Bukan Hanya untuk Bulan Ramadhan

Penentuan kapan diawali dan diakhirinya bulan Ramadhan nggak jarang menjadi hal yang seru di Indonesia. Dua ormas Islam major, NU & Muhammadiyah, beberapa kali nggak sependapat. Nggak ngeheranin sih kalo kita sadar bahwa metode yang mereka gunain emang beda. Syarat dan ketentuannya juga jelas beda. Yang jadi seru sebenernya bukan di perbedaannya, tapi gimana aroma perebutan hegemoni kedua ormas Islam itu di Indonesia khususnya di lingkungan Kementrian Agama. Sorry to say, ada aroma politik di sini. Realita bicara kalo NUlah yang akhir-akhir ini menguasai salah satu Kementrian yang paling ‘basah’ itu. Otomatis, penentuan Ramadhan antara NU dengan pemerintah (sebutan lazim orang-orang untuk Kemenag) hampir selalu seragam.

Aku sendiri jadi jamaah di masjid Muhammadiyah, yakni Masjid Al Aziz Tenggilis Utara Surabaya. Keputusanku ini jelas nggak senada sama orang tua yang keduanya kaum nahdliyin. Tapi tak apalah, setiap orang punya pilihannya masing-masing. Dan sialnya, tiap pilihan punya konsekuensi masing-masing.

Kali ini konsekuensi pilihan itu sama seperti tahun-tahun sebelumnya : penetapan bulan Ramadhan yang berbeda. Nah, di sini aku mencoba untuk menghargai kedua orang tuaku. Untuk kapan memulai dan mengakhiri puasa, aku ikut apa yang menjadi keputusan bapak yang kaum nahdliyin. Ini demi mengedepankan persatuan memang.

Walhasil, aku baru memulai tarawih di hari kedua penyelenggaraan tarawih di Masjid Al Aziz. Sekalinya ikut tarawih, aku langsung mbatin! Mbatin apa emangnya? Kurang lebih batinku kaya gini, “Tarawih kali ini bakal nusuk! Liat aja! Hehehe”.

Batinku itu nggak seketika muncul tanpa adanya alasan yang jelas. Batin tersebut didasari oleh penglihatanku akan Imam yang akan memimpin jalannya Shalat tarawih dan Witir plus yang akan menjadi penceramah malam itu, yakni Ketua Takmir Masjid Al Aziz sendiri Mas Batzit. Secara personal aku cukup suka ceramah Mas Batzit yang selalu berapi-api tapi tetep terkendali. Memang Mas Batzit nggak pernah teriak-teriak kaya Bung Karno (Aneh juga kalo teriak-teriak di dalem Masjid! Hehe) tapi tema ceramah yang disampaikan selalu kritis dan anti mainstream. Ceramah yang disampaikan Mas Batzit amat jarang membuat orang yang mendengarnya seperti diberi angin surga dan dibuai oleh pujian-pujian seperti penceramah lain. Ceramah yang disampein Mas Batzit selalu membuat kita berpikir dan merenungi apa yang dia sampaikan. Lebih dari itu, beberapa kali ceramah Mas Batzit jadi antithesis dari ceramah-ceramah para pembuai.

Selain mbatin bahwa ceramah bakal seru, aku juga nyoba untuk menerka-nerka apa yang bakal Mas Batzit sampein di ceramahnya. Entah kenapa aku waktu itu teringat akan suatu ceramah Mas Batzit di penghujung Bulan Ramadhan yang bertema tentang partisipasi umat muslim Tenggilis Utara di akhir dan di luar bulan Ramadhan. Intinya, Mas Batzit menanyakan kemana orang-orang ini selepas Bulan Ramadhan. Masjid-masjid hanya ramai ‘dimuliakan’ orang pada bulan yang suci ini. Selepas itu, masjid ya kembali seperti biasa : sepi!

Aku tertawa kecil di dalam hati ketika Mas Batzit membawakan ceramahnya. Benar saja, malem itu Mas Batzit ngebawain tema seperti apa yang aku bayangin! Mas Batzit mengawali ceramahnya dengan melempar pertanyaan, “Apa yang membedakan ibadah di bulan Ramadhan dengan ibadah di luar bulan Ramadhan?” Tanya sendiri, Mas Batzit sendiri pula yang jawab. “Sebenarnya tidak ada yang membedakan ibadah di bulan Ramadhan dengan Ibadah di luar bulan Ramadhan. Ibadah di bulan-bulan tersebut sama!” Kemudian Mas Batzit melanjutkan ceramahnya dengan pertanyaan yang linier dengan kedua pertanyaan itu, “Lalu kenapa ketika bulan Ramadhan khususnya di minggu-minggu pertama Masjid penuh sesak bahkan overload? Kemana kita di luar bulan Ramadhan?”

Dari empat pertanyaan itu aja rasanya bener-bener nusuk bagi jamaah yang hadir. Di sini rasa-rasanya jamaah disengat hatinya bagi yang memasukkannya ke dalam hati. Empat pertanyaan tersebut memang menimbulkan instropeksi bagi diri kita. Sebuah instropeksi yang begitu mahal rasanya. Dan pada titik ini menjadi penting untuk melempar pertanyaan, “Apakah ceramah itu telah berhasil membakarmu dan menjadi driving force untuk selalu memuliakan Masjid kendatipun di luar Bulan Ramadhan?” Tentu ini bukanlah sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari lisan kita. Pertanyaan tersebut sangat membutuhkan jawaban dari jasmani kita untuk menghadirkan dirinya di setiap saat ada panggilan shalat di bulan apapun itu. Dan dengan tindakan yang minimal itu, minimal pula kita telah berupaya untuk memuliakan Rumah Allah. Semoga saja Allah meridhoi setiap niat yang ada dan menjaganya supaya menjadi kenyataan. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s