Pertama untuk Arek SGM

Ibarat manusia, Arek SGM adalah bayi yang baru lahir. Organisasi mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang berasal dari Kota Surabaya ini terbentuk kurang lebih dua bulan yang lalu. Dari sebuah warung kecil di pinggiran Jalan Kaliurang Yogyakarta, beberapa Arek Suroboyo 2011 mengeluarkan uneg-unegnya, menyatukan pandangannya dan membulatkan tekad untuk membentuk komunitas yang akan menaungi arek-arek Suroboyo selama masa perantauannya di ranah kota gudeg.

Tidak berselang lama dari pertemuan di warung kecil pinggir jalan kaliurang, Arek SGM mengadakan pertemuan keduanya. Tempatnya lebih mbejaji, di Hoka-Hoka Bento beberapa ratus meter dari warung tersebut. Tidak hanya tempat yang lebih baik, jumlah mahasiswa yang hadir juga lebih banyak. Meskipun tidak sebanyak jumlah Bonek yang hadir dalam pertandingan Persebaya vs Persiba Bantul, mahasiswa yang hadir cukup untuk mereprentasikan banyak dan beragamnya arek Suroboyo yang menimba ilmu di kampus kerakyatan. Realita yang jarang disadari sebelum pertemuan kedua ini.

Satu kesepakatan penting tercapai dalam pertemuan itu, MEMBUKA STAN DALAM PENDAFTARAN ULANG MAHASISWA BARU UGM. Beberapa anak telah diserahi tugas untuk menjaga dan mendata adik-adik dari kota buaya. Sebagai pemanasan, beberapa dedengkot yang menjadi admin akun twitter @Arek_SGM akan berselancar di social media untuk menjaring pemimpin-pemimpin masa depan itu. Sayang, hasil mahasiswa baru yang terdata dalam stan di hari pendaftaran ulang tidak sebaik dan sebanyak apa yang didapatkan dari hasil peselancaran di dunia social media. Di titik ini, disadari bahwa dunia maya terkadang lebih efektif dan efisien dalam mempertemukan satu raga dengan yang lain.

Seperti tahun sebelumnya, tahun ini Universitas Gadjah Mada juga menggelar orientasi mahasiswa barunya –PPSMB– pasca lebaran. Banyak keuntungan yang didapat dengan dikeluarkannya keputusan ini. Salah satunya adalah menimalisasi biaya perjalanan mahasiswa baru yang berasal dari luar Yogyakarta dan sekitarnya. Hal yang sering dinafikan oleh universitas lain. Selain itu, lebih banyak waktu bagi mahasiswa baru khususnya yang berasal dari luar Jogja untuk berlama-lama bersama keluarga dan orang-orang tercintanya di kotanya masing-masing.

Tentu saja ini adalah momen emas bagi Arek SGM. Bertepatan dengan bulan ramadhan, komunitas seumur jagung dengan dimotori oleh beberapa dedengkotnya berencana mengadakan gathering yang dirupakan dalam acara buka bersama bagi mahasiswa baru. Forum ini jelas sangat berharga bagi mereka. Di sinilah maba-maba dapat mengeluarkan kegelisahannya dan memastikan kebenaran akan rumor yang beredar tentang kota pelajar. Selain itu, informasi seputar dunia kuliah yang teramat penting juga bisa direngkuh melalui forum ini.

Gathering ini berlangsung pada 26 Juli 2012, sebagaimana telah disepakati di social media. Awalnya, gathering dijadwalkan berlangsung pada pukul 16.00 WIB. Dasar orang Indonesia, tidak satupun maba yang hadir di jam tersebut. Walaupun demikian, hal ini bisa menutup kesalahan para dedengkot yang memang telat karena nonton The Dark Night Rises terlebih dahulu.

Kira-kira gathering mulai berjalan efektif pada pukul 17.00. Ardi Hendrarto ditugasi oleh Aufar, komandan Arek SGM, sebagai pembawa acara. Dimulai dengan beberapa sambutan, acara dilanjutkan dengan perkenalan dari masing-masing yang hadir dan buka bersama tentunya.

Sebagai orang yang baru kenal dan harus diakui panitia yang memang tanpa persiapan, awalnya acara berlangsung garing. Bagi yang sudah kenal mereka terlihat asik sendiri. Keadaan ini terus berlangsung hingga suatu titik, yakni banyaknya hadirin yang izin memisahkan diri pasca sholat magrib.

Pasca sholat maghrib, situasi menjadi lebih cair. Secara alamiah, terjadi polarisasi maba dengan Arek SGM 2011 sesuai dengan jurusannya masing-masing. Memang ada beberapa jurusan yang tidak mampu diakomodasi oleh Arek SGM yang hadir. Namun, maba yang tidak terakomodasi mampu menyesuaikan diri dengan cepat.

Acara diakhiri sekitar pukul 20.00. Sebagai pengalaman pertama, tentu ini cukup berkesan bagi Arek SGM. Di sinilah dimulai perjalanan panjang komunitas dari kota buaya yang akan berlaga di Ngayogyakarta. Dengan bersatunya dua generasi, telah dimulailah proses kaderisasi dan regenerasi yang nantinya akan menjadi gantungan harap mengenai keberlanjutan sebuah komunitas yang memiliki tujuan mulia ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s