan masa kecil yang tersimpan di sini. Dulu, semasa TK aku pernah mbolang ke kota Lumpya bersama saudara Eyang yang waktu itu kerja di Surabaya dan tinggal di rumah. Sewaktu di Semarang, Simpang Lima adalah salah satu destinasi kami. Di sana aku dijemput Mas Fian dengan Terios putihnya. Sebelum sampai rumah, aku diajak untuk makan malam sego pitik yang cukup enak. Rasa lapar yang telah menyergah seketika hilang. Kemudian, Mas Fian menunjukkan tempat yang ingin aku kunjungi keesokan harinya. Aku diberi tips-tips bagaimana mencapai tempat tersebut dari rumah Mas Fian.

Malam itu aku tidak langsung tidur. Mas Fian telah mempersilakanku untuk menggunakan fasilitas tv kabel yang dia miliki sesuka hatiku. Aku tidak menyia-nyiakan wewenang yang telah diberikan Mas Fian untuk menonton saluran berita asing yang sangat mendukung studiku. Malam itu, aku mengetahui bagaimana sebuah pemerintahan yang legitimate digulingkan melalui kudeta militer. Sontak ilmu milpolku menggelegak. Aku yang mendapat tugas kelompok untuk membahas Mesir tidak begitu kaget dengan keadaan tersebut mengingat militer Mesir yang memang memiliki kultur untuk melakukan kudeta terhadap pemerintahnya.

Keesokan harinya, aku bangun cukup pagi. Selain untuk menjalankan ibadah Sholat Subuh, aku juga ingin menyiapkan diri dalam menghadapi tugas organisasi yang menjadi tujuan utamaku ke Semarang. Kira-kira jam 8 Pagi aku berangkat dari bilangan Kariadi. Dengan Sepeda Motor, aku meluncur deras menuju Semarang atas. Tidak semudah yang kubayangkan untuk menembus birokrasi di kantor itu. Kealphaanku yang tidak membawa almamater dipermasalahkan. Aku harus bingung sendiri sekitar satu jam untuk mencari pinjaman. Ah, teman-teman pada belum pulang! kalopun ada yang pulang, almamater mereka hampir pasti ditinggal di Jogja.

Setelah satu jam terjebak dalam kebingungan, aku nekad mencoba peruntungan dengan masuk lagi menuju resepsionis. Rupanya satpam yang tadinya menjadi penghalang utama luluh hatinya. Kedatanganku yang jauh-jauh dari Jogja bisa mereka maklumi. Akhirnya aku bisa melenggang mulus ke kantor tersebut hingga naik ke lantai tiga. Selesai sudah misi utama hari itu. Tinggal menunggu kabar dari mereka. Akupun bergegas untuk angkat kaki.

Destinasi selanjutnya adalah paragon plasa. Di sana aku ada janji untuk bertemu ajiz. Aku datang lebih cepat sekitar 30 menit. Daaan, aku cukup senang dengan desain dan tata letak dari mal yang satu ini. Tidak terlalu besar. Tapi terkesan bahwa mal ini digarap dengan serius. Brand-brand yang mengisi sudut-sudutnya pun terhitung lengkap. Benar-benar sarana refreshing yang tidak ada di Jogja. Setelah Ajiz datang, perut sudah demo minta jatah. Ya udah, solaria jadi jujugan karena memang sudah lama nggak kesana.

Setelah itu, ajiz memberi dua tawaran menarik : sholat di Smaga & nonton di Citra. Ya jelas aku iyain lah. Aku pingin liat-iat gimana sih sekolah yang udah nelorin Bu Sri Mulyani. Setelah masuk ke sekolah itu, aku cuma kagum dan ngerasa nyaman. Sekolahnya gedeee banget. Penataannya bagus. Sirkulasi udara dan aliran anginnya bener-bener bikin betah! Setelah itu, kami meluncur ke citra. Rupanya, mal ini gak berubah banyak. Kereta-keretaan di Mc’ D masih tetap sama seperti ketika aku TK. Ah, jadi kangen Om Tono yang waktu itu membawaku ke situ. Uniknya, di Citra kami gagal nonton. Soalnya, bioskop 21 di mal itu teaternya lagi rusak😐 Nggak kaget sih kalo liat dari tampangnya aja, emang bioskop itu tua banget dan minim perawatan.

Solusinya, kami nyebrang ke plaza. Di sana ada bioskop indie yang bukan jaringan 21cineplex. Dari luar bangunan plaza memprihatinkan pake banget. Setelah masuk, emmm.. Jauh lebih bagus dari 21. Mungkin setaralah ama XXI. Cuma layarnya kecil. Di sana, kami nunggu sekitar 1 jam untuk bisa nonton Despicable Me 2. AKu rasa nggak rugi sih ngeluarin duit 30 ribu untuk nonton film besutan anak N.H. Dini. Lucu!!!! Bisa jadi pelepas penat setelah ujian yang bener-bener manjur. Berakhirnya film tersebut juga mengakhiri pertemuan dengan Ajiz hari itu. Tiada lain kusampaikan terima kasih ke Ajiz yang udah jadi semacam semi guide selama di Semarang.

Keesokan paginya, aku kembali ke Jogja. Niatnya naik Nusantara. Tapi apa daya, setengah 6 mereka belum buka. Ya udah, terpaksa aku naik bus ekonomi. Cuma 23 ribu, aku bisa melintasi tengah pulau Jawa. Dari utara ke selatan. Aku beruntung karena itu masih pagi. Dalam 4 jam aku sudah sampai di Jogja, dengan selamat tentunya, dengan bus yang sedikit banyak membuatku khawatir itu.

Begitulah rangkaian kegiatan di luar kebiasaanku yang berhasil menahan kepulangan. Dua kota penting di tengah Pulau Jawa telah memberiku pengalaman, energi, dan semangat baru untuk melanjutkan hari. Masihlah banyak tantangan yang harus kuhadapi di Jogja. Semoga saja, energi dari dua kota itu bisa mengilhami langkahku kini dan nanti.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s