Sampai Kapan Jogja Bisa Bertahan?

Tinggal di Jogja bagian selatan sementara setiap hari harus bertandang ke utara untuk kuliah memberi banyak manfaat bagiku. Salah satunya adalah bisa melihat bagaimana jantung kota Jogja berdenyut. Ya, setiap hari dalam perjalanan ke kampus mau tidak mau aku melintasi wilayah sekitar keraton (Jokteng-Gondomanan). Oleh karena itu, aku bisa mengetahui secara langsung bagaimana realita yang sedang berlangsung di jogja, minimal bagaimana tingkat kunjungan pariwisata ke kota budaya ini.

Kurang lebih sebulan terakhir, Jogja mulai dihampiri wisatawan tidak hanya dari pelbagai penjuru negeri, namun juga dari mancanegara. Mereka kebanyakan datang dengan rombongannya masing-masing. Tidak mengherankan jika jalanan Jogja disesaki oleh bus pelbagai ukuran. Dari yang uzur hingga keluaran terbaru. Berkat pengalaman berkendara tiap hari pulalah aku jadi paham mengenai beberapa karoseri yang merajai penjualan bus-bus di Indonesia.

Namun di sini kita tidak akan membahas peluang industri karoseri menghadapi peningkatan kunjungan pariwisata. Kita akan membahas sesuatu yang lebih penting dan fundamental daripada itu, yakni kapasitas Jogja dalam menerima kunjungan wisatawan yang kian banyak dari hari ke hari. Muncul kekhawatiran dalam diriku bahwa Jogja dalam beberapa tahun mendatang tidak akan mampu memenuhi tuntutan dari wisatawan untuk melepas penat sebagai tujuan utama pergi ke kota kecil ini. 

 Hal tersebut erat kaitannya dengan kemampuan jalanan jogja untuk menampung kendaraan yang kian hari pertumbuhannya jauh melebihi pertumbuhan jalanan di jogja yang kelihatannya mustahil untuk ditingkatkan secara progresif. Di satu sisi, pertumbuhan kuantitas kendaraan yang dimiliki masyarakat Jogja meningkat tajam. Jika kita bepergian sedikit saja, menemukan kendaraan keluaran 2011 keatas bukan perkara sulit. Di sisi lain, pertumbuhan kendaraan milik pendatang yang mayoritas mahasiswa itu tidak kalah menakjubkan. Tidak jarang mereka membawa serta kendaraan keluaran terbaru yang merupakan hadiah dari orang tuanya karena mereka berhasil masuk ke universitas dan jurusan favorit — KU UGM misal. Tidak berhenti di situ, perpindahan kendaraan wisatawan dari luar daerah lebih-lebih bus dan truk yang sangat masif membuat jalanan Jogja makin sumpek dan macet. Sialnya,  kendaraan bermotor harus berbagi ruang dengan kompetitornya di jalanan Jogja. Pamor kota wisata budaya memberi beban baginya untuk menampung becak dan dokar (kereta kuda) yang sering kali membuat macet.

Sebagai penutup tulisan awal ini (direncakanan akan ada seri berikutnya), aku mengajukan beberapa pertanyaan. Apakah pemerintah lokal Jogja, baik itu Pemerintah Kota maupun Pemerintah Provinsi telah memikirkan hal ini? Jika iya, apakah sudah ada rencana matang dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini? Jika belum pertanyaannya satu, sampai kapan Jogja bisa bertahan untuk menjadi kota yang nyaman terhadap ancaman kemacetan total seperti di Jakarta sana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s