Pengaruh Bahasa Rusia dalam Pembentukan Nasionalisme Rusia

Disusun Oleh :

M. Irfan Ardhani                                      

Arief Yuda Prasetyo                                 

Shangrila Rosiana                                   

Dwi Ayu Silawati                                     

M. Fedian                                              

Adinda Kusuma W.                                

Annisa Budiutami                             

Antovany Reza Pahlevi

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Keruntuhan Uni Soviet pada akhirnya memunculkan berbagai negara baru di dunia yang salah satunya adalah Rusia. Sebagai pewaris takhta Uni Soviet, Rusia dihadapkan pada situasi sulit. Di satu sisi mereka harus segera bangkit dari keterpurukan ekonomi yang menjadi salah satu penyebab runtuhnya Uni Soviet. Di sisi lain, sebagai negara yang baru lahir, mereka harus membangun tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara mulai dari nol. Sebagaimana dikatakan oleh Morozov:

“Creating a civic territorial nation in the post-Soviet Russian Federation was thus a monumental intellectual and practical project which required Russia ‘to be its own successor, to create a new identity based on the denial of the Soviet past, . . . to fall into emptiness [and] start its history from a blank slate’ (Morozov 2009, p. 429).”

Salah satu tantangan terberat yang dihadapi oleh sistem politik di belahan dunia manapun ialah bagaimana caranya membangun sebuah identitas bersama dan rasa kebersamaan diantara masyarakatnya.[1] Tidak mengherankan jika agenda pembangunan bangsa menjadi salah satu fokus yang tidak bisa dianggap remeh oleh Rusia. Sebagai negara yang multietnis, Rusia tentu dihadapkan pada sebuah kondisi yang rawan akan konflik. Oleh karena itu, pembangunan identitas bersama dan rasa kebersamaan memegang peranan penting untuk menghindari perpecahan tersebut.

Ketika kita bicara mengenai sebuah bangsa kita akan merujuk pada sekumpulan orang dengan identitas yang sama.[2] Berbagai cara dapat dilakukan dalam membangun identitas bersama dan rasa kebersamaan dalam sebuah bangsa, salah satu yang paling efektif adalah bahasa. Kembali ke abad XIX banyak cendekiawan Rusia, khususnya penulis dan kritikus sastra, beranggapan bahwa bahasa bisa dijadikan sebagai alat pemersatu etnis dan kelompok sosial di kerajaan[3]. Saat ini, Bahasa Rusia adalah bahasa resmi yang digunakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negara tersebut. Menjadi menarik untuk diteliti bagaimana pengaruh Bahasa Rusia dalam membangun identitas nasional negara ini. Oleh karena itu, paper ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana pengaruh Bahasa Rusia terhadap nasionalisme masyarakat Rusia.

1.2  Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh yang diberikan oleh Bahasa Rusia dalam pembentukan nasionalisme masyarakat Rusia?

1.3  Landasan Konseptual

Nasionalisme

Nasionalisme bisa dipahami sebagai sebuah gagasan yang meyakini bahwa dunia itu terbagi atas bangsa-bangsa yang menyediakan fokus utama pada identitas politik dan loyalitas yang pada gilirannya meminta national self-determination.[4] Di samping itu, nasionalisme juga bisa dipahami sebagai sebuah gagasan dalam pembentukan suatu rasa yang kuat terhadap identitas (sentiment) atau organisasi dan pergerakan yang ingin mewujudkan ide ini.

Dalam hal ini, kita menyadari bahwa nasionalisme tidak tiba-tiba muncul dalam sebuah komunitas meski mereka memiliki identitas yang sama. Nasionalisme bukanlah sesuatu yang given dan statis, melainkan sesuatu yang harus dibentuk dan dinamis.[5]

1.4  Argumentasi Utama

Bahasa Rusia berperan sebagai salah satu instumen utama dalam pembentukan nasionalisme masyarakat Rusia. Sebagai bahasa resmi yang digunakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Bahasa Rusia telah membentuk suatu identitas nasional Rusia yang bisa membedakan mereka dengan bangsa lain yang ada di dunia. Hal ini berujung pada terbentuknya identitas bersama dan rasa kebersamaan diantara masyarakatnya.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Penggunaan Bahasa Rusia di Era Uni Soviet dan Penetapan Bahasa Rusia sebagai Bahasa Resmi Rusia

Bahasa Rusia merupakan salah satu bahasa yang menggunakan karakter huruf Cyrillic yang diperkenalkan oleh orang-orang Byzantium. Bahasa Rusia yang kita kenal sekarang merupakan satu-satunya bahasa yang digunakan orang-orang Rusia di bawah pemerintahan Tsar hingga terjadi Revolusi Bolshevik tahun 1917. Revolusi Bolshevik kemudian menciptakan sebuah negara federal baru bernama Uni Soviet yang merupakan gabungan beberapa entitas sosial, politik, dan budaya yang memiliki banyak perbedaan dengan entitas Rusia bekas kekuasaan Tsar. Misalnya beberapa wilayah seperti Armenia, Georgia, dan beberapa wilayah di daerah Balkan lain memiliki bahasa aslinya, slavia. Begitu juga dengan wilayah Asia Tengah yang menggunakan bahasa Arab.[6]

Di awal pemerintahannya, Lenin memberikan kebebasan bagi negara-negara bagian untuk mengembangkan identitasnya melalui budaya, termasuk bahasa. Ini sejalan dengan pemikirannya bahwa demokrasi merupakan langkah awal bagi Uni Soviet untuk menuju negara sosialis, yaitu ketika etnis minoritas dapat mencapai kesetaraan status dengan masyarakat Rusia sebagai etnis mayoritas.[7] Namun, kebijakan ini tidak bertahan lama seiring dengan lengsernya Lenin dari pemerintahan Rusia. Stalin sebagai suksesor ternyata menerapkan kebijakan yang kontradiktif.

Pada akhir 1920an Stalin menginisiasi kebijakan Rusifikasi dengan menerapkan konsep nasionalisme korenizatsiia yang menunjukan sikap represif Stalin terhadap keragaman budaya. Alih-alih memberi kebebasan bagi etnis-etnis lain utnuk mengembangkan dan melestarikan budayanya, Stalin malah menerapkan sanksi bagi kegiatan yang mencerminkan etnisitas tertentu.[8] Ancaman Stalin ini dibuktikan dengan peristiwa Great Terror pada tahun 1936-1938 yang menggiring para tokoh yang ditengarai sebagai kelompok penggerak etno-nasionalisme serta sejumlah populasi masyarakat yang menolak penggunaan bahasa Rusia ke pengasingan di Siberia.[9] Selain itu, Stalin juga memberlakukan kebijakan transformasi huruf yang mengubah semua huruf  menjadi huruf cyrill dan tidak lagi menggunakan huruf romawi.

Kebijakan Rusifikasi terus berlanjut di pemerintahan Khruschev. Khruschev mewajibkan semua masyarakat di Uni Soviet untuk fasih berbahasa Rusia sebagai bentuk penerapan sosialisme. Ia menganjurkan pembelajaran bahasa Rusia diberikan sejak dini di sekolah-sekolah. Meskipun begitu, ia masih memberikan kelonggaran bagi orang tua untuk memilih bahasa apa yang ingin diajarkan pada putra-putrinya. Ironisnya, pada masa itu, kebanyakan orang tua beranggapan bahwa bahasa Rusia akan berdampak baik bagi karir anak-anaknya di masa depan. Mereka berbondong-bondong memasukan anaknya ke sekolah-sekolah berbahasa Rusia. Seketika itu pula, muncul asumsi bahwa bahasa Rusia lebih prestisius dan dapat memberikan jaminan karir yang lebih baik. Hasilnya, jumlah penutur bahasa asli daerah terus berkurang pada tahun 1960 hingga 1980an.[10]

Setelah Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, terbentuklah empat belas republik yang merdeka termasuk Federasi Rusia yang sering disebut-sebut sebagai negara ahli waris Uni Soviet. Semua negara-negara yang ada ini menggunakan bahasa rusia sebagai bahasa resmi di negara mereka, disamping bahasa daerah. Saat ini, bahasa Rusia menjadi bahasa yang penting dan merupakan salah satu bahasa utama yang digunakan di dunia. Bahasa Rusia juga merupakan salah satu bahasa resmi di PBB.[11] Dalam sebuah sensus baru-baru ini ada sekitar 153 juta orang yang tercatat menggunakan bahasa Rusia sebagai bahasa ibu mereka, dan sekitar 61 juta orang diindikasikan fasih menggunakannya sebagai bahasa kedua mereka.[12] Dan ada sekitar 220 juta wilayah di dunia yang menggunakan bahasa Rusia, sehingga akhirnya dapat disimpulkan ada sekitar 60% populasi orang di dunia ini yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa ini. 

Perkembangan yang semakin baik dari penggunaan bahasa Rusia di era sekarang ini, dapat terlihat dari dibukanya beberapa sekolah ataupun tempat-tempat kursus untuk mempelajari bahasa ini di Rusia. Ini dimaksudkan untuk mereka yang datang ke Rusia untuk belajar, melakukan penelitian ataupun untuk sekedar berlibur dapat memahami bahasa ini dengan baik untuk melancarkan komunikasi mereka. Seperti kita tahu, jika lebih dari seperempat literature ilmiah dunia diterbitkan dengan menggunakan bahasa Rusia dan berbagai sistem komunikasi dunia juga menggunakan bahasa Rusia, disamping bahasa Inggris. Oleh sebab itu penting jika akhirnya banyak sekolah-sekolah ataupun tempat kursus di Rusia bahkan di luar Rusia yang memberikan pengajaran tentang penggunaan bahasa Rusia sebagai salah satu bahasa yang penting di dunia.

2.2 Penggunaan bahasa Rusia dalam Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Rusia

Penggunaan bahasa Rusia pada pemerintahan Uni Soviet menjadi ‘pengikat’ bagi etnis-etnis non-Rusia. Setelah itu, bahasa Rusia menjadi sebuah bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh rakyat Uni Soviet. Maka nation-building dibangun melalui penggunaan bahasa.

Namun, setelah keruntuhan Uni Soviet, Rusia memperbolehkan bahasa selain bahasa Rusia dalam komunikasi sehari-hari dalam hal ini adalah bahasa lokal disetiap daerah. Pelembagaan bahasa lokal ditujukan untuk memperkaya bahasa Rusia itu sendiri. Namun sebelum itu pemerintah Rusia menetapkan bahasa Rusia sebagai bahasa negara. Bahasa etnis lokal akan ditetapkan di daerah-daerah dimana teradapat komunitas etnis-etnis lokal yang mayoritas. Kebijakan penetapan bahasa merupakan komponen utama dalam pembentukan negara Rusia. Kebijakan penetapan bahasa ditujukan untuk memberikan kesempatan bagi etnis non-Rusia untuk menggunakan dan mengembangakan bahasa asli tiap etnis. Setidaknya terdapat sekitar 20% etnis non-Rusia di wilayah Rusia.

Ketika dalam sebuah komunitas terdapat beberapa bahasa yang sekaligus digunakan dalam berkomunikasi, maka akan mengakibatkan asimilasi diantara bahasa-bahasa tersebut. Pemerintahan Rusia melihat ini akan memperkaya bahasa Rusia itu sendiri. Bahasa Rusia tetap sebagai bahasa negara. Posisi bahasa Rusia sebagai pengikat dari berbagai etnis tersebut. Pengikat inilah yang akan berkembang menjadi nasionalisme.

Menurut sensus penduduk tahun 2002, pemerintah menemukan bahwa 80 dari 160 bahasa di Rusia memiliki standar bahasa. Bahasa-bahasa tersebut dilindungi oleh hukum federal “Bahasa Rakyat Federasi Rusia”.

Dalam penanam nasionalisme bahasa ini, peran sektor pendidikan sangat penting. Maka pemerintah Rusia memasukkan bahasa Rusia sebagai bagian penting dalam kurikulum pendidikan. Selain bahasa Rusia, bahasa lokal pun juga diatur.

Tahun akademik 2003/2004, Rusia memiliki 6260 lembaga pendidikan umum dengan bahasa lokal (9,9% dari jumlah total sekolah), dan di 10404 sekolah bahasa lokal diajarkan (16,4%). Bahasa Tatar, Bashkir, Chouvash adlaah yang terbanyak diajarkan setelah bahasa Rusia.

Dalam pengajaran, pemerintah membagi sekolah menajdi lima model :

Model 1. di mana pengajaran yang diberikan dalam bahasa asli dari 1 sampai kelas 11, dan bahasa Rusia ditawarkan sebagai mata pelajaran tersendiri (Tatarstan, Bashkiria, Sakha (Yakutia)).

Model 2. di mana pengajaran dilakukan dalam bahasa ibu sampai ke 7 atau ke nilai 9, dan di mana bahasa Rusia sebagai mata pelajaran tersendiri, untuk kelas yang tinggi pengajaran menggunakan ahasa Rusia (sekolah pedesaan Touva, Buryatia, Chouvashia , Kalmykia, sekolah di kaukus Utara dan sekolah-sekolah perkotaan Tataria dan Bashkortostan).

Model 3. di mana pengajaran dilakukan dalam bahasa lokal sampai kelas 4, bahasa Rusia ditawarkan sebagai subjek, dan transisi lebih lanjut untuk bahasa Rusia sebagai bahasa pengantar (sekolah perkotaan Touva, Kalmykia, Adygeia, Ossetia Utara-Alania, Kabardino-Balkaria, Karachaevo-Cherkesssia, Mariy-El, Mordovia dan lain-lain).

Model 4. di mana pengajaran dari 1 sampai kelas 11 dilakukan dalam bahasa Rusia, dan ada studi yang lebih mendalam tentang bahasa dan budaya lokal (Karelia, Mordovia, Mariy-El, Udmurtia, Komi, Komi- Permyak, budaya yang dipelajari tentang wilayah yang sangat jauh, seperti Utara Jauh, Siberia dan studi Timur Jauh).

Model 5. di mana pengajaran dari 1 sampai kelas 11 dilakukan dalam bahasa asli, dengan transisi lebih lanjut untuk bahasa Rusia sebagai bahasa pengantar (di luar Lingkaran Kutub,Yamalo-Nenetski).

Dengan adanya sistem ini, kan menjamin bahasa Rusia sebagai bahasa persatuan di Rusia. namun penggunaan bahasa Rusia tidak serta merta menghilangkan bahasa lokal. Bahasa lokal dijadikan sebagai alat untuk mempertambah kekakayaan bahasa Rusia itu sendiri.

2.3. Analisis Pengaruh Bahasa Rusia dalam Pembentukan Nasionalisme Masyarakat Rusia

            Pembentukan nasionalisme sebuah bangsa sangat erat kaitannya dengan bentuk karakterisik dari bangsa itu sendiri. Karakteristik merupakan acuan dasar sekaligus panduan dalam membentuk nasionalisme. Nasionalisme mengacu pada hasil serangkaian proses guna membentuk karakter sebuah bangsa.

Bahasa Rusia dalam hal ini merupakan elemen pembentuk karakter itu sendiri. Dari kajian yang telah diulas pada bab sebelumnya, dapat dicermati bahwa dengan dipergunakannya bahasa Rusia sebagai bahasa nasional di Rusia hingga saat ini, merupakan suatu strategi yang digunakan Rusia untuk terus membangun dan memperkuat kesatuan bangsa Rusia. Hal tersebut sangat jelas sekali, seperti yang diungkapkan Fishman mengenai fungsi bahasa dalam konteks nasionalisme, “language serves a link with“the glorious past” and with authenticity.Bahasa bukanlah sekedar wahana sejarah suatu nasionalitas.Bahasa  adalah sejarah itu sendiri.Sebuah bangsa dapat dikatakan memiliki otentitas baik jika suatu  bangsa atau nasionalitas tersebut memiliki ciri dalam bahasanya sendiri ( bukan bahasa nasionalitas yang lain atau yang disadur dari wilayah lain) sebagai komponen dan simbol nasionalismenya.[13]Strategi yang dilakukan oleh pemerintah Rusia mengenai penerapan kebijakan penggunaan bahasa Rusia sebagai bahasa nasionalitas sangatlah tepat. Hal tersebut tidak terlepas dari sejarah bahasa Rusia, yang mana merupakan bahasa yang telah dipergunakan sejak periode Tsar hingga sebelum Revolusi Bolshevik, lalu dipergunakan kembali saat Stalin memimpin sampai sekarang.Sehingga dengan kurun waktu penggunan yang cukup lama, tentunya bahasa Rusia adalah bahasa yang memiliki nilai historikal, karakteristik kuat, serta telah melekat pada kehidupan masyarakat Rusia.

Kebijakan pemerintah Rusia untuk tetap menggunakan bahasa Rusia sebagai bahasa nasionalitas masyarakatnya juga tak lepas dari salah satu fungsi bahasa sebagai alat pemersatu bangsa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Garvin dan Mathiot (1956).Mereka berpendapat bahwa sebuah bahasa pada dasarnya memiliki dua fungsi, yaitu unifying (pemersatu) dan pemisah (separatist).Fungsi yang pertama yakni unifying, mengacu ke perasaan para anggota suatu nasionalitas yang menyadari bahwa mereka disatupadukan serta diidentifikasikan dengan orang lain yang menggunakan bahasa yang sama,Sedangkan di fungsi kedua, merujuk ke perasaan para anggota suatu nasionalitas bahwa mereka berbeda dan terpisah dari orang-orang yang berbahasa lain.Fungsi itulah yang berusaha diterapkan oleh pemerintah Rusia.Ekspektasi pemerintah Rusia terhadap penggunaan bahasa Rusia sebagai bahasa nasional adalah pemerintah menginginkan munculnya rasa kesadaran yang kuat di diri masyarakat Rusia bahwa dengan mereka menggunakan bahasa nasional pada berbagai aktivitas sehari-hari, merupakan tanda bahwa seluruh masyarakat Rusia adalah sebuah entitas kesatuan yang besar, serta memiliki karakteristik tersendiri dalam kebangsaan.

Selain itu, kebijakan pemerintah Rusia mengenai penggunaan bahasa Rusia sebagai bahasa nasional juga tidak terlepas dari tujuan untuk mengcounter arus asing yang masuk yang merupakan dampak dari berkembangnya Globalisasi di dunia. Hal tersebut juga dijelaskan oleh Waters (1995:3) bahwa saat ini kita sedang berada di dakam era globalisasi yang mengacu pada proses sosial dimana batas-batas negara pada akhirnya akan mengabur  “.. in which the constraints of geography on social and cultural arrangements recede and in which people become aware that they are receding”. Dalam kondisi tersebut, bahasa nasional sangat terasa sekali kegunaannya, yakni sebagai pemberi ciri khas dan identitas terhadap suatu bangsa yang mendiami sebuah negara.

Dilihat dari serangkaian perkembangan penggunaan bahasa Rusia semenjak bangsa tersebut masih dalam bentuk federasi Uni Soviet hingga berganti menjadi negara Rusia, ada beberapa faktor yang bisa dianalasis lebih lanjut.

 

  1. 1.      Redefinisi Konsep Penggunaan Bahasa Rusia

    Pemahaman mengenai definisi konsep penggunaan bahasa Rusia mengalami perkembangan dalam proses yang sangat panjang. Pada awal masa pemerintahan Lenin sebagai pengganti kekuasaan Tsar, definisi penggunaan bahasa Rusia mendapatkan ruang yang sangat luas dengan  diterimanya pengaruh bahasa lokal yang dimaksudkan untuk memperkaya bahasa Rusia itu sendiri. Lenin mengedepankan etos demokrasi sosialis untuk membangun karakter bangsa dari rakyat Rusia pada saat itu. Namun, ketiga pemerintahan berganti pada masa kekuasaan Stalin, terjadi perombakan definisi tersebut. Stalin mengedepankan rusifikasi sebagai penguatan karakter bangsa. Definisi penggunaan bahasa Rusia dipersempit dengan membatasi penggunaan huruf cyrillic sebagai huruf untuk bahasa Rusia dan melarang penggunaan huruf romawi. Perlakuan terhadap kontribusi budaya dan bahasa lokal pun dibatasi. Fungsi ethno-nationalism dimatikan dan “pemaksaan” terhadap pengajaran bahasa Rusia dari tingkat pendidikan dasar mulai dijalankan.

    Perubahan definisi ini tidak dapat dilihat secara sepihak dimana satu pihak lebih baik dari pihak yang lain atau sebaliknya. Pada kenyataannya, dua pendekatan ini mempunyai efek masing-masing. Bisa dilihat bahwa “penguatan” ala Stalin merangsang karakter prestige dari bahasa Rusia itu sendiri. Bahasa Rusia menjadi jaminan bahwa rakyat yang mampu menguasai bahasa tersebut memiliki masa depan karir yang lebih baik. Karakter yang dibangun bukan semata-mata pada kerangka linguistik tapi lebih kepada pembangunan nilai sebuah bahasa dalam masyarakat. Kemudian setelah itu terjadi titik balik dimana definisi penggunaan bahasa Rusia kembali pada konsepsi semula semenjak runtuhnya rezim Uni Soviet. Hubungan antara “ethno” dan “civic” kembali membaik dan karakter linguistik bahasa Rusia dapat dibangun kembali.

  1. 2.      Persepsi Masyarakat Rusia terhadap Bahasa Nasional

    Masyarakat adalah pendukung utama karakter sebuah bangsa. Sebagus apapun konsep nation building yang dilakukan apabila tidak mendapatkan respon yang bagus dari rakyat, karakter bangsa yang dicita-citakan tidak akan tercapai. Persepsi masyarakat mencerminkan sebuah kondisi dimana diterima atau tidaknya sebuah konsep pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah, termasuk konsep penggunaan bahasa Rusia sebagai bahasa nasional. Dalam hal ini, kami melihat adanya sebuah pembentukan karakter yang kuat tentang penggunaan bahasa Rusia pada masyarakatnya.

    Sejarah perkembangan bahasa Rusia semenjak periode Uni Soviet hingga negara federasi Rusia masa sekarang melahirkan persepsi yang kuat pada diri masyarakat Rusia. Bahasa Rusia memiliki tempat yang cukup tinggi dalam pemanfaatannya secara fungsionalitas bahasa dan manfaat struktural dalam masyarakat. Secara fungsionalitas, bahasa Rusia telah berkembang dan mempunyai wilayah ekspansi penggunaan yang sangat luas. Selain menjadi salah satu bahasa PBB, bahasa Rusia juga digunakan dalam lingkup melebihi wilayah negara Rusia itu sendiri. Hal ini memicu adanya penguatan karakter yang kuat dengan pencapaian-pencapaian yang diberikan oleh bahasa Rusia. Secara struktural, orang yang memiliki kemampuan penggunaan bahasa Rusia yang baik memiliki posibilitas lebih besar untuk memperbaiki karier dan pekerjaan mereka. Karena bahasa Rusia merupakan bahasa khas tersendiri baik dalam hal pemerintahan, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan potensi Rusia itu sendiri.

  1. 3.      Kebanggan dan Pembentukan Nasionalisme Rusia

    Seperti yang telah disinggung sebelumnya, bahwa bahasa Rusia memberikan dampak positif secara fungsional dan struktural, hal ini juga secara langsung membentuk kebanggaan (pride) dalam masyarakat Rusia itu sendiri. Kebanggaan (pride) dalam sebuah proses pembentukan karakter, adalah aset yang sangat berharga. Ketika masyarakat Rusia memiliki kebanggaan terhadap bahasa dan bangsanya, identitas nasional akan terbentuk dengan sendirinya. Hal ini didukung dengan redefinisi pendekatan pengunaan bahasa rusia yang kooperatif dengan budaya lokal yang mengakar di beberapa daerah di Rusia. Bahasa Rusia berkembang dengan pola yang kolaboratif dengan akar budaya yang berkembang, sehingga hal ini diterima secara positif dalam membentuk identitas bersama masyarakat Rusia. Nasionalisme adalah kecintaan masyarakat terhadap bangsa dan negaranya. Hal-hal yang mendukung proses kecintaan tersebut sangat menguntungkan karena bisa memperkuat pondasi nasionalisme. Pada akhirnya, bahasa Rusia terbukti sebagai salah satu komponen penting yang mendukung terciptanya penguatan nasionalisme di Rusia.


Kesimpulan

Bahasa Rusia memberikan pengaruh tersendiri terhadap nasionalisme masyarakat Rusia. Pengaruh bahasa Rusia terhadap nasionalisme masyarakat Rusia ditunjukkan melalui peran bahasa Rusia dalam memberikan gambaran tentang identitas bangsa Rusia itu sendiri. Bahasa Rusia telah menjadi alat yang mengikat masyarakat Rusia, baik yang beretnis Rusia maupun non Rusia, yang menyatukan mereka sebagai sebuah bangsa, yaitu bangsa Rusia. Secara singkat, bangsa bisa diartikan sebagai sekumpulan orang yang memiliki kesamaan identitas.[14] Dalam hal ini, identitas bangsa Rusia tidak terbentuk dengan sendirinya, tetapi memang sengaja dibentuk.

Kesamaan identitas Rusia dibentuk melalui bahasa. Seperti yang telah dibahas di bab – bab sebelumnya, terlihat sekali keseriusan pemerintah  Rusia dalam membentuk kesamaan identitas ini melalui penggunaan Bahasa Rusia yang dilakukan dengan jalan menjadikan Bahasa Rusia sebagai bahasa resmi dan juga melalui bidang pendidikan. Menyadari bahwa masyarakat Rusia adalah masyarakat yang multietnis, pemerintah Rusia lalu berusaha menyatukan masyarakat Rusia yang multietnis melalui pembentukan identitas.

Bahasa Rusia selain berfungsi sebagai alat pemersatu, ternyata juga berfungsi sebagai alat pemisah. Bahasa Rusia sebagai alat pemersatu artinya bahasa Rusia mengikat masyarakat multietinis yang ada di rusia menjadi satu kesatuan yaitu bangsa rusia dan bahasa Rusia sebagai alat pemisah dalam artian bahasa Rusia memberikan garis pemisah yang jelas siapa yang masuk ke dalam bangsa rusia dan siapa yang bukan.

Pada akhirnya, pembangunan bangsa melalui Bahasa Rusia tidak akan berarti jika Bangsa Rusia itu sendiri sebagai objek pembangunan tidak memiliki tanggapan positif. Namun demikian, realita menunjukkan pada kita bahwa Bangsa Bahasa Rusia memiliki tempat yang cukup tinggi dalam pemanfaatannya secara fungsionalitas bahasa dan manfaat struktural dalam masyarakat. Bahasa Rusia berkembang dengan pola yang kolaboratif dengan akar budaya yang berkembang, sehingga hal ini diterima secara positif dalam membentuk identitas bersama masyarakat Rusia. Hal tersebut berimplikasi pada kebanggaan masyarakat Rusia akan identitasnya sebagai bangsa Rusia.

 

Daftar Pustaka

Buku

Almond, G., et.al, ‘Comparative Politics Today; A world View’, Pearson Longman, New York, 2008

Baylis, J., et.al, ‘The Globalization of World Politics’, Oxford University Press, New York, 2011

Brubaker, R., ‘Ethnicity, race, and nationalism’, Annual Review of Sociology, 35. Department of Sociology, University of California, Los Angeles, California, 2009.

Comrie B., et.al, ‘The Russian Language in the Twentieth Century (2nd ed.)’, Oxford University Press, Oxford, 1996.

Gorenburg, D.,  ‘Soviet nationalities policy and assimilation.Rebounding Identities: The Politics of Identity in Russia and Ukraine’, 2006

Purwanto, B., ‘Memahami Kembali Nasionalisme Indonesia’, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 4, No. 3, Maret 2001

Suny , R. G. (ed),  ‘The Cambridge History of Russia Volume III : The Twentieth Centur’y, Cambridge University Press, Cambridge, 2006

Sussex, R., Cubberley, P., ‘The Slavic languages,  Cambridge University Press, Cambridge, 2006

Tolz, V., “Forging The Nation: National Identity and Nation Building in Post Communist Rusia”, Europe-Asia Studies, Vol. 50 No. 6, 1998

 

Artikel Online

Schiffman, H., Language Policy in The Former Soviet Union, (online), 19 November 2002, <http://ccat.sas.upenn.edu/~haroldfs/540/handouts/ussr/soviet2.html>, diakses pada 17 Desember 2012

Gorenburg, D., ‘Soviet Nationalities Policy and Assimilation’, (online), 2002, <http://www.people.fas.harvard.edu/~gorenbur/gorenburg%20assimilation.pdf>

Khaleeva ,I., Teaching National Languages In Russia, Moscow State Linguistic University, <http://www.coe.int/t/dg4/linguistic/Source/Khaleeva-paper.doc> diakses pada 18Desember 2012

Leprêtre, M.. ‘Language Policy in the Russian Federation: language diversity and national identity’ < http://www6.gencat.net/llengcat/noves/hm02primavera/internacional/a_marc.pdf>, diakses pada 19 Desember 2012.

Russian language helpers, History of the language(online), <http://www.languagehelpers.com/languagefacts/russian.html>, diakses pada tanggal 17 Desember 2012

Shevel, O., ‘Russian Nation-building from Yel’tsin to Medvedev: Ethnic, Civic or Purposefully Ambiguous?’. EUROPE-ASIA STUDIES Vol. 63, No. 2, March 2011, 179–202<http://isites.harvard.edu/fs/docs/icb.topic978083.files/Shevel_Russian%20Nationa%20Building%20from%20Yelstin%20to%20Medvedev.pdf&gt; diakses pada 18 Desember 2012.


[1] G. Almond, et.al, “Comparative Politics Today; A world View”, Pearson Longman, New York, 2008, hal. 13.

[2] G. Almond, et.al, “Comparative Politics Today; A world View”, Pearson Longman, New York, 2008, hal. 13.

[3] V. Tolz, “Forging The Nation: National Identity and Nation Building in Post Communist Rusia”, Europe-Asia Studies, Vol. 50 No. 6, 1998, hal. 1000.

[4] J. Baylis, et.al, ‘The Globalization of World Politics’, Oxford University Press, New York, 2011,  hal. 570

[5] B. Purwanto, ‘Memahami Kembali Nasionalisme Indonesia’, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Vol. 4, No. 3, Maret 2001, hal. 244.

[6] H. Schiffman, ‘Language Policy in The Former Soviet Union’, (online), 19 November 2002, <http://ccat.sas.upenn.edu/~haroldfs/540/handouts/ussr/soviet2.html>, diakses pada 17 Desember 2012

[7]D. Gorenburg, ‘Soviet Nationalities Policy and Assimilation’, (online), 2002, <http://www.people.fas.harvard.edu/~gorenbur/gorenburg%20assimilation.pdf>, hal 7-8

[8]R.G. Suny (ed),  ‘The Cambridge History of Russia Volume III : The Twentieth Centur’y, Cambridge University Press, Cambridge, 2006, hal. 210

[9] D. Gorenburg,  ‘Soviet nationalities policy and assimilation.Rebounding Identities: The Politics of Identity in Russia and Ukraine’, 2006, hal 9.

[10]  D. Gorenburg,  ‘Soviet nationalities policy and assimilation.Rebounding Identities: The Politics of Identity in Russia and Ukraine’, 2006, hal. 10-12

[11] Russian language helpers, History of the language(online), <http://www.languagehelpers.com/languagefacts/russian.html>, diakses pada tanggal 17 Desember 2012

[12] Russian language helpers, History of the language(online), <http://www.languagehelpers.com/languagefacts/russian.html>, diakses pada tanggal 17 Desember 2012

[13] A. Moeliono, ‘Kajian serba Linguistik’, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2000, hal. 51-55

[14] G. Almond, et.al, “Comparative Politics Today; A world View”, Pearson Longman, New York, 2008, hal. 13.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s