Merealisasikan Wacana

Part 1

Judul tulisan ini kiranya mampu menggambarkan bagaimana liburan kali ini kujalani. Jeda antara semester 3 dengan semester 4 menjadi sebuah tantangan besar bagiku. Beberapa mimpi dan wacana penting memasuki masa deadline pada liburan kali ini. Terlebih lagi beberapa wacana itu terlontar dari diriku sendiri. Tentu saja ini menjadi sebuah ujian integritas, sesuatu yang susah didapat.

Setidaknya ada tiga agenda penting yang harus dituntaskan di liburan ini, yakni melanjutkan gerakan move on for smada, sosialisasi UGM bareng Arek SGM & Ikasmadabaya Korwil Yogyakarta, dan yang paling penting adalah Cibi goes to Bandung and Jakarta (Cigobanjak). Agenda terakhir jadi ujian terberat karena dari diri ini ide itu terlontar. Mau tidak mau, aku memiliki tanggung jawab besar akan terlaksananya acara itu.

Sosialisasi UGM adalah agenda pertama yang kulakukan setibanya aku di Surabaya. Hanya sempat beristirahat semalam, hal yang sudah menjadi impianku dan gontek sehabis masuk UGM ini menjadi kenyataan. SMA Al Hikmah yang menjadi tujuan pertama menyambut dengan luar biasa menyenangkan. Bapak Ibu guru BK sekolah Islam yang tidak mudah ‘dijangkau’ itu  memberikan keleluasaan bagi kami untuk mendapatkan kenyamanan selama melakukan sosialisasi. Memang banyak kekurangan di hari pertama. Namun, evaluasi yang dijalankan pasca kegiatan menjadi bekal berharga untuk hari berikutnya.

Hari berganti seiring berjalannya waktu. Setelah Al Hikmah, hari berikutnya adalah giliran SMA Santa Maria! Jelas ini destinasi menarik bagiku yang notabene sejak tk hingga perguruan tinggi selalu berada dalam naungan pemerintah. Selain itu, Sanmar yang merupakan sekolah swasta katolik jadi sesuatu yang sama sekali baru. Bangunan Sanmar yang telah berdiri sejak zaman kolonial membuat presentasi kali ini menarik. Di sekolah ini, lagi-lagi kami mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah, khususnya waka humas. Jadi satu kehormatan bagi kami untuk bisa presentasi di sini. Di akhir acara, kami bahkan diberi sekotak makanan. Sesuatu yang rasanya mustahil jika presentasi di sekolah negeri.

Akhirnya, giliran Smada tiba pada minggu berikutnya. Seharusnya Smada tidak lagi menjadi tanggung jawabku. Secara hierarkis, adek angkatanlah yang menjadi pioneer untuk masuk dan menembus ketatnya perizinan di Smada. Namun apa daya, Arek Smada 2012 hanya dua ekor yang masuk UGM. Kiki, anak IUP kedokteran yang tidak kunjung libur hingga pertengahan  februari dan Gontek anak TN lulusan Smada 2011 yang tidak bisa diandalkan untuk mengurus tetek bengek perizinan di Smada. Kecintaan pada almamater yang satu ini membuat rasa lelah tidak menyertai langkah ketika berupaya untuk memastikan bahwa pelaksanaan nanti akan berjalan dengan rapi.

Dalam presentasi kali ini, tentu saja kehadiran Ikasmadabaya Korwil Yogyakarta tidak bisa dikesampingkan. Meski berjalan pada koridor Arek SGM,  Ikasmada menjadi pemain inti pada saat presentasi di Smada. Memang sedari awal pembentukan Ikasmadabaya Korwil Yogyakarta, sosialisasi UGM di Smada merupakan salah satu agenda utama. Perlu dicatat bahwa Ikasmadabaya korwil Yogyakarta terbentuk jauh sebelum Arek SGM ada. Oleh karena itu, sebagai orang yang terlibat di kedua organisasi tersebut, aku persatukan kepentingan yang sama itu dalam sebuah kolaborasi.

Belajar dari tahun sebelumnya, aku mengajukan gagasan agar presentasi dilakukan sepulang sekolah. Siswa-siswi yang berminat masuk UGM akan disatukan dalam dua ruangan yang berbeda. Satu ruangan untuk siswa yang berminat ke jurusan IPA sementara ruangan kedua bagi siswa yang berminat ke jurusan IPS. Dasar pemikiranku ialah efisiensi waktu dan efektivitas presentasi. Aku meyakini jika seseorang sudah memiliki minat, kapanpun pelaksanaan presentasi akan didatangi. Namun, realita bahwa banyak anak yang memiliki jadwal les menjadi handicap yang tidak bisa dinafikan. Oleh karena itu, dengan dibagi menjadi dua kelas, kendala tersebut bisa diatasi.

Awalnya beberapa guru meragukan konsepku ini. Mereka berasumsi bahwa yang akan datang ke presentasi kami sedikit. Mereka mengingatkan aku supaya siap mental agar tidak kecewa. Meskipun ditakut-takuti oleh bapak ibu guru, entah kenapa aku memiliki keyakinan bahwa akan banyak yang hadir dalam presentasi itu. Memang bapak ibu guru mendasarkan asumsinya karena melihat pada beberapa presentasi serupa yang minim peserta. Namun, mereka menafikan strategi kami. Sejak jauh hari, kami melakukan pemberitahuan melalui media sosial dan saluran radio sekolah sehingga target kami tahu harus datang ke mana pada hari apa. Pada hari-H, sewaktu istirahat pertama kami memaksimalkan sarana Smada Local Radio dengan melakukan interview sehingga info tu tersebar ke berbagai penjuru Smada.

Saat pelaksanaan tiba, apa yang kuyakini terbukti kebenarannya. Animo Arek Smada khususnya untuk jurusan IPA amat sangat tinggi. Didukung oleh hujan yang turun di sela-sela presentasi, semua peserta menyimak dengan khusyuk apa yang kami sampaikan. Mereka dengan aktif bertanya akan berbagai macam hal yang sudah kupersiapkan jawabannya. Bisa dibilang, ini adalah salah satu presentasi paling sukses bagi Arek SGM. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ini merupakan capaian yang membanggakan bagi Ikasmadabaya korwil Yogyakarta.

Sejalan dengan persiapan Sosialisasi UGM, aku bersama teman-teman Move on for Smada mencoba kembali menggerakkan kereta yang terhenti di tengah jalan. Tujuan kami untuk menerbitkan bulletin edisi kedua dirubah menjadi penerbitan flyer yang diputuskan pada sebuah malam di hotel Surabaya Plaza. Gontek yang pada malam itu disepakati menjadi PO menggantikan Ajay dengan sigap membuat timeline yang menjadi pedoman bagi kami untuk menyelesaikan tugas mulia ini. Gerakan ini akhirnya menemukan bentuknya kembali.

Dua malam berikutnya, aku dan fahmy merancang kata-kata yang nantinya tertera dalam flyer tersebut. Sambil bersenda gurau, berguling-guling, menggunjing, dan menggalau, kami akhirnya menghasilkan sejumlah kalimat yang tertera pada flyer tersebut. Malam itu yang berbarengan dengan malam minggu berlalu dengan produktif. Tidak seperti malam-malam minggu sebelumnya yang berakhir di depan layar laptop.

Keesokan harinya, kutulis apa yang menjadi hasil kerja keras kami di dalam grup. Kemudian, tanggung jawab bergeser ke Nina sebagai layouter. Butuh sekitar 4 hari bagi nina untuk menyelesaikan tugasnya. Oleh karenanya, target kami untuk naik cetak tidak terpenuhi. Kami mencetak hanya sehari sebelum distribusi flyer. Di zaman yang serba canggih ini, mepetnya waktu tidak menjadi halangan bagi kami untuk merealisasikan apa yang telah diidam-idamkan.

Lima Februari menjadi hari ketika flyer itu berpindah tangan. Dengan bantuan dari Pak Hirman, kami mengumpulkan segenap ketua kelas XII untuk menerima flyer supaya diteruskan ke anak buahnya. Fahmy lagi-lagi menjadi tukang sepik yang memberikan wejangan bagi para ketua kelas mengenai kegunaan dari flyer itu sendiri. Alhamdulillah, kegiatan berjalan dengan lancar.

Kerja keras kami tidak sia-sia. Belum hilang raga ini dari Smada, ponsel bergetar menandakan adanya SMS yang masuk. Ah, dari Acil Rupanya! “Mas, ak sedih mbacae😦 wapik” itulah isi sms acil. Sederhana dan irit kata. Namun itu menandakan bahwa apa yang telah kami buat mendapat apresiasi positif. Ketika menanyakan bagaimana respon teman-temannya, Acil bilang bahwa flyer kami membuat teman cewek sekelasnya galau. Mereka tersadar bahwa satu sama lain akan segera berpisah. Acil menambahkan bahwa kata-kata yang ada gambar keretanya menjadi tamparan keras yang menyadarkan dimana posisi mereka saat ini. Apresiasi itu dilengkapi dengan realita bahwa animo Arek Smada untuk kuliah ke luar kota relative tinggi mengacu pada data yang dikumpulkan oleh BK. Alhamdulillah wa syukurilah, semoga apa yang kalian cita-citakan menjadi kenyataan dek :) 

To be continued..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s