Merealisasikan Wacana

Part II

Cigobanjak bisa dibilang jadi wacana terbesar liburan kali ini. Terlaksananya acara libur bareng temen-temen Cibi ini ibaratnya mewujudkan ocehan semasa putih abu-abu. Masa liburan kali ini rasanya jadi waktu yang tepat untuk menghadirkannya dalam dimensi realita. Sebagai masa liburan ketiga, dua periode liburan sebelumnya banyak memberi pelajaran tentang gagalnya rencana libur bareng.

Sejak jauh hari wacana ini kulontarkan. Melalui forum yang dihadiri oleh Chafid, Ajay, dan Pras, kami mencoba untuk merencanakan sedetail mungkin penyelenggaraan Cigobanjak. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kejelasan perihal liburan itu sendiri – sesuatu yang tidak ada di liburan sebelumnya. Waktu dan rancangan anggaran turut tercipta pada hari itu. Langkah selanjutnya, Chafid mengumumkan perencanaan kami di grup facebook Cibi. Tujuannya jelas, supaya anak-anak tertarik dan bisa menyiapkan diri sejak jauh hari.

Pasca pengumuman Cigobanjak di-post di grup, animo temen-temen relatif tinggi. Mereka cukup antusias dengan perjalanan yang pasti panjang dan melelahkan ini. Menurutku, tingginya animo temen-temen tidak terlepas dari rendahnya biaya perjalanan secara keseluruhan. Rancangan anggaran yang telah kami susun hanya membutuhkan sekitar tiga ratusan ribu rupiah untuk bisa survive di liburan ke tanah priangan dan ibukota. Di samping itu, lamanya perjalanan yang akan diisi dengan senda gurau ala cibi menjadi magnet kuat yang membuat Cigobanjak ini susah diabaikan.

Kredit poin harus diberikan pada Risma. Anak yang satu ini dengan getol memperjuangkan tindak lanjut post Chafid di grup. Mungkin karena dia punya kepentingan dengan yang di Bandung – sebut saja Dharma.πŸ˜€ Risma telah menggerakkan anak-anak untuk segera kopi darat dan mengumpulkan uang guna membeli tiket kereta api. Pertemuan itu dijadwalkan pada hari ketika mereka pergi ke rumah Bu Enny. Hari itu, aku tidak bisa hadir karena jadwal presentasi UGM di Al Hikmah.

Dalam pertemuan itu, disampaikan kepastian bahwa aku tidak bisa ikut serta dalam liburan yang kuwacanakan sendiri. Dengan sangat menyesal, aku harus mengurungkan niat mengingat bapak dan ibu yang tanpa rencana matang tiba-tiba umroh. Kondisi rumah yang tidak aman akhir-akhir ini serta ketiadaan pembantu memaksaku untuk tinggal di tempat. Izin dari ibu tidak kudapatkan.

Seharusnya dengan animo yang tinggi di awal, serta komitmen dari beberapa anak untuk menyerahkan uang yang disyaratkan liburan tinggal pelaksanaan. Tapi, fakta berbicara lain. Cigobanjak dengan kesepakatan sebagian besar anak-anak batal! Ada pengaruh untuk membelokkan destinasi liburan ke Batu. Anak-anak berhasil menciptakan consensus pada hari itu juga. Meskipun tidak semua anak setuju, utamanya pras, rencana ini disepakati dan konon akan segera di-post di grup.

Sebagai inisiator Cigobanjak, jelas kekecewaan menyelimuti diri. Memang ada kesalahan yang relative besar dari diriku. Tapi aku sebenarnya tidak ingin membuat mereka pergi begitu saja. Aku berencana memastikan bahwa perjalanan mereka akan baik-baik saja. Tapi apa daya, itu keputusannya. Pada titik ini, tanggung jawab liburan bareng bukan di tanganku lagi.

Lucunya hingga kini, yakni ketika libur telah usai, rencana mereka untuk libur ke Batu tidak pernah di-post di grup. Mudah ditebak, rencana itu juga menguap sebagai wacana karena hingga waktu yang direncanakan terlewati, acara itu tidak berhasil dilaksanakan.

Aku harus berterima kasih pada Pras yang masih menyimpan semangat yang berlandaskan kekecewaan terhadap perilaku segelintir orang. Pada suatu hari dia mengajakku untuk menghidupkan kembali Cigobanjak. Dia merencanakan Cigobanjak di tanggal ketika orang tuaku sudah tiba di tanah air. Tanpa pikir panjang, aku menyetujui rencananya itu. Bahkan aku memberikan ide baru untuk sekalian menyambangi Jogja. Singkat kata, perencanaan ulang hari itu sukses.

Kami mencoba menghubungi beberapa anak yang kiranya masih ingin libur bareng. Ah, zonk. Cuma Okky yang merespon positif rencana kami. Tapi kali ini, mottoku dan pras sama : the show must go on! Apapun yang terjadi, liburan ini harus terealisasi. Hari itu, aku menyepakati waktu untuk bertemu dengan Okky perihal finalisasi rencana liburan.

Adalah kejadian lucu ketika aku bertemu Okky hari itu. Terlihat perubahan di dirinya : suaranya lebih gede dan rambutnya di skinπŸ˜€. Selain itu, saat berbicara terdengar dia lebih neges. Lebih konyolnya, hari itu dia menyampaikan kegundahannya perihal kepergian ke Bandung. Kau tau apa alasannya? Raffi Ahmad baru saja tertangkap BNN! Zzzzz.. Setelah itu, dia mencoba berargumen bahwa temannya yang di Bandung yang dikenalnya via facebook merupakan golongan sosialita yang erat dengan dunia malam. Temannya bersikukuh untuk menemui Okky ketika dia datang ke Bandung. Nah, Okky tidak ingin menyeret kami dan tentu dirinya pada kejadian yang tidak diinginkan jika dia tetap pergi ke Bandung. Akhirnya, Okky urung pergi ke Bandung dengan alasan yang terbilang konyol itu.

Sekitar dua atau tiga hari setelah itu, aku membeli tiket kereta untukku dan Pras. Rute kami Surabaya-Jogja via Bus. Kemudian Jogja – Jakarta via kereta. Jakarta Bandung entah via apa. Terakhir Bandung – Jogja – Surabaya via kereta. Singkat kata, Cigobanjak sudah bukan wacana. Ikatan telah diciptakan melalui pembelian tiket. Pelaksanaan tinggal menunggu waktu.

Hari-H tiba. Kami berjanji bertemu di terminal Purabaya. Demi menghemat biaya, kami lebih memilih Mira daripada Eka untuk pergi ke Jogja. Dengan 34 ribu saja, dalam enam jam kami sudah tiba di Jogja. Bisa dibayangkan betapa ugal-ugalannya sang sopir. Bus yang radak longgar malah jadi kerugian. Tidak ada yang menahanku ketika menghadapi goncangan. Sepanjang perjalanan, aku tidak bisa tidur nyenyak seperti biasa. Lain dengan pras, dia menyetel keras-keras I Touch nya dengan lagu-lagu dari total fat dan Jkt48.

Di jogja, kami tidak punya banyak waktu. Pras kuajak mengitari UGM untuk kemudian berpetualang di sekitaran Kaliurang. Di sana kami mencoba masuk ke Museum Gunung Merapi. Pulangnya, rencana nenen di Kalimilk kubatalkan sepihak. Perut yang keroncongan tak lagi bisa diajak kompromi. Raminten jakal jadi jujugan kami untuk melepas lapar dan dahaga. Pras cukup terkesima dengan ukuran gelas es dawet Raminten. Hari itu menu kami sama makanan khas jogja, yakni gudeg.

Jam 19.30 kami harus segera cabut dari Jogja untuk menuju ibukota. Rasa sesal kudapati setelah beberapa jam kereta ekonomi ac itu kutumpangi. Batinku berkata alangkah baiknya jikalau aku lebih memilih kelas bisnis. Memang ACnya cukup dingin bahkan melebihi Sancaka. Tapi, kursi kelas ekonomi yang 900 itu memang tak bisa diajak kompromi. Istilah jowonya, boyokku pegeeel… Belum lagi air di toiletnya yang kotornya ra njamak.. Β 

Sekitar jam 6 pagi, kami tiba di Pasar Senen. Telat setengah jam dari jadwal. Setelah itu, kami bergegas untuk membeli tiket KRL tujuan Depok. Sekitar setengah jam lebih kami harus menunggu KRL datang. Sekitar satu jam perjalanan kami baru tiba di Depok. Di stasiun UI, mbak Anin telah siap menyambut. Tanpa menunggu lama, kami diajaknya ke kosan mas bara dengan menggunakan ojek yang dibayarinya. Hehe..

Setelah bersih diri dan mengembalikan energy melalui sarapan, kami menuju Ancol. Di waktu yang singkat itu, kami mengurungkan niat untuk main di Dufan dan lebih memilih ke Sea World. Setelah itu, kami berpisah di Gambir dimana aku bertemu dengan pakde yang membawa kami ke gedung BI dan Bandara Soekarno Hatta. Sekitar jam 9 malam kami baru tiba di rumah Pakde. Butuh waktu lima menit bagiku untuk menghilangkan kesadaran karena tertidur pulas. Entah dengan pras, yang jelas di bangun cukup siang hari itu.

Di hari kedua, kami mencoba berbagai moda transportasi. Bajaj mengantarkan kami ke pool taxi yang membawa kami menuju UI. Di UI yang kebetulan hari Jumat, kami bertemu Ami yang sangat mengecewakan itu.. Kami berjanji di Perpus Pusat UI untuk kemudian Shalat Jumat di Pertamina Hall FE UI. Setelah itu, Mbak Anin membawa kami menjelajahi Fisip dan PSJ. Menyenangkan.

Saat-saat mengasyikkan tiba ketika kami iseng-iseng ke FX untuk tujuan membeli light stick dan kaos JKT48. Kami sudah pesimis dengan kans untuk menonton teater mengingat kami tidak pesan tiket dari jauh hari. Jikalau berhasil nonton, kami anggap itu bonus. Tiba di FX, pak Pras rela antri untuk memenuhi hasratnya yang cukup besar itu. Sekitar satu jam kemudian, aku bergabung dengan Pras setelah dia menyadarkanku bahwa KTP Surabaya kami jadi kartu AS yang bakal membantu kami untuk masuk. Benar saja, kami mendapat prioritas untuk menonton konser idol grup Indonesia itu. Malam itu, kami sampai di Kosan Mas Bara untuk selanjutnya beristirahat sekitar jam 12.

Paginya, kami segera bergegas untuk angkat kaki dari Depok. Kami pergi ke Bandung dengan Bus Patas yang cukup nyaman. Sekitar tiga jam perjalanan, akhirnya kami bertemu dengan Ajay dan Dharma. Kami disambut cukup hangat oleh mereka, Aven, Yaya, dan Arin. Malamnya, kami curhat-curhatan sembari menikmati indahnya Kota Bandung dari Cartil. Di sana, kami menyusun kembali langkah-langkah pergerakan selanjutnya.

Keesokan harinya, kami membeli buah tangan di Kartika Sari. Tidak lupa, hasrat belanja dipenuhi di Trunojoyo. Waktu cukup singkat bagi kami untuk akhirnya segera bergegas ke stasiun. Di sana, kami hanya di antar oleh Ajay dan Dharma mengingat kesibukan yang lainnya. Liburan kami berakhir di situ. Perasaan senang menyelimuti diri. Beberapa saat setelah pergi dari Bandung, aku mengetwi : Daa Bandung! Daa Wacana!πŸ˜‰

Β 

Β 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s