Urgensi U.S.-Russia Reset Relations bagi Amerika Serikat

oleh M. Irfan Ardhani

25 Juni 2013

reset

Sejak berakhirnya perang dingin, Rusia yang merupakan pewaris takhta dari Uni Soviet tidak  begitu diperhitungkan dalam politik luar negeri Amerika Serikat. Hubungan antara kedua negara bahkan sempat memasuki masa suram di masa pemerintahan George W. Bush. Amerika secara sepihak menarik diri dari perjanjian Anti Ballistic Missile Treaty agar bisa membangun sistem pertahanan rudal yang dekat dengan perbatasan Rusia  dan berencana untuk memasukkan negara bekas anggota blok Timur seperti Ukraina dan Georgia ke dalam NATO.[1] Walaupun begitu, pada 6 Maret 2009 Menteri Luar Negeri (Menlu) Hillary Clinton dan Menlu Sergei Lavrov secara simbolis menekan sebuah tombol reset sebagai penanda dimulainya U.S.-Russia Reset Relations.[2] Melalui Reset Relations, Pemerintahan Obama berusaha untuk melibatkan Rusia dalam mencapai kepentingan luar negeri bersama dan juga menjalin hubungan langsung dengan masyarakat Rusia dalam rangka pemenuhan kepentingan ekonomi, meningkatkan pengertian bersama, dan memajukan nilai-nilai universal.[3] Esai ini berupaya untuk mendiskusikan urgensi U.S.-Russia Reset Relations bagi Amerika Serikat. Penulis meyakini bahwa U.S.-Russia Reset Relations adalah sebuah langkah penting bagi Amerika Serikat untuk mempertahankan hegemoninya di dunia. Argumen utama tersebut akan dijelaskan melalui tiga argumen pendukung. Pertama, Amerika Serikat membutuhkan image baru untuk mempertahankan global leadership-nya. Kedua, Rusia dan Amerika Serikat memiliki persinggungan kepentingan dalam aspek geopolitik yang cukup penting bagi hegemoni Amerika. Ketiga, Amerika Serikat membutuhkan kesepahaman baru dengan Rusia dalam mengontrol perkembangan senjata nuklir antara kedua belah pihak.

Di bawah kepemimpinan Obama, Amerika Serikat membutuhkan image baru untuk mempertahankan global leadership-nya. Delapan tahun dipimpin oleh George W. Bush, Amerika Serikat berkembang menjadi negara yang dibenci oleh banyak pihak dengan munculnya gerakan anti-Amerika di pelbagai belahan dunia. Menurut Fareed Zakaria, gerakan tersebut adalah dampak dari kebijakan unilateral Bush dimana dia menegaskan kekuatan Amerika Serikat dengan cara yang kasar sembari mengabaikan institusi dan aliansi internasional.[4] Jika Obama tetap menggunakan pendekatan Bush dalam politik luar negeri Amerika, tentu saja Amerika harus bersiap untuk kehilangan posisinya sebagai global leader.

Barack Obama dan tim ahli kebijakan luar negerinya menyadari bahwa mereka harus melakukan perubahan. Mereka menganggap bahwa Amerika Serikat harus bertransformasi menjadi negara yang ramah, terbebas dari rasa malu, dan harus menjalankan suatu doktrin “mea culpa”.[5] Tulisan Obama yang berjudul Renewing American Leadership menegaskan keinginan untuk melakukan perubahan itu. Obama menjelaskan, bahwa tantangan baru di abad XXI membutuhkan pendekatan baru, yakni dengan menyediakan global leadership yang berdasarkan pemahaman bahwa dunia membutuhkan keamanan bersama dan perikemanusiaan.[6] Pendekatan Bush yang kontraproduktif itu harus ditinggalkan oleh

Rusia adalah negara yang penting untuk membentuk perubahan image politik luar negeri Amerika Serikat. Sejarah hubungan yang antagonistis antara  dua negara besar tersebut menjadi titik tolak yang cukup strategis. Perubahan pendekatan kebijakan Amerika Serikat terhadap Rusia tentunya akan mendapat perhatian dari kalangan luas. Amerika Serikat bisa memanfaatkan momentum tersebut untuk mengirimkan pesan ke seluruh dunia bahwa mereka telah menjadi negara adidaya yang ramah.

Rusia dan Amerika Serikat memiliki persinggungan kepentingan geopolitik dalam isu nuklir Iran dan Korea Utara. Ulah kedua negara untuk mengembangkan senjata nuklir telah menjadi ujian berat bagi hegemoni Amerika di dunia. Jika Amerika berhasil membuat Iran dan Korea Utara menghentikan program nuklirnya, hegemoni Amerika di dunia bisa dipertahankan. Sebaliknya jika Amerika gagal, hegemoni mereka patut dipertanyakan. Tanpa kerjasama yang baik dengan Rusia, agaknya susah bagi Amerika untuk mewujudkan kepentingannya.

Posisi Rusia sebagai pemegang hak veto di Dewan Keamanan PBB seringkali menjadi ganjalan keluarnya resolusi untuk kedua negara.[7] Rusia terkesan melindungi dua kawan dekatnya itu agar terhindar dari sanksi PBB. Pada kasus Korea Utara, kendati Dewan Keamanan PBB telah sepakat untuk menjatuhkan sanksi bagi Korea Utara Juni 2009 silam, Rusia dan China menolak untuk menjadikannya sebuah mandat sehingga tidak memberi dampak yang signifikan bagi Korea Utara.[8] Pada kasus Iran, alih-alih mendukung upaya Amerika Serikat Rusia justru telah menyelesaikan instalasi nuklir non militer Iran di Bushehr dan juga menjalin kesepakatan untuk menjual rudal S-300 ke Iran yang mengurangi kemungkinan serangan dari Amerika dan Israel.[9]

Pada titik inilah, menjalin hubungan baik dengan Rusia menjadi sebuah tindakan yang penting untuk dilakukan oleh Amerika. Amerika membutuhkan hubungan yang lebih konstruktif dengan Rusia agar tercipta kesepahaman antara kedua belah pihak. Dengan pendekatan yang lebih halus, setidaknya akan tercipta rasa saling percaya antara kedua negara.[10] Di samping itu, Amerika juga lebih menghargai Rusia sebagai salah satu kekuatan global sehingga meningkatkan harga diri Rusia sendiri. Akhirnya, akan lebih mudah bagi Amerika untuk mendapat dukungan dari Rusia dalam penyelesaian kasus Iran dan Korea Utara.

Kesepahaman baru dengan Rusia dalam mengontrol perkembangan senjata nuklir antara kedua belah pihak menjadi tugas berat bagi Obama. Sebagaimana kita ketahui, perjanjian pengurangan senjata strategis atau dikenal dengan START antara Amerika dengan Uni Soviet –negara pendahulu Rusia– berakhir pada 5 Desember 2009.[11] Jika kekosongan aturan tidak segera ditangani, akan timbul masalah bagi Amerika karena tidak ada mekanisme untuk mengontrol Rusia yang terus melakukan produksi ICBM.[12] Padahal, senjata nuklir yang dimiliki oleh Rusia adalah ancaman nyata terhadap keamanan dan hegemoni Amerika Serikat khususnya di bidang militer.

Obama menyadari bahwa nuklir adalah ancaman nyata bagi keamanan dan kepemimpinan Amerika di dunia. Obama berjanji bahwa dia akan bekerja sama dengan negara lain tidak terkecuali Rusia dalam menangani isu nuklir yang cukup strategis ini. Khusus untuk Rusia, Obama merasa sangat perlu kedua negara bekerjasama untuk memastikan bahwa senjata nuklir dan materialnya aman dengan cara memperbaharui dan mengurangi postur nuklir Perang Dingin yang kuno sembari terus mengurangi peranan senjata nuklir.[13]

Oleh karena itu dengan keadaan mendesak ditambah political will dari pemimpinnya, Amerika Serikat harus segera mencapai kesepakatan baru dengan Rusia. Dalam hal ini, Reset Relations memegang peranan penting sebagai jalan masuk bagi kedua negara untuk memulai perundingan perjanjian pengganti START. Perundingan baru setidaknya akan tetap menjadi penghambat bagi Rusia untuk mengembangkan senjata nuklirnya secara masif yang bisa saja mengganggu supremasi militer Amerika di dunia.

Dengan demikian ketiga argumen di atas, yaitu Amerika yang membutuhkan image baru untuk mempertahankan global leadership-nya, persinggungan kepentingan antara Amerika dan Rusia dalam aspek geopolitik yang cukup penting bagi hegemoni Amerika, dan kesepahaman baru dengan Rusia dalam mengontrol perkembangan senjata nuklir antara kedua belah pihak telah menunjukkan bahwa U.S.-Russia Reset Relations adalah langkah penting bagi Amerika Serikat untuk mempertahankan hegemoninya. Hubungan yang konstruktif dengan Rusia dapat mengokohkan kepemimpinan Amerika. Hal tersebut tidak akan terlaksana tanpa adanya langkah konkret dari Amerika. Oleh karena itu, U.S.-Russia Reset Relations merupakan langkah penting Amerika Serikat dalam mempertahankan hegemoninya di dunia.

Daftar Pustaka

Buku

Haas, M.D.,  Russia Foreign Security Policy in XXI Century, Routledge, New York, 2010, Hal. 123.

Zaki, M.M.,  American Global Challenge; The Obama Era, Palgrave Macmillan, New York, 2011, Hal. 128.

Artikel Internet

ABC News, US-Russia Nuclear Disarmament Treaty to Expire at 7 pm ET Tonight with Nothing to Replace It (daring), 4 Desember 2009, < http://abcnews.go.com/blogs/politics/2009/12/usrussia-nuclear-disarmament-treaty-to-expire-at-midnight-tonight-with-nothing-to-replace-it/>, diakses pada 26 Juni 2013.

Aslund , A. dan Kuchins, A., ‘Pressing the Resset Button…’, CSIS (daring), < http://csis.org/files/media/csis/pubs/090405_policy_briefing_russia_balance.pdf>, diakses pada 25 Juni 2013.

Collins, J.F. dan Rojansky, M., ‘Why Russia Matters’, Foreign Policy (daring), 18 Agustus 2010, <http://www.foreignpolicy.com/articles/2010/08/18/why_Russia_matters>, diakses 25 Juni 2013.

Dougherty, J., ‘U.S. seeks to ‘reset’ relations with Russia’, CNN Internasional (daring), 7 Maret 2009, <http://edition.cnn.com/2009/WORLD/europe/03/07/us.russia/>, diakses pada 18 Mei 2013.

Feith, D.J. dan  Cropsey, S., ‘How The Reset Relations Explain Obama Foreign Policy’, Foreign Policy (daring), 16 Oktober 2012, < http://www.foreignpolicy.com/articles/2012/10/16/how_the_russian_reset_explains_obama_s_foreign_policy>, diakses pada 25 Juni 2013.

Migranyan, A., ‘The U.S. in a Time of Change: Internal Transformation…’, Russia in Global Affairs (daring), 15 April 2013, <http://eng.globalaffairs.ru/number/The-US-in-a-Time-of-Change-Internal-Transformations-and-Relations-with-Russia-15927>, diakses pada 25 Juni 2013.

NTI, Treaty between the United States of America and the Union of Soviet Socialist Republics on Strategic Offensive Reductions (daring), < http://www.nti.org/treaties-and-regimes/treaties-between-united-states-america-and-union-soviet-socialist-republics-strategic-offensive-reductions-start-i-start-ii/>, diakses pada 26 Juni 2013.

Obama, B., ‘Renewing American Leadership’, Foreign Affairs (daring), < http://www.foreignaffairs.com/articles/62636/barack-obama/renewing-american-leadership>, diakses pada 25 Juni 2013.

The White House, U.S.-Russia Reset Relations Fact Sheet (daring), 24 Juni 2010, <http://www.whitehouse.gov/the-press-office/us-russia-relations-reset-fact-sheet>, diakses pada 25 Juni 2013.

Zakaria,F., ‘Hating America’, Foreign Policy (daring), 1 September 2004, < http://www.foreignpolicy.com/articles/2004/09/01/hating_america>, diakses pada 25 Juni 2013.


[1] M. M. Zaki, American Global Challenge; The Obama Era, Palgrave Macmillan, New York, 2011, Hal. 128.

[2] J. Dougherty, ‘U.S. seeks to ‘reset’ relations with Russia’, CNN Internasional (daring), 7 Maret 2009, <http://edition.cnn.com/2009/WORLD/europe/03/07/us.russia/>, diakses pada 18 Mei 2013.

[3] The White House, U.S.-Russia Reset Relations Fact Sheet (daring), 24 Juni 2010, <http://www.whitehouse.gov/the-press-office/us-russia-relations-reset-fact-sheet>, diakses pada 25 Juni 2013.

[4] F. Zakaria, ‘Hating America’, Foreign Policy (daring), 1 September 2004, < http://www.foreignpolicy.com/articles/2004/09/01/hating_america>, diakses pada 25 Juni 2013.

[5] D.J. Feith dan S. Cropsey, ‘How The Reset Relations Explain Obama Foreign Policy’, Foreign Policy (daring), 16 Oktober 2012, < http://www.foreignpolicy.com/articles/2012/10/16/how_the_russian_reset_explains_obama_s_foreign_policy>, diakses pada 25 Juni 2013.

[6] B. Obama, ‘Renewing American Leadership’, Foreign Affairs (daring), < http://www.foreignaffairs.com/articles/62636/barack-obama/renewing-american-leadership>, diakses pada 25 Juni 2013.

[7] J.F. Collins dan M. Rojansky, ‘Why Russia Matters’, Foreign Policy (daring), 18 Agustus 2010, <http://www.foreignpolicy.com/articles/2010/08/18/why_Russia_matters>, diakses 25 Juni 2013.

[8]  M. Flacker dan C. Sang-Hun, ‘Will Sanctions Ever Work…’, The New York Times (daring), 12 Juni 2009, < http://www.nytimes.com/2009/06/13/world/asia/13korea.html?_r=0>, diakses pada 26 Juni 2013.

[9] A. Aslund dan A. Kuchins, ‘Pressing the Resset Button…’, CSIS (daring), < http://csis.org/files/media/csis/pubs/090405_policy_briefing_russia_balance.pdf>, diakses pada 25 Juni 2013.

[10] A. Aslund dan A. Kuchins, ‘Pressing the Resset Button…’, CSIS (daring), < http://csis.org/files/media/csis/pubs/090405_policy_briefing_russia_balance.pdf>, diakses pada 25 Juni 2013.

[12] ABC News, US-Russia Nuclear Disarmament Treaty…(daring), 4 Desember 2009, < http://abcnews.go.com/blogs/politics/2009/12/usrussia-nuclear-disarmament-treaty-to-expire-at-midnight-tonight-with-nothing-to-replace-it/>, diakses pada 26 Juni 2013.

[13] B. Obama, ‘Renewing American Leadership’, Foreign Affairs (daring), < http://www.foreignaffairs.com/articles/62636/barack-obama/renewing-american-leadership>, diakses pada 26 Juni 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s