Self Convincing

Keteledoran

Terhitung lima hari sejak UAS semester 4 berakhir, aku masih tertahan di Jogja. Ini adalah hal yang tidak biasa jika menengok ke catatan sebelumnya di mana aku selalu berusaha untuk pulang secepat mungkin. Tapi, sejak jauh hari memang tidak ada keinginan untuk menyegerakan pulang. Selain memang ada tanggung jawab yang harus dipenuhi, aku merasa masih banyak yang bisa dilakukan di sini. Terlebih lagi, itu semua belum pernah aku lakukan. 

Di antara yang belum pernah kulakukan itu adalah mengunjungi rumah teman perantauan. Rumah Achda di Karang Anyar jadi milestone penting karena di sanalah pertama kali aku pergi ke rumah teman selama di perantauan. Aku dimanjakannya dengan diputer-puter ke Tawang Mangu dan melihat bagaimana Solo masa kini. Di Solo pulalah aku me-recharge energi positif untuk membakar semangat perantau dengan membeli seri ketiga dari trilogi Negeri Lima Menara — Rantau 1 Muara — yang kurasa takkan terwujud secepat ini jika Achda tidak mengajakku ke Toga Mas. Matur Nuwun Bro! 

Di luar itu semua, masih ada ganjalan dalam hati yang cukup membuat risau, tugas akhir di UAS kali ini! Bisa dibilang, segala rupa tulisan yang kuhasilkan tidak begitu maksimal. Entah itu Milpol, Esai AS, ataupun Paper MRHI. Dalam pengerjaan kesemua tugas akhir yang berupa tulisan itu aku selalu menemui kesulitan, khususnya Esai AS dan Paper MRHI. Kesulitan yang kutemui keduanya sama, yakni aku harus berjibaku dengan waktu deadline hingga aku mengumpulkan tugas ke pengawas setengah jam terakhir. 

Mungkin tidak salah untuk mengatakan bahwa kesulitan itu kuciptakan sendiri. Aku tidak terlalu memperhatikan aturan yang telah disediakan oleh dosen pengampu dalam pengerjaan tugas. Alhasil, keduanya salah format. Paper MRHI yang seharusnya ditulis menggunakan In Text Citation malah kutulis dengan Footnote. Memang sih pake footnote boleh, tapi sialnya tidak boleh menggunakan ibad-ibid cs. Dan aku menggunakannya….

Sementara itu, Esai AS lebih bodoh lagi. Aku tidak mengunduh sampul tugas Mas Rachmat yang terbaru. Aku justru menggunakan format sampul tahun lalu dimana setiap tugas diharuskan untuk menggunakan spasi rangkap. Karena sedari awal aku menggunakan spasi 1,5 akupun harus mengedit mati-matian supaya tidak melewati batas. Nahas bagiku. Karena setelah aku konfirmasi ke teman-teman, di sampul yang terbaru Mas Rachmat menyuruh kami menggunakan spasi 1,5. Akupun harus mengedit lagi di rental komputer yang cukup ramai yang menyebabkan aku sport jantung istilah orang tuanya. Ironisnya, aku tidak membawa file awal yang telah kuselesaikan. Bertahan dengan file terbaru, setelah dilakukan penyesuaian rupanya aku hanya menulis sebanyak 4 lembar. Akupun was-was. 

Pelajaran yang amat berharga dan mahal bagiku. Baca baik-baik perintah sebelum mengerjakan tugas! Sebisa mungkin aku juga harus melakukan cross-check dengan teman yang lain sebelum mengerjakan tugas supaya aku tidak tersesat lagi. Ini sudah cukup bikin pusing dan was-was. Padahal, jika aku membaca perintah dengan baik aku yakin bahwa kualitas tulisanku jauh lebih baik. 

Hikmah dari Ujian kali ini

Namun demikian, aku harus bersyukur bahwa aku bisa menyelesaikan ujian itu tepat waktu. FYI, tulisan ini kukerjakan dalam waktu yang sangat mepet. Setidaknya aku baru serius mengerjakan masing-masing dua hari sebelum tugas ditumpuk. Logikanya, bakal susah untuk menyelesaikan tugas dalam waktu yang sangat singkat itu. Padahal, tugas akhir adalah hidup dan mati mahasiswa. 

Selama mengerjakan tugas, aku merasa ada pengalaman menarik yang kualami. Ya, hati kecilku selalu meyakinkan diri ini bahwa aku bisa menyelesaikan tugas! Berulang kali berhari-hari, dia juga berkata pada diriku bahwa Tuhan tidak memberi cobaan diluar kemampuan hambanya. Hal itu benar-benar menguatkanku. Kendati beberapa kali dilanda frustasi karena kepala pening dihantam berbagai bacaan dalam waktu yang singkat, aku masih bisa survive dan menghasilkan tulisan yang tidak buruk-buruk amat.

Di sini aku mulai memahami bahwa keyakinan ataupun motivasi yang lahir dari diri sendiri itu jauh lebih kuat dari motivasi apapun. Mungkin istilah ilmiah dari motivasi ini adalah need to achieve. Kebutuhanku untuk menyelesaikan tugas sesuai dead line sehingga bisa mendapat nilai mendorongku agar mengeluarkan segala kemampuan yang ada. Motivasi yang lahir dari dalam diri sendiri ini pun terbukti lebih efektif dari motivasi yang diberikan orang lain. Walaupun aku merasa Oktober 2010 menunjukkan betapa pentingnya motivasi jenis itu. Seiring dengan tertinggalnya Oktober 2010, upaya self convincing ini akan jadi senjata ampuhku untuk menghadapi tantangan-tantangan berikutnya. Amin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s