di Tengah Pulau Jawa

Liburan kali ini terbilang beda dibanding liburan semesteran sebelumnya. Kebiasaan untuk menyegerakan kepulangan dan bertemu dengan pasukan megantropus paleo cibiscus cukuplsh menjadi catatan dalam buku harian. Kurang lebih dua minggu lamanya selepas Ujian Akhir Semester 4 , aku menahan diri di Tengah Pulau Jawa. Di sekitaran Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sudah berulang kali ibu dan bapak di Surabaya telpon dan bertanya kapan aku pulang. Aku selalu menjawab tidak tahu. Bukan kubuat menjadi dramatis seperti biasanya dimana aku pulang secara tiba-tiba tanpa memberi kabar sebelumnya. Tapi memang kali ini kesibukan di Jogja tidak bisa ditawar-tawar. Aku benar-benar tidak tahu sampai pertengahan minggu ini jika di hari terakhir bulan Sya’ban aku bisa menembus keramaian jalan dari Jogja – Klaten – Solo – Sragen – Ngawi – Madiun – Nganjuk – Jombang – Mojokerto – Sidoarjo – Surabaya untuk merasakan hangatnya udara kampung halaman.

Pertanyaan klise jelas muncul : Kamu gak kangen Surabaya ta?

Nggak! Dalam dua minggu ini, banyak pengalaman baru yang kudapat. Kendati menahan diri, aku tida sepenuhnya statis. Tidak berdiam diri dan bertapa di Yogyakarta. Aku sedikit menjelajah ke propinsi sebelah, Jawa Tengah.

Dimulai pada 29 Juni 2013, sore setelah UAS berakhir, Rumah Achda di Karang Anyar Jadi jujugan. Memanfaatkan Public transport, yakni KA Sriwedari, satu jam kami dibawa menuju Stasiun Solo Balapan. Minimnya ketersediaan transportasi massal menuju Rumah Achda di malam hari, Taxi terpaksa menjadi pilihan. Ah, bbm yang baru naik harganya beberapa hari silam jadi justifikasi bagi sang sopir untuk tidak taat asas. Dia ‘malak’ Achda dengan tarif ekstra lima ribu rupiah dari jumlah yang tertera di argo. Memang dia terlihat mengiba –meski dengan gayanya yang emosional itu nggapleki– dengan menyebutkan bahwa cari uang saat ini susah. Tapi kalau penumpang dilayani tidak dengan semestinya, ya kemungkinan besar bakal tambah susah pak!

Capek, kami tidak kemana-mana malam itu. Achda sudah didamaikan oleh tayangan Moto GP kesayangannya di Trans 7. Ibunya yang Guru BK SMAN 1 Solo sedikit banyak paham apa yang jadi tontonan anaknya. Beliau beberapa kali melontarkan pertanyaan pada anak bungsunya itu. Aku hanya menjadi pendengar yang baik sembari membaca Jawa Pos di tengah ketidaktahuanku.

Keesokan paginya, aku diajak Achda berkeliling Solo. Sayang, Minggu pagi jadi jadwal tetap pelaksanaan car free day di pelbagai sudut penting kota lama. Namun, aku masih bisa melihat kemegahan Manahan, kusamnya Mangkunegaran, dan beberapa sekolah asal teman-temana. 

Isirahat sebentar sambil membersihkan diri, kami bersiap menuju lereng Gunung Lawu. Daerah Tawang Mangu yang menanjak ekstrim kami lalui dengan kendaraan roda dua. Agak mengerikan pada awalnya. Apalagi aku agak tidak mampu menahan kantuk. Namun, ketika hawa dingin mulai menusuk, aku terbangun dan tidak dapat mengalihkan pandangan dari hamparan bukit hijau yang jumlahnya lebih dari satu. Sesekali aku mengeluarkan ponsel untuk mengabadikan apa yang aku lihat. 

Butuh satu setengah jam untuk mencapai Cemoro Sewu. Kata Achda, itu adalah pintu pendakian pertama dan favoritnya. Dia sering menghabiskan waktu untuk menyendiri sembari menghirup kesejukan udara yang sangat terasa. Duduk di trotoar pinggir jalan, kami melihat lalu-lalang kendaraan memecah keheningan dan kabut yang merambat tipis. Sebungkus bakso kecil-kecil menjadi penghangat bagi tubuhku yang ringkih ini. Sholat Dhuhur di Masjid sebrang jalan, aku tersadar betapa dinignnya air di daerah itu. Sedikit banyak memengaruhi gigil yang mulai terwujud. Seusai sholat, kami turun menuju rumah makan sederhana kenalan Achda. Hangat dan kenyang. Rasa lapar dan gigil terusir seiring suap demi suap nasi goreng yang telah terhidang di meja.

Malam harinya, Kraton Kasunanan dan Masjid Agung Surakarta jadi tujuan. Achda juga membawaku mengitari pusat perdagangan Kota Solo, daerah Klewer di tengah gelapnya langit. Setelah itu, ide untuk mampir ke Toga Mas meluncur secara spontan dari tuan rumah. Aku mengiyakan saja. Sudah lama aku tidak ke toko buku. Di sana, aku membeli Rantau 1 Muara, bagian terakhir dari trilogi Negeri 5 Menara. Itulah pertama kalinya aku membeli novel populer di awal penerbitannya. Satu minggu setelah membelinya, aku bisa memahami bahwa keputusanku untuk membeli novel ini tanpa pikir panjang adalah tepat. Banyak motivasi yang aku dapat dari tulisan ringan anak Gontor itu. 

to be continued..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s