Studi Perdamaian dalam Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UGM

“By peace we mean the capacity to transform conflicts with empathy, without violence, and creatively-  a never-ending process;” Johan Galtung

Sedari awal kemunculannya hingga kini, studi hubungan internasional tidak bisa dilepaskan dari studi perdamaian. Keduanya berjalin berkelindan, melengkapi satu sama lain. Lebih dari itu, Buzan berpendapat bahwa studi hubungan internasional tiada lain bicara mengenai perdamaian. Sebagaimana yang terjadi di dunia bagian lain, hubungan internasional Universitas Gadjah Mada juga menunjukkan tren yang sama. Tulisan ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana studi perdamaian berkembang di HI UGM selama 50 tahun terakhir.

Relevansi Studi Perdamaian dengan Studi Hubungan Internasional

Bicara masalah relevansi antara studi perdamaian dan studi hubungan internasional, ada dua kata yang bisa menggambarkannya : sangat relevan! Di satu sisi, menurut Buzan studi hubungan internasional itu ditujukan untuk mencapai perdamaian. Di sisi yang lain, studi perdamaian mencoba untuk memahami apa itu perdamaian, bagaimana permasalahan perdamaian berlangsung di masyarakat, dan bagaimana cara untuk mencapai perdamaian. Pada titik ini kita menemukan persinggungan antara studi hubungan internasional dan studi perdamaian : mencapai perdamaian. Dalam hal ini, studi Hubungan Internasional berupaya untuk melepaskan dahaga kalangan luas akan minimnya teori internasional (Wight, 1966). Lebih lanjut, Wight mengatakan bahwa hubungan internasional memfokuskan kajiannya pada permasalahan survival. Bukankah survival juga menjadi perhatian utama dari studi perdamaian?

Menurut Buzan, teori-teori yang muncul dalam hubungan internasional berguna untuk membuka jalan menuju perdamaian. Realisme memahami bahwa perdamaian dapat ditemui dalam balance of power antarnegara, ataupun mungkin dengan adanya suatu hegemon. Idealisme memahami perdamaian sebagai keadaan ketika negara dan individu berada dalam kebebasan, sejahtera, dan tidak ada ancaman. Liberalisme melihat bahwa perdamaian ada dalam institusionalisasi norma liberal dari ekonomi politik internasional yang berbasis pada kerjasama saling menguntungkan antara satu pihak dengan pihak yang lain. Marxisme menghendaki tercapainya perdamaian dengan penghilangan kelas yang menjadi dasar dari penindasan melalui sebuah revolusi. Teori yang lain juga mengandung sebuah panduan bagi pihak yang berteori dalam menghadapi permasalahan survival yang melanda mereka guna mewujudkan perdamaian yang mereka kehendaki.  

Perkembangan Studi Perdamaian di Hubungan Internasional UGM

Dengan memahami argumen Buzan, kita bisa menyimpulkan bahwa apa yang dipelajari di HI UGM adalah studi perdamaian. Sebagai jurusan hubungan internasional pertama yang ada di Indonesia, HI UGM setidaknya telah melewati empat generasi yang berbeda dalam studi perdamaian. Hal ini ditegaskan oleh Ketua Program Studi S1 HI UGM, Eric Hiariej. Eric mengatakan bahwa generasi pertama studi perdamaian yang ada di HI UGM hanya fokus melihat perdamaian pada konteks konflik yang terjadi antarnegara. Ichlasul Amal dan Jahja Muhaimin adalah tokoh-tokoh yang dari generasi pertama studi perdamaian di HI UGM. Seiring berjalannya waktu, fenomena ekonomi yang muncul tahun 1970-an yakni peristiwa oil boom membuat adanya pendekatan baru dalam studi perdamaian. Generasi kedua ini mulai melirik adanya kaitan antara perdamaian dan konflik dengan masalah perekonomian. Dalam pendekatan ini, studi Ekonomi Politik Internasional menjadi penggerak utama. Mohtar Masoed adalah pioneer yang membawa pendekatan ini ke Indonesia.

Setelah itu, generasi ketiga studi perdamaian HI UGM membawa gagasan bahwa perdamaian erat kaitannya dengan human security. Konflik antara satu negara dengan negara yang lain adalah upaya dari negara untuk melindungi warganya. Terakhir, generasi keempat studi perdamaian di HI UGM menggunakan pendekatan identitas dalam memahami permasalahan perdamaian. Pendekatan ini mendapat momentumnya saat serangan Al Qaeda terhadap menara kembar WTC, 11 September 2001. Menurutnya, banyak konflik disebabkan oleh adanya pelecehan identitas suatu pihak terhadap pihak yang lain. Pelecehan ini berujung pada berbagai macam konflik bersenjata ataupun aksi terorisme yang akhir-akhir ini cukup marak. Dalam perkembangannya, pendekatan ini menemukan fenomena individualisasi dalam aksi untuk melawan peleceh identitas.

Studi Perdamaian di Hubungan Internasional UGM Saat ini

Saat ini, perdamaian adalah tujuan yang hendak dicapai oleh HI UGM. Tujuan tersebut termanifestasikan dengan jelas dalam Visi Jurusan HI UGM, yakni menjadi program studi yang “Mengembangkan pelayanan/pengabdian kepada masyarakat berdasarkan penelitian di bidang ilmu hubungan interasional yang memiliki komitmen terhadap bina masyarakat global yang adil, damai dan beradab”. Visi tersebut diwujudkan melalui berbagai macam mata kuliah yang ditawarkan pada mahasiswa. Secara garis besar ada lima mata kuliah minat topic yang ditawarkan, yaitu teori, politik luar negeri dan keamanan internasional, ekonomi politik internasional, perbandingan politik, dan isu-isu mutakhir.

Di awal kita telah sependapat bahwa hubungan internasional bicara masalah perdamaian. Namun demikian, perdamaian menjadi suatu topik tersendiri yang sangat menarik untuk dipahami. Hal ini difasilitasi oleh Universitas Gadjah Mada dengan membentuk Pusat Studi Perdamaian dan Keamanan (PSKP) pada tahun 1996. Diprakarsai oleh Jahja Muhaimin bersama Teuku Jacob, PSKP telah menjadi lembaga yang berperan aktif dalam pengembangan studi perdamaian dan upaya binadamai di Indonesia. Banyak dosen HI UGM yang juga aktif dalam berbagai kegiatan di PSKP. Salah satunya ialah Mohtar Masoed yang juga menjadi kepala PSKP.

Minat topik politik luar negeri dan keamanan internasional[1] adalah minat topic yang khusus memfasilitasi mahasiswa untuk memahami apa dan bagaimana perdamaian itu. Tepatnya pada tahun 1997, HI UGM mulai membuka kelas Pengantar Studi Perdamaian (PSP). Mata kuliah yang satu ini ibarat pintu masuk bagi mahasiswa untuk memahami apa dan bagaimana perdamaian itu. Awalnya, kelas PSP diampu oleh Indonesianis asal Australia Herbert Feith (1930-2001), Lance Castles, dan salah seorang penggiat perdamaian terkemuka di Indonesia yang juga dosen HI UGM Rizal Panggabean. Setiap tahunnya, PSP selalu menjadi mata kuliah favorit bagi mahasiswa. Tingkat keterisian kelas bahkan mencapai lebih dari 90%. Padahal kelas ini memiliki kuota sebanyak 100 kursi!

Metode pengajaran yang inovatif dan melibatkan partisipasi aktif dari mahasiswa menjadi salah satu daya tarik kelas yang kini diampu oleh Rizal Panggabean dan Titik Firawati. Materi yang relatif “berat”, mampu ditransfer ke mahasiswa melalui cara yang mudah dan mengasyikkan. Di akhir kelas, biasanya mahasiswa diberi tugas untuk membuat proyek secara berkelompok. Mahasiswa akan mempotret kasus-kasus perdamaian yang ada di sekitarnya untuk kemudian dianalisis menggunakan konsep-konsep yang telah mereka dapat. Lalu, mahasiswa akan mempresentasikan hasil proyeknya melalui cara-cara kreatif seperti membuat film dan role play. 

Pada tingkat lanjut, mahasiswa ditawarkan dengan berbagai macam mata kuliah aplikatif yang linier dengan studi perdamaian. Sebut saja mata kuliah konflik : analisis dan transformasi. Dalam mata kuliah tersebut, mahasiswa dibekali kemampuan untuk memahami konflik dan cara-cara untuk resolusi konflik tersebut. Di samping itu, mahasiswa juga bisa mengambil mata kuliah negosiasi dan resolusi konflik yang mengajari mahasiswa bagaimana cara-cara praktikal untuk menghadapi perundingan-perundingan dalam upaya menyelesaikan konflik.  Selain itu, HI UGM juga menawarkan mata kuliah minoritas dan integrasi nasional, strategi, studi keamanan internasional, dan politik internasional yang juga menjadi bagian dari minat topik politik luar negeri dan keamanan internasional.

Kesimpulan

Dalam perjalanannya kurang lebih setengah abad ini, HI UGM telah mengalami empat generasi dalam studi perdamaian. Perkembangan ini sangat erat kaitannya pada upaya untuk memahami kondisi global yang sedang berlangsung dan diartikulasikan melalui berbagai macam teori di hubungan internasional. Coba menggali studi perdamaian yang berkembang di HI UGM, kita akan menyadari bahwa perdamaian adalah sebuah tujuan yang harus kita capai melalui sebuah proses yang panjang dan tidak mudah.  Di sini, kita akan kembali pada ungkapan Johan Galtung, “By peace we mean the capacity to transform conflicts with empathy, without violence, and creatively-  a never-ending process;”


[1] Terdiri atas mata kuliah Diplomasi (Inti minat topic), Politik Internasional, Negosiasi dan Resolusi Konflik, Konflik : Analisis dan Transformasi, Strategi, Masalah Minoritas dan Integrasi Nasional, Studi Keamanan Internasional, Pengantar Studi Perdamaian, dan Hukum Humaniter Internasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s