Sampah di Kepala

Tulisan ini dibuat tanpa memiliki fokus yang jelas. Itu argumentasi utamanya. Tulisan ini hanya  berupaya untuk mengejawantahkan apa yang ada di isi kepala. Atau yang membuat gundah gulana selama penulisan berlangsung. 

Adalah persoalan Bu Tri Risma Harini yang bikin aku galau siang ini. Aku nggak punya kata lain terhadap beliau selain hormat dan salut. Walikota perempuan pertama di Kota Buaya ini sedari awal kiprahnya di birokrasi Surabaya sebagai Kepala Bidang –entah apa namanya– bahasa alaynya, memang  cetar membahana. Belum hilang dari ingatanku bahwa beliaulah yang mempelopori tender elektronik se-Indonesia raya. Setelah dipercaya sebagai Kadis Pertamanan, bersama Pak Bambang D.H. perlahan tapi pasti, Surabaya disulap jadi kota taman dan kota yang ramah pejalan kaki. Beliau berhasil menyulap berbagai macam lahan gak berguna di Surabaya menjadi taman yang indahnya menuai decak kagum berbagai kalangan. Taman yang udah ada direvitalisasi jadi seindah armada garuda Indonesia — lebaya banget ini. Di bawah kendalinya, Piala Adipura untuk pertama kali kembali menghampiri Surabaya setelah vakum cukup lama. Dan di bawah kendalinya pula, Piala Adipura itu nggak mau pergi kemana-mana. Bahkan kedatangan adipura yang paling berharga, adipura kencana. 

Mencoba merenungi pengalaman mengenai Bu Risma, aku terbawa pada satu ingatan di salah satu kelas PKN kelas 8C. Waktu itu, Pak Sadimun secara kreatif memberi pengajaran mengenai pemilihan kepala daerah dengan memaksimalkan anggota kelas untuk berpura-pura menjadi calon walikota dan memaparkan visi dan misi. Waktu itu, aku yang berpasangan dengan Niken mempresentasikan apa-apa saja yang kiranya akan kami kerjakan sebagai walikota dan wakil walikota surabaya. Dalam kesempatan itu aku turut menyinggung kiprah Bu Risma yang amat moncer. Salah satu program yang kami usung waktu itu adalah pembangunan tol dari ujung perak sampai waru.

Namun kini, aku harus berpikir ulang dan meralat apa yang kami presentasikan waktu itu. Bersama Bu Risma, aku menjadi salah satu orang yang mendukungnya untuk menolak pembangunan Tol Tengah Kota. Memang waktu itu aku belum punya pemahaman yang cukup akan lingkungan, kendaraan umum, apbn, dan sebagainya. So, i just taken for granted what i read in newspaper. Setelah sedikit memahami duduk permasalahan, aku cukup yakin bahwa apa yang diperjuangkan oleh Bu Risma itu memang harus tetap diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. 

Bicara tanpa riset yang mendalam, aku berasumsi bahwa pertumbuhan kendaraan bermotor yang luar biasa gila di Indonesia adalah bentuk neokolonialisme Jepang di Indonesia. Jelaslah, kita dijadikannya pasar yang cukup menjanjikan untuk membuat produknya laku sehingga mereka bisa bersenang-senang dengan uangnya yang banyak itu. Nah, sialnya untuk mempertahankan status quo, kita dikasih bantuan macem-macem. Mulai hibah, utang, dan lain-lain. Terkait kendaraan nih, yang paling parah konsultan jalanan Indonesia dari Jepang!

Mau g mau, desain jalanan di Indonesia jelas driven by their interest gitu loh. Liat aja deh, mana jalan di Indonesia yang didesain mampu memuat transportasi masal? kata aven menyadur pendapat masnya, gak ada! Nah trus jalan itu gunanya apa? ya untuk dilewatin kendaraan produk Jepang lah!

Orang budheg dan g berempati yang duduk di DPRD Surabaya itu kan g pada mikir gimana buruknya tol tengah kalo tetep direalisasiin di Surabaya. Coba sekarang kita nih ya yang mikir. Bayangin deh, kalo tol tengah tetep dibangun, implikasinya tentu kita akan terus menerus bergantung pada kendaraan pribadi untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Efeknya, ntar sama aja in the end macet. Karena orang cenderung akan beli mobil dan motor terus karena praktis dan memang fasilitasnya ada. Contohnya? Tuh tuh, kota yang sering kebanjiran. Kebanjiran penduduk, kebanjiran kendaraan bermotor, dan literally kebanjiran,, JAKARTA! Salah sendiri rejeki g dibagi-dibagi! 

Sebenernya macet bukan masalah tunggal sih ya, argumentasi Bu Risma terkait pencemaran lingkungan yang akan ditimbulkan oleh berdirinya tol tengah kota g bisa disangkal lagi. Itu terjadi, lagi-lagi di Jakarta. Cari deh info tentang kadar kesehatan udara di Jakarta! Sekarang kayanya udah g ada lagi ya? saking g sehatnya.. Hehe.. Belum lagi di kolong jembatan tol tengah kota dijadiin rumah darurat para kaum papa. Ya ini salahnya yang mbangun tol sih. Bukan salah kaum papanya..

Itu baru dua masalah. Masalah utamanya nih sebenernya ada di kita, generasi muda. generasi yang bakal mewarisi segala kebobrokan yang diciptain generasi kakek nenek, dan papa mama kita. Let say masalah BBM. Ente udah pada sadar kan, kalo Indonesia tak lagi jadi negara yang bisa ngekspor BBM secara konstan? Ente harus pada sadar kalo kita sekarang ini miskin cadangan minyak yang katanya berapa tahun lagi gitu bakalan abis. Sekarang, di keadaan yang kendaraan belum sebanyak jaman kita nanti (kalo g ada revolusi transportasi) udah ngimpor bbm yang ngebebanin seperlima dari APBN!  Lah, ntar jaman kita? kalo tetep rely on private transport, mau jadi apa kita? rencana masuk sepuluh besar perekonomian dunia yakin deh gagal total. Kita bakal disibukin kegalauan yang melebihi kegalauannya pak sby mengenai harga bbm. dan bisa-bisa nih ya, duit gajian kita abis buat berangkat dan pulang kantor!

Sebenernya, kalo kita liat habit trasnportasi pejabat dan anggota DPR kita yang katanya terhormat itu, ya nggak kaget kalo mereka merjuangin tol tengah mati-matian. Mereka tiap hari kan ke kantor, pergi, naik mobil mahal yang super duper nyaman. Logislah kalo mereka pingin nyaman naek mobil tanpa diterpa kemacetan dengan cara mbangun tol tengah. Apa pernah mereka dari tenggilis ke smada naik bemo GS yang sekali nunggu, 2 – 5 bemo N terlewati. Sekalinya ada, penuh. G kan?! Apa pernah mereka ndengerin keluh kesah supir bemo BM karena sepinya penumpang di tengah teriknya matahari dan tuntutan untuk ngasih makan anak istri orang tua? Kalo ini mungkin pernah. Pas kampanye doang sih!

Itu belum pertimbangan lain,  fee dari kontraktor yang kliatannya ratusan M itu! *uhuk*

Nah, gitu ente masih ndukung orang-orang tulul nan arogan itu untuk mbangun tol tengah kota sebagai pemecah masalah kemacetan di Surabaya? Kalo iya, selamat menikmati masa-masa suram Surabaya ketika kita udah pada punya anak nanti ya! kalo gak pingin kaya gitu, ayo dukung upaya bu risma untuk nolak tol tengah sekuat raga dan sekuat jiwa kita. Ntar kalo transportasi masal Surabaya — trem dan mrt — udah jadi, pake deh sebaik-baiknya. Trus dirawat sepenuh hati. Biar g muspro kaya busway ataupun trans jogja. 

Udah deh, segini dulu ya. Akhir kata, tolak tol tengah kota dan keep surabaya on the right track, by give your vote buat Bu Risma 2015 nanti!

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s