Last but not least

Banyak pilihan kata untuk memulai tulisan ini. Namun akhirnya aku memilih kata ‘banyak’ karena memang banyak yang ingin terungkap sebagai ekspresi kelas terakhir PSP 2013 kemarin — Senin, 3 Juni 2013.

Memang kelas ini susah untuk dilupakan. Pertama kalinya partisipasi di kelas bukan sebagai mahasiswa, melainkan tutor, tentu membawa aku pada pelbagai dimensi dan pengalaman baru. Satu hal yang perlu diungkap, mengorganisasikan sebuah kelas dengan 90 mahasiswa bukan hal yang sepele. Perlu persiapan dan koordinasi yang baik antara dosen, tutor — Jyestha — dan tentunya mahasiswa. Belum lagi beberapa kendala teknis — seperti blog yang tidak bisa dibuka, bahan bacaan yang tidak kunjung tersedia, dan hal mendadak yang lain — membutuhkan perhatian khusus yang jika tidak ditangani dengan serius, nasib 90 mahasiswa akan tergadaikan.

Kendati berada di akhir jam kuliah setelah seharian penuh mencurahkan tenaga terhadap mata kuliah lain, tidak ada rasa bosan untuk melangkah masuk ke kelas PSP. Kelas ini memang padat akan kegiatan yang menarik dan kreatif. Oleh karena itu, PSP seakan menjadi oase ditengah padang pasir ketika kelas lain kita hanya mendegar ceramah dari dosen.

Harus disampaikan bahwa tutor tidak hanya duduk melamun, membantu membagikan soal kuis, mengambil pekerjaan teman-teman, dan mengunggah info melalui blog. Kesempatan 90 menit berada di kelas tidak disia-siakan untuk menyerap ilmu baru yang belum dibagikan di kelas tahun sebelumnya. Terkadang film dan lagu yang diputar oleh dosen juga menjadi pengalaman pertama untuk menikmatinya. Sehingga selain nambah ilmu, juga nambah referensi lagu dan film. Hehehe

Senin kemarin adalah kelas terakhir PSP 2013. Perasaan campur aduk. Terasa senang karena tugas telah berakhir dengan khusnul khatimah. Namun juga terasa sedih karena harus beprisah dengan keluarga — taruhlah pak rizal, mbak titik, dan jyestha — pemerhati perdamaian setelah 4 bulanan ini meracik strategi dan melaksanakannya agar mahasiswa memiliki benih-benih cinta damai.

Tapi memang keluarga perdamaian tahu bagaimana cara mengakhiri kelas dengan damai. Ya, Pak Rizal dan Mbak Titik secara sukarela berinisiatif untuk bertemu dengan korps tutor (psp, ski, dan kat) selasa petang kemarin di sebuah kafe di bilangan kaliurang. Kami dtraktir untuk makan sepuasnya, terserah kami. Karena sejak beberapa hari ngidam pizza, kebingungan memilih menu karena untuk pertama kalinya makan di cafe itu –maklum, anak kos– teratasi. Anak kurus ini pun dengan lahap menyantap delapan slice pizza seorang diri. Hehehehe

Di pertemuan itu kami satu sama lain bicara hangat. Mulai dari kesan terhadap kelas. Apa-apa saja yang perlu diperbaiki. Penilaian terhadap tutor (karena 3 diantara 4 tutor yang hadir sore itu adalah jamaah SKI yang tutornya juga hadir). Sampek pengalaman pribadi masing-masing dosen. Dengan kata lain, pembicaraan sore itu cukup ngalor ngidul.

Memang sesi paling seru ketika kami nekad menanyakan beberapa isu terkait individu dosen yang bersangkutan. Niatnya sih ingin meluruskan. Kesempatan itu nggak dibuang dengan sia-sia. Kami jadi tau kalo pas 2004 pak Rizal sempat gondrong. Gara-gara pak rizal gondrong, ananya yang cowok sampek g mau diturunin di depan sekolahnya karena malu diceng-cengin temennya. =)) Kami juga jadi tau kisah dibalik dog tag yang dipake pak rizal waktu pertama kali ngajar hi ugm 2011 kelas dipomasi senin itu. Yang agak bikin shock, Mbak Titik bilang bahwa dulu Pak Rizal adalah Ketua Pusat Studi Timur Tengah UGM yang kini sudah lenyap..

Tapi, yang paling menggelegar sore itu ialah pertanyaan Jyestha yang aku pikir sih menohok tapi amat sangat perlu ditanyakan. Jyestha tanya ke pak rizal, mengenai pendapatnya tentang isu bahwa dirinya ialah 50 orang paling dicari dari JIL! Jegeeeer!!!!

Pak Rizal akhirnya meluruskan isu tersebut. Beliau mengatakan bahwa beliau tidaklah terafilisasi dengan JIL. Beliau hanya pernah beberapa kali mengisi acara JIL. Beliau juga mengakui bahwa berteman akrab sejak masa kuliah dengan beberapa pentolan JIL. Mungkin kedua poin tersebut yang menjadi alasan orang-orang untuk melabeli beliau sebagai orang JIL!

Di luar itu semua, Pak Rizal memberi konfirmasi yang cukup penting. Pak Rizal mengatakan bahwa beliau memang dekat dan pernah mengisi beberapa acara JIL, namun beliau juga aktif untuk mengkritisi JIL. Menurut beliau, JIL membawa aroma anti agama. Padahal dalam demokrasi, agama masih mendapat tempat.  Di sinilah, poin yang terus menjadi fokus pak Rizal bagi JIL itu sendiri.

Memang kelas PSP sudah berakhir. Namun, benih-benih perdamaian itu telah tersemai dalam jiwa dan raga. Kiranya, langkah yang akan terambil selalu dinaungi olehnya. Terima kasih mbak Titik dan Pak Rizal yang sudah memberi kami pengalaman yang berharga ini.. :’)

 

405966_3566940453914_572283764_n278459_1671084436447_2872142_o

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s