Sepakbola dan Politik ; Persebaya dan Kemenangan Bambang D.H. dalam Pemilihan Walikota Surabaya 2005

M. Irfan Ardhani 2012

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sebagai olahraga yang paling populer di dunia, tidak terkecuali di Indonesia, sepakbola mampu menyedot animo yang cukup tinggi dari masyarakat. Seluruh lapisan masyarakat tidak mampu menghindar dari euphoria sepakbola. Memasuki dekade pertama dalam abad XXI, siaran langsung pertandingan dan pemberitaan sepakbola nasional semakin gencar. Berbagai stasiun televisi, media cetak, dan media internet memberikan informasi yang sangat banyak mengenai persepakbolaan nasional. Dampaknya, kalangan masyarakat yang tertarik dengan olahraga ini, termasuk kaum hawa meningkat drastis. Tidak mengherankan jika puluhan ribu masa dengan mudah hadir dalam suatu pertandingan sepakbola di Indonesia.

Menyadari hal tersebut, tim sukses berbagai pasangan walikota mulai memanfaatkan peluang ini. Demi kemenangan pasangan, salah satu dari pasangan calon dijadikan pemimpin klub sepakbola daerahnya seperti yang terjadi di Surabaya 2003 silam. Bambang D.H. yang waktu itu menjabat sebagai walikota menggantikan almarhum Soenarto Soemoprawiro, didorong untuk menjadi ketua umum Persebaya. Bambang D.H. menggantikan ketua sebelumnya, Dahlan Iskan, yang berhasil meloloskan Persebaya ke Divisi Utama PSSI. Pada akhirnya, Persebaya secara mengejutkan mampu menjuarai Divisi Utama PSSI 2004. Sambil menyelam minum air, Bambang D.H. juga berhasil memenangkan Pemilihan Walikota (pilwali) Surabaya tahun 2005.

Sebagai kota dengan tradisi sepak bola yang kuat, pada dasarnya Surabaya memiliki kelompok supporter sepak bola yang cukup terkenal di tanah air, yaitu Bonek Mania. Kelompok supporter yang terkenal akan anarkismenya ini tidak bisa dipungkiri memiliki jumlah anggota yang tidak sedikit, baik yang terdaftar maupun yang tidak terdaftar. Fanatisme kelompok supporter yang satu ini tidak diragukan lagi. Tingkat kehadirannya dalam sebuah pertandingan Persebaya terbilang tinggi. Terlebih lagi jika Persebaya menunjukkan tren yang positif. Tentu saja Bonek Mania menjadi lahan yang cukup potensial untuk mengeruk suara dalam Pemilihan Walikota Surabaya. Dengan menguasai Persebaya, akan menjadi lebih mudah memengaruhi Bonek Mania untuk memilih Bambang D.H. dalam Pemilihan Walikota Surabaya.

1.2 Rumusan Masalah

1.Pengaruh penguasaan Persebaya Surabaya oleh Bambang D.H. dalam Pemenangannya pada Pemilihan Walikota Surabaya 2005?
2.Bagaimana bentuk pemanfaatan Persebaya Surabaya oleh Bambang D.H. dalam pemenangannya pada Pemilihan Walikota Surabaya 2005?

1.3 Landasan Konseptual

Pembahasan dalam paper ini merupakan pembahasan yang berkaitan dengan perilaku pemilih dan strategi kandidat dalam pemilihan walikota. Oleh karena itu, landasan teori yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :

a.Pemilihan Umum
Salah satu indicator ada atau tidaknya demokrasi dalam sebuah negara ialah adanya pergantian kekuasaan secara berkala melalui mekanisme pemilihan umum. Menurut teori demokrasi minimalis, sebagaimana yang dijelaskan oleh Joseph Schumpeter (Schumpeterian) bahwa pemilihan umum merupakan sebuah arena yang mewadahi kompetisi (kontestasi) antara actor-aktor politik yang meraih kekuasaan partisipasi politik rakuat untuk menentukan pilihan serta liberalisasi hak-hak sipil dan politik warga negara. Melalui ajang pemilihan umum, kontestan satu dengan yang lain berusaha untuk memaksimalkan segala potensinya agar dapat meraih suara dari masyarakat.

Pemilu sendiri tidak hanya berfungsi sebagai sebuah metode untuk melakukan pergantian kekuasaan. Ada sejumlah fungsi pokok yang melekat dalam pemilihan umum, yaitu Recruiting politicians, Making governments, Providing representation, Influencing policy, building legitimacy, Educating voters, Strengthening eliters.

Pasca reformasi, pemilihan umum di Indonesia tidak terbatas pada pemilihan presiden dan anggota-anggota lembaga legislatif (DPD, DPR-RI, DPRD Tk. 1, dan DPRD Tk. 2). Pemilihan umum juga diperuntukkan bagi pemilihan kepala daerah baik itu tingkat satu maupun tingkat dua. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya PP No.6 tahun 2005 (tentang pemilihan, pengesahan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah) secara langsung seperti yang diamanatkan oleh UU. No. 32 tahun 2004. Pemilihan kepala daerah dilakukan setiap lima tahun sekali, sama seperti pemilihan umum yang lain.

b.Perilaku Pemilih Model Sosiologis

Pemenangan Bambang D.H. dalam pemilihan Walikota Surabaya tahun 2005 dengan memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Umum Persebaya pada waktu itu kiranya dapat dijelaskan melalui teori perilaku pemilih model sosiologis. Keterkaitan antara model sosiologis dengan perilaku pemilih terhadap keanggotaan kelompok mengatakan bahwa pemilih cenderung mengadopsi pola-pola pemungutan suara dicerminkan oleh factor ekonomi dan kedudukan sosialnya di mana ia berada, terutama dalam kelompoknya. Dalam hal ini, perilaku pemilih cenderung ditentukan dengan adanya kesamaan pada diri pemilih dengan yang akan dipilih. Salah satu model psikologis yang bisa digunakan untuk menganalisis perilaku pemilih dalam menentukan pilihannya adalah model kesamaan (similarity) dan daya tarik (attraction) (Newcomb, 1978; Byrne, 1971). Mengacu pada model ini, seseorang cenderung tertarik pada suatu hal yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya. Dengan kata lain, makin besar persamaan antara seorang calon yang akan dipilih dengan calon pemilih, makin besar pula ketertarikan calon pemilih untuk memilih suatu calon. Menurut perspektif ini, kelompok-kelompok yang tercipta dalam masyarakat lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa masing-masing individu dalam suatu kelompok memiliki kesamaan, sehingga kemudian mereka mengikatkan diri dengan yang lain untuk membuat grup-grup dalam masyarakat. Kesamaan tersebut bisa berupa aspek agama, kelas social, etnisitas, gender, dan juga aspek daerah tempat tinggal (kota atau desa).

Atau dengan perspektif lain, pendekatan sosiologis lebih cenderung pada analisis sitstem social atau stratifikasi social misalnya kelompok muda-mudi, tua dan muda, ataupun dengan memperhatikan kelompok-kelompok atau oraganisasi-organisasi seperti organisasi kaum buruh, perkumpulan umat di gereja, klub-klub dan sebagainya. Melalui pendekatan ini, Tim Sukses Bambang D.H. mencoba memanfaatkan posisi Bambang sebagai Ketua Umum Persebaya untuk menggaet dukungan dari pendukung setia Persebaya Surabaya yang jumlahnya tidak sedikit. Untuk itu, kemenangan Persebaya dalam sebuah kompetisi menjadi penting karena akan menjadi nilai tambah dalam mempromosikan Bambang D.H. sebagai ketua umum Persebaya yang berhasil. Otomatis, dengan adanya kesamaan antara Bambang D.H. dan pemilih yakni sama-sama menjadi pihak yang mendukung Persebaya ditambah dengan keberhasilannya dalam memimpin lebih mempermudah jalan Bambang D.H. untuk menggaet dukungan dari kalangan Bonek Mania.

c.Strategi Politik

Pemilihan umum (pemilu) tak ubahnya seperti sebuah kompetisi. Untuk menjadi pemenang dalam sebuah pemilu, suatu calon harus mengalahkan perolehan suara calon yang lain. Tentu saja dibutuhkan strategi tersendiri untuk memenangkan calon tersebut. Dalam hal ini, para kontestan perlu melakukan kajian untuk mengidentifikasi besaran (size) pendukungnya, massa mengambang dan pendukung kontestan lainnya. Identifikasi ini perlu dilakukan untuk menganalisis kekuatan dan potensi suara yang akan diperoleh pada saat pencoblosan, juga untuk mengidentifikasi strategi pendekatan yang diperlukan terhadap masing-masing kelompok pemilih.

1.4 Hipotesis

Dalam menjawab rumusan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya, penulis memiliki dua hipotesis, antara lain ;

1.Penguasaan Persebaya Surabaya oleh Bambang D.H. memengaruhi perilaku pemilih khususnya kalangan pendukung Persebaya Surabaya (Bonek Mania) untuk memberikan suaranya bagi Bambang D.H. sehingga Bambang D.H. mampu memenangi pemilihan Walikota Surabaya 2005 silam.
2.Bambang D.H. memanfaatkan posisinya sebagai Ketua Umum Persebaya untuk menggerakkan Bonek Mania dalam kampanyenya sehingga mereka memilih Bambang dalam pemilihan Walikota Surabaya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Persebaya Surabaya, Suporter, dan Prestasi

Persebaya Surabaya adalah tim sepakbola yang cukup mengakar kuat dalam jiwa sebagian orang Surabaya. Salah satu penyebabnya adalah sejarah panjang Persebaya yang notabene lahir sebelum Indonesia merdeka. Persebaya didirikan pada 18 Juni 1927 yang ditandai dengan berdirinya Soerabaiasche Indonesische Voetbal Bond (SIVB) dengan ketua Paidjo. Pada masa itu, SIVB didirikan sebagai alat untuk melawan hegemoni Sorabaiasche Voetbal Bond (SVB) yang dihuni oleh orang-orang Belanda karena SVB tidak memberi kesempatan bagi orang pribumi guna menyalurkan kegemarannya untuk bermain sepakbola.

SIVB tercatat melakukan beberapa kali pergantian nama. Yang pertama pada 1943 SIVB mengubah namanya menjadi Persatuan Sepakbola Indonesia Surabaja (Persibaja) dengan ketua dr. Soewandhi. Hal tersebut disebabkan oleh kebijakan pemerintah Jepang yang ingin menghilangkan penggunaan bahasa Belanda di segala sendi kehidupan. Tahun 1960, nama Persibaja diubah menjadi Persebaya , kependekan dari Persatuan Sepak Bola Surabaya melalui rapat anggota dan berlaku sampai sekarang.

Meskipun telah berganti nama beberapa kali, Persebaya tetap mampu mempertahankan jati dirinya sebagai tim yang berprestasi. Semenjak didirikan hingga tahun 2005, Persebaya telah menjadi juara Liga Indonesia sebanyak tujuh kali. Lima gelar diraih Persebaya ketika tim kebanggaan arek-arek Suroboyo ini masih berlaga di Perserikatan pada tahun 1950, 1951, 1952, 1978, dan 1987. Dua gelar diraih Persebaya ketika kompetisi telah berganti nama menjadi Liga Indonesia, yaitu pada tahun 1997 dan 2004. Di luar itu, Tim Persebaya Junior berhasil menggondol Piala Suratin pada tahun 1977 dan tahun 2000.

Dalam tubuh Persebaya, terdapat dua susunan kepengurusan, yang pertama adalah struktur kepengurusan Persebaya dan kedua adalah struktur kepengurusan official tim Persebaya. Kepengurusan Persebaya bidang kerjanya tidak hanya mengurus Persebaya Surabaya, namun juga klub-klub anggota yang bernaung di Persebaya yang berjumlah tiga puluh klub. Di sisi lain, tugas official tim Persebaya fokus mengurus tim Persebaya dalam satu musim kompetisi.

Sebagai tim yang mengakar kuat dalam jiwa warga Surabaya, Persebaya memiliki supporter fanatic yang setia mendukung Persebaya. Mereka dikenal dengan sebutan Bonek, kependekan dari kata Bondho Nekat. Istilah ini muncul pertama kali pada masa-masa ketika putaran final kompetisi divisi utama perserikatan digelar di Senayan 1987. Waktu itu beberapa orang harus berangkat ke Jakarta untuk mendukung Persebaya yang akan berlaga dalam laga putaran final divisi utama Perserikatan. Meskipun memiliki biaya yang tidak cukup untuk berangkat ke Jakarta dan bahkan ada beberapa yang tidak memiliki biaya, sebagian dari mereka tetap nekat berangkat ke Jakarta. Kejadian inilah yang mengakibatkan munculnya istilah Bonek yang kemudian dipopulerkan salah satu surat kabar terbitan Surabaya.

Jumlah Bonek Mania tergolong besar, yakni puluhan ribu. Namun demikian, Bonek mania dapat kita golongkan pada dua kategori, yakni Bonek mania yang terdaftar dalam organisasi supporter dan Bonek Mania yang tidak terdaftar. Bicara mengenai Bonek mania yang terdaftar dalam organisasi supporter, kita bisa merujuk pada Yayasan Suporter Surabaya (YSS). Organisasi yang diprakarsai oleh Wastomi Suheri ini hingga tahun 2010 tercatat memiliki anggota sekitar 4.500 orang yang tersebar dalam 150 koordinator wilayah. Jumlah Bonek Mania yang tidak terdaftar jauh lebih banyak. Hal ini ditandai dengan tingginya jumlah penonton Persebaya pada tiap pertandingan yakni hingga belasan bahkan puluhan ribu penonton.

Prestasi Persebaya ikut memengaruhi jumlah Bonek yang mendukung Persebaya. Jika Persebaya memiliki prestasi yang relative baik, jumlah Bonek yang hadir mendukung Persebaya cenderung tetap banyak. Jika prestasi Persebaya menurun, jumlah Bonek yang hadir untuk mendukung Persebaya juga menurun. Sebagai contoh adalah pada laga kandang Persebaya 13 Mei 2012, dari 32.000 tiket yang dicetak , jumlah tiket yang laku hanya 9931 lembar saja. Disebut-sebut, kekalahan tiga kali berturut-turut Persebaya IPL membuat mereka setengah hati untuk datang mendukung tim kebanggaan mereka.

Dengan jumlah yang terbilang banyak, Bonek menjadi kelompok masyarakat yang menggiurkan dalam dunia politik di Surabaya. Bonek yang terorganisir mempunyai pimpinan dengan kharisma yang besar, yang bisa menjadikan Bonek satu suara. Oleh karena itu, jika pimpinan bonek berhasil untuk dikuasai, akan mudah untuk membuat Bonek melakukan hal yang diinginkan oleh pihak yang memiliki suatu kepentingan tidak terkecuali kepentingan dalam Pemilihan Walikota Surabaya. Salah satu cara paling mudah untuk mendekati dan menguasai pimpinan Bonek adalah menguasai tim yang didukung oleh Bonek itu sendiri, Persebaya Surabaya.

Momentum emas terjadi bagi Bambang D.H. ketika ada gonjang-ganjing dalam kepengurusan Persebaya pada 2003. Waktu itu, Dahlan Iskan mundur dari jabatannya sebagai ketua umum Persebaya. Hal ini terbilang unik karena Dahlan berhasil mengantarkan Persebaya yang waktu itu berlaga di divisi satu PSSI untuk promosi ke Divisi Utama karena Persebaya berhasil menjuarai Divisi satu. Dahlan mengungkapkan bahwa alasan mundurnya dikarenakan oleh kekecewaan bos Jawa Pos grup ini terhadap ketidak pedulian Pemerintah Kota Surabaya pada Persebaya.

Mundurnya Dahlan mengakibatkan Vacuum of Power di dalam tubuh Persebaya. Menyadari adanya kekosongan kepemimpinan Persebaya, klub anggota bergerak cepat. Dalam sebuah pertemuan, mereka menyepakati digelarnya Musyawarah Anggota Luar Biasa (musanglub) Persebaya pada 17 Oktober 2004 guna memilih Ketua Umum Persebaya periode 2003-2007. Beberapa tokoh sepakbola Surabaya ditunjuk sebagai Panitia Musanglub seperti H. Santo, Suprastowo, dan Wastomi Suheri. Musanglub sendiri akan dihadiri oleh seluruh klub anggota Persebaya.

Dalam musanglub 17 Oktober 2004, Bambang D.H. terpilih sebagai Ketua Umum Persebaya periode 2003-2007. Bambang didukung oleh 16 dari 29 undangan yang hadir. Terpilihnya walikota Surabaya 2002-2004 itu sudah diprediksi oleh banyak pihak. Jabatan Bambang D.H. sebagai walikota dinilai mampu untuk menggalang dana bagi Persebaya baik dari APBD ataupun sumber lain guna mengarungi kompetisi Divisi Utama yang membutuhkan dana besar. Di samping itu, George Handiwiyanto –mantan pengurus Persebaya—menuturkan bahwa telah terbentuk pandangan umum pada masyarakat Surabaya jika Walikota adalah ketua umum Persebaya. Sebagai ketua umum terpilih, Bambang D.H. diberi mandat penuh oleh klub anggota untuk membentuk kepengurusan Persebaya dan official tim Persebaya. Untuk membentuk kepengurusan, Bambang diberi waktu satu minggu.

Dalam kepengurusan yang akan dibentuk, posisi Manajer Persebaya Surabaya adalah posisi paling strategis selain ketua umum. Manajer Persebaya akan memimpin tim Persebaya dalam kompetisi Divisi Utama PSSI. Posisi manajer inilah yang bersinggungan langsung dengan publik bola Surabaya. Manajer bisa dibilang sebagai factor penentu prestasi sebuah tim sepakbola di Indonesia. Ini dikarenakan manajerlah yang harus memilih pelatih dan melakukan perburuan pemain yang diinginkan oleh pelatih terpilih. Di samping itu, manajer harus mampu mencari biaya untuk operasional tim Persebaya. Tidak berhenti disitu, manajerlah pihak yang bertanggung jawab untuk menangani hal non-teknis yang sampai detik ini masih menjadi elemen penting dalam persepakbolaan Indonesia.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, Bambang D.H. mengumumkan kepengurusan Persebaya pada 26 Oktober 2003. Saleh Ismail Mukadar ditugasi menjadi Manajer Persebaya dalam musim kompetisi 2003-2004. Wisnu Sakti Buana yang sebelumnya digadang-gadang sebagai ketua harian rupanya digeser menjadi asisten Saleh. Penunjukan kedua orang tersebut kental akan nuansa politis karena posisi Saleh dan Wisnu sebagai Wakil Ketua DPC PDIP Kota Surabaya. Banyak orang beranggapan penunjukan dua orang tersebut terkait dengan Pemilihan Walikota Surabaya 2005. Di samping itu, ada beberapa pejabat Pemkot Surabaya yang masuk dalam jajaran pengurus seperti Sukamto Hadi (Sekkota Surabaya) yang menjadi sekertaris tim Persebaya dan Yuli Subiato (Plt. Kadis Infokom Surabaya) yang menjadi sekertaris tim Persebaya. Selebihnya, banyak tokoh bola Surabaya dan Jawa Timur yang masuk kabinet Bambang. (Selengkapnya lihat lampiran 1)

Setelah mendapat kepastian bahwa dirinya resmi diberi mandat sebagai Manajer Persebaya, Saleh Ismail Mukadar bergerak cepat. Dia segera melakukan pembentukan tim guna mengarungi musim kompetisi 2004 yang akan dimulai pada bulan Januari. Dengan waktu yang terbilang mepet, langkah pertama yang diambil Saleh adalah mengontrak kembali Jacksen F. Tiago sebagai pelatih Persebaya. Setelah itu, Saleh bersama Jacksen mulai melakukan perburuan pemain yang akan mengisi skuad Persebaya musim 2004.

Dalam melakukan perburuan pemain, terlihat upaya Saleh untuk membuat Persebaya menjadi tim yang berprestasi di Liga Indonesia X. Hal tersebut ditunjukkan oleh perekrutan pemain bintang yang dilakukan oleh Persebaya Surabaya. Pada launching tim yang dilakukan Persebaya pada 10 November 2003, pemain yang telah berhasil direkrut diperkenalkan pada public. Pemain-pemain yang berhasil direkrut antara lain Hedro Kartiko, Hendra Prasetya, Bejo Sugiantoro, Mursyid Effendi, Leonardo Gueteresz, Yeyen Tumena, Nova Arianto, Anang Ma’ruf, Mat Halil, Khairil Anwar, Andri Budianto, Uston Nawawi, Danilo Fernando, choirul Anam, Christian Charrasco, Kurniawan Dwi Julianto, Quwetly Alweny, Rahel Tuassalamony. Dengan sederet pemain bintangnya, Persebaya disebut-sebut sebagai the dream team.

Perburuan pemain bintang yang dilakukan oleh Persebaya menimbulkan konsekuensi pada tingginya pengeluaran tim. Untuk perburuan pemain saja, Persebaya menghabiskan dana hingga Rp 4.000.000.000,00 Angka ini terbilang fantastis jika dibandingkan dengan dana yang dikucurkan oleh tim lain. Dana sebanyak itu didapatkan Persebaya dari dana APBD Kota Surabaya setelah disetujui oleh DPRD Kota Surabaya. Dalam musim kompetisi ini, Persebaya mendapat dana sebanyak Rp 5.000.000.000,00 dari APBD. Jika diteliti, jumlah dana tersebut mengalami lonjakan yang cukup drastis mengingat tahun sebelumnya Persebaya hanya mendapat dana rutin dari APBD sebanyak Rp 500.000.000,00

Menyadari kiprah tim kesayangannya cukup menjanjikan karena banyaknya pemain bintang yang direkrut, animo Bonek untuk mendukung Persebaya tidak terbendung lagi. Pada latihan perdana yang digelar sehari pasca launching tim, 11 November 2003 malam, sekitar 10.000 Bonek tampak membanjiri Gelora Sepuluh Nopember Tambaksari meskipun pada waktu itu adalah bulan Ramadhan. Untuk kategori latihan, 10.000 Bonek adalah hal yang mencengangkan. Humas Persebaya Soepangat menyebut peristiwa ini sebagai rekor bagi Persebaya untuk kategori menonton latihan.

Perburuan pemain Persebaya tidak sia-sia. Persebaya menjadi berhasil menjadi runner up turnamen pra musim, Piala Emas Bang Yos 2003. Dalam turnamen tersebut, tim yang diundang adalah tim-tim terkuat di Liga Indonesia waktu itu. Meskipun sebagai tim debutan, satu persatu lawan bisa dikalahkan oleh Persebaya. Di partai puncak, Persebaya dipaksa bertekuk lutut oleh tuan rumah Persija Jakarta melalui drama adu pinalti yang dimenangi oleh Persija 4-1. Kendati berhasil menjadi runner up Piala Emas Bang Yos 2003, Persebaya tidak berlarut-larut dalam sukacita mengingat tugas utama Persebaya adalah menjalani Divisi Utama Liga Indonesia X. Liga Indonesia X dimulai pada Januari 2004.

Singkat cerita, Persebaya menjalani Liga Indonesia X dengan luar biasa. Sepanjang musim Persebaya mampu bertahan di papan atas klasemen. Prestasi Persebaya yang cukup konsisten tersebut dibarengi dengan tingginya jumlah Bonek yang hadir untuk mendukung Persebaya di stadion. Pada akhir musim kompetisi, Persebaya mampu menuntaskan dahaga Bonek Mania akan prestasi tertinggi di persepakbolaan tanah air. Dalam pertandingan akhir yang berlangsung sengit, Persebaya berhasil menghempaskan Persija Jakarta dengan skor tipis 2-1. Persebayapun berhak menggondol piala presiden.

Di musim berikutnya, penampilan Persebaya terbilang konsisten. Mayoritas pemain yang mengantarkan Persebaya juara serta jajaran pelatih dipertahankan. Persebaya relative mampu mempertahankan posisinya di papan atas klasemen Liga Indonesia XI. Dalam musim kompetisi yang menggunakan format dua wilayah ini, Persebaya tergabung dalam wilayah timur. Persebaya berhasil menjadi juara paruh musim berkat kemenangan yang diraih dalam pertandingan penutup pada 12 Juni 2012 atas Persiba Balikpapan. Kebetulan atau tidak, posisi Persebaya di puncak klasemen wilayah timur ini tepat pada masa kampanye pemilihan walikota Surabaya 2005.

2.2 Sekilas tentang Pemilihan Walikota Surabaya 2005

Pada dasarnya pemilihan Walikota Surabaya 2005 secara langsung merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang 32 tahun 2004 yang ditegaskan melalui PP No. 6 tahun 2005 (tentang pemilihan, pengesahan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah). Dengan dikeluarkannya undang-undang tersebut, tidak hanya Surabaya yang harus menyelenggarakan pilkada langsung guna suksesi kepemimpinan daerah, namun juga berbagai daerah lain di Indonesia baik itu tingkat satu maupun tingkat dua. Terjadi pemilihan secara langsung oleh rakyat 33 gubernur, 349 bupati, dan 91 walikota di berbagai provinsi, kabupaten, dan kota di seluruh Indonesia. Di Surabaya sendiri, pemilihan walikota 2005 diselenggarakan dalam rangka berakhirnya masa jabatan Bambang D.H. yang habis pada 3 Desember 2004.

Pemilihan Walikota Surabaya yang diselenggarakan pada 27 Juni 2005 diorganisir oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Surabaya yang diketuai Eko Waluyo. Meskipun digelar pada bulan Juni, KPUD Kota Surabaya telah melaksanakan persiapan sejak bulan Februari 2005. Persiapan ini digelar atas dasar keputusan KPU Kota Surabaya Tahun 2005 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Waktu Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala daerah. Untuk itu, KPU Kota Surabaya menyusun juklak dan juknis pemilihan Walikota Surabaya yang membagi kegiatan penyelenggaraan pemilihan Walikota Surabaya dalam tiga tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap penyelesaian.
Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Surabaya 2005 diikuti oleh 1.934.688 pemilih. Demi lancarnya pelaksanaan pemilihan, KPUD Kota Surabaya menyediakan 2.834 TPS yang tersebar di berbagai Kecamatan di Kota Surabaya. Selain menyediakan TPS tersebut, KPUD Kota Surabaya juga menyediakan TPS khusus yang ditempatkan di tempat-tempat umum seperti rumah sakit dan stasiun afar masyarakat bisa menyalurkan aspirasinya dengan mudah dan untuk menghindari besarnya golput yakni sebanyak 27 TPS.

Dalam pilwali tersebut, muncul empat pasangan calon antara lain yaitu pasangan Bambang D.H.-Arif Affandi (BARA) dari Partai Demokrasi Indonesia-Perjuangan (PDI-P), pasangan Alisjahbana-Wahyudin (AW) Huesin dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), pasangan Erlangga Satriagung-A.H. Thony (eR-T)dari gabungan Partai Demokrat- Partai Amanat Nasional (PAN) dan gabungan Partai Golkar-Partai Damai Sejahtera (PDS) mencalonkan pasangan Gatot Sudjito-Benyamin Hilly (GaBe). Tentu saja munculnya keempat calon membuat peta persaingan dalam pilwali Surabaya menjadi menarik. Pilwali Surabaya menjadi lebih kompetitif dengan banyaknya pilihan calon.

Dalam pelaksanaan pemungutan suara pilwali 2005, secara umum situasi berlangsung kondusif. Hal ini terlihat dari tiadanya keributan besar yang terjadi selama hari pemilihan. Walaupun demikian, masih ditemukan beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh pendukung beberapa pasangan calon. Bentuk pelanggaran beragam, mulai dari kampanye terselubung hingga politik uang. Sebagai contoh adalah pelanggaran di TPS 1 Kelurahan Jeruk Kecamatan Lakarsantri Panwas menemui tempelan cawali dan cawawali dengan pesan bertulis : Sidiq amanah, tabligh, fathonah, yang dilakukan oleh kader PKS Kecamatan Lakarsantri.

Sebagaimana telah disebutkan, 1.934.688 pemilih terdaftar untuk memberikan suaranya dalam pilwali Surabaya 2005. Namun demikian, terjadi fenomena dimana banyak pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya alias menjadi golongan putih (golput). Menurut data yang dilansir oleh KPUD Kota Surabaya, hanya 999.984 pemilih yang menggunakan hak pilihnya dalam pilwali Surabaya 2005. Dengan kata lain, 934.794 pemilih atau sekitar 48,32% pemilih menjadi golput. Menurut Sahab, libur panjang sebelum pencoblosan menjadi salah satu penyebab utama tingginya tingkat golput pada pilwali Surabaya 2005. Banyak pemegang hak pilih dari kalangan menengah ke atas yang pergi ke luar kota dalam liburan tersebut

Hasil pilwali diumumkan oleh KPUD Kota Surabaya pada 7 Juli 2005. Meskipun ada desakan yang dilontarkan sebagian pendukung pasangan calon untuk menunda pengumuman hasil pilwali karena tidak puas terhadap kinerja KPUD, hal tersebut tidak memengaruhi instansi pimpinan Eko Waluyo untuk bekerja sesuai jadwal yang telah ditentukan. KPUD mengumumkan bahwa pasangan Bambang Dwi Hartanto-Arif Afandi menjadi pemenang pilwali Surabaya karena mengantongi 492.999 atau 51,34 persen suara sah. Sementara, pesaingnya, calon PKB Alisyahbana-Wahyudin Hussein mendapatkan 199.057 atau 20,73 persen, disusul calon PD dan PAN Erlangga Satriagung-AH Thony meraih 179.255 atau 18,67 persen dan pasangan Gatot Sudjito-Benyamin Hilli (Golkar-PDS) yang mendapatkan 88.929 atau 9,26 persen. Jumlah suara sah sebanyak 960.240 suara.

Ketidakpuasan terhadap hasil pilwali rupanya membayangi pilwali Surabaya 2005. Dalam hal ini, Erlangga Satriagung melaporkan ketidakpuasannya pada Pengadilan Tinggi Jawa Timur . Dalam pengadilan yang dgelar tanggal 26 Juli 2005 di Pengadilan Tinggi Jatim pihak penggugat yakni pihak Erlangga Satragung-A.H. Thony yang diwakili oleh kuasa hukumnya M. Ma’ruf dan Nuriyanto menilai bahwa adanya kesalahan dalam penghitungan suara, ini terbukti dengan adanya perbedaan antara berita acara penghitungan di TPS, PPS PPK, dan KPUD. Walaupun pengadilan masih belum memutuskan tentang siapa pemenang dari gugatan tersebut, Gubernur Jatim Imam Utomo tanggal 22 Juli 2005 tetap mengirim surat pengesahan hasil pilwali Surabaya kepada Menteri Dalam Negeri. Pada tanggal 31 Agustus 2005, pasangan Bambang D.H.-Arif Affandi akhirnya dilantik di DPRD Kota Surabaya.

2.3 Kampanye Pasangan Bambang D.H.-Arif Affandi

Empat pasangan calon yang terlibat dalam pilwali Surabaya 2005 membuat persaingan untuk memperebutkan kursi Surabaya 1 dan Surabaya semakin ketat. Untuk itu, diperlukan adanya sebuah kampanye politik guna mensosialisasikan dan memasyarakatkan pasangan calon yang akan berlaga dalam pilwali. Agar kampanye berlangsung dengan tertib dan lancar, dikeluarkanlah Peraturan KPU Kota Surabaya No. 5 Tahun 2005 tentang Petunjuk Teknis Kampanye Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Kampanye pilwali Surabaya dijadwalkan berlangsung pada tanggal 10 Juni 2005 – 23 Juni 2005.
Dengan ketatnya persaingan dalam memperebutkan konstituen yang tentunya tidak mudah, maka dari itu setiap calon walikota dan wakil walikota memerlukan peran tim sukses yang bertugas menyusun strategi guna merengkuh kursi Surabaya 1 dan Surabaya 2. Tim sukses sendiri memiliki tugas utama untuk memenangkan calon yang dibelanya. Kehadiran tim sukses dan kampanye ibarat amplop dan perangko, memiliki hubungan yang sangat erat. Kampanye adalah salah satu jalan bagi tim sukses untuk melaksanakan tugas utamanya. Dalam hal ini, tim sukses bertugas untuk mengkoordinasikan kampanye dari pasangan calon.

Bambang D.H.-Arif Affandi mempercayakan komando tim suksesnya pada Saleh Ismail Mukadar. Kesemua anggota tim sukses yang dipimpin Saleh adalah anggota DPC PDI-P Kota Surabaya. Saleh yang dikenal sebagai Wakil ketua DPC PDI-P Surabaya dan juga Manajer Persebaya ini dibantu oleh beberapa orang yang bertugas sesuai dengan bidangnya masing-masing. Dalam struktur tim sukses, Saleh menugaskan Budi Haryono sebagai sekertaris dan Indah Kurnia sebagai bendahara. Guna membagi tugas tim sukses agar focus pada bidang kerja masing-masing, Saleh membagi timnya menjadi tiga divisi, yaitu divisi internal yang dibidani oleh Suliad, divisi eksternal yang dibidani oleh Wisnu Sakti Buana, dan divisi marketing & komunikasi yang dibidani oleh Adi Sutarwiyono. Di samping itu, Saleh juga membentuk bidang kampanye, bidang advokasi, dan bidang logistic. (Lihat lampiran 2)

Informasi menjadi hal yang paling vital dalam penyusunan strategi, tidak terkecuali dalam strategi untuk mengampanyekan calon walikota. Hal ini disadari betul oleh Saleh. Dalam memahami perilaku pemilih di Surabaya, Saleh menggandeng Pusat Studi Demokrasi dan HAM (PusDeHAM) untuk memetakan perilaku pemilih di Surabaya. Hasil riset PusDeHAM menjadi dasar bagi Saleh dan tim untuk menyusun strategi kampanye Bambang. Hasilnya, dalam kampanye kali ini lembaga pimpinan Saleh mencoba untuk mengedepankan status Bambang sebagai calon incumbent. Ini terlihat dari tagline kampanye Bambang D.H.-Arif Affandi, yaitu “Ayo Selesaikan yang tertunda!”

Masa kampanye adalah masa ketika tim sukses mempraktikkan strategi yang telah diolah guna pemenangan pasangan calon. Berbagai cara kreatif dilakukan oleh tim sukses supaya kampanyenya bisa menarik di mata masyarakat. Dalam Peraturan KPU Kota Surabaya No. 5 Tahun 2005 sendiri, bentuk-bentuk kampanye yang diperbolehkan seperti pertemuan terbatas, tatap muka dan dialog. Penyebaran melalui media cetak dan elektronik, penyiaran melalui radio dan atau televisi, penyebaran bahan kampanye kepada umum, pemasangan alat peraga di tempat umum, rapat umum, debat public/debat terbuka antar calon, serta kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan yaitu seperti acara peringatan ulang tahun, kegiatan social budaya, perlombaan olahraga, kegiatan keagamaan, dan kegiatan lain yang bersigat mengumpulkan massa pasa satu tempat tertentu. Pasangan Bambang D.H.-Arif Affandi sendiri memaksimalkan bentuk kampanye yang diperbolehkan. Selain turun ke masyarakat langsung, pasangan ini juga melakukan kampanye seperti rapat umum, rapat tertutup, dan survey.

Seperti yang diduga sebelumnya, posisi Bambang, Saleh dan Wisnu di kepengurusan Persebaya yang kental akan nuansa politik terbukti kebenarannya. Pada beberapa kampanye, terlihat upaya tim sukses Bambang untuk menonjolkan posisi Bambang sebagai ketua umum Persebaya yang cukup berprestasi. Salah satunya adalah rapat umum yang dilakukan Bambang yaitu di daerah Surabaya Timur pada 14 Juni 2005. Bambang-Arif dijadwalkan menggelar rapat umum di Lapangan Putroagung Tambaksari Surabaya. Dalam rapat umum tersebut, Bambang D.H. mengimbau agar pendukungnya sabar terhadap segala bentuk black campaign. Mendengar imbauan tersebut, massa yang sebagian besar mengenakan kaus bergambar Bambang-Arif dan Persebaya itu beberapa kali mengelu-elukan jagonya.

Selain itu, masa kampanye pilwali Surabaya juga dibarengi dengan ulang tahun Persebaya pada tanggal 18 Juni. Meskipun berulang tahun pada 18 Juni, perayaan ulang tahun Persebaya kali ini digelar pada 20 Juni 2005. Perayaan ulang tahun Persebaya yang ke-78 ini digelar dengan cukup elit dan meriah. Hal tersebut tergambar dengan jelas pada venue pesta ulang tahun , yaitu Plaza Tunjungan. Dalam perayaan ulang tahun tim bajul ijo itu, Bambang D.H. yang notabene adalah Ketua Umum Persebaya turut hadir memenuhi undangan bersama pasangannya dalam pilwali, Arif Affandi. Ketika diberi kesempatan untuk memberi sambutan, Bambang banyak menyinggung berbagai macam prestasi yang telah diraih Persebaya dibawah kepemimpinannya. Mantan wali kota itu juga minta kepada para tokoh Surabaya untuk selalu mendukung perjuangan tim yang khas dengan warna hijau itu agar mampu mempertahankan gelar juara di KLI XI. Lagi-lagi terlihat bagaimana Bambang mengoptimalkan posisinya sebagai ketua umum Persebaya untuk kepentingan pemilihan walikota.

Di sisi lain, tim sukses BARA menggandeng media cetak dan media elektronik dalam masa kampanye. TVRI, SCTV, dan JTV adalah media elektronik yang digandeng tim sukses BARA. Sedangkan Jawa Pos, Kompas, dan Surya menjadi media cetak yang digandeng oleh Saleh dan tim. Dengan kampanye yang begitu beragam dan cukup banyak, tidak mengherankan jika tim sukses BARA menelan dana operasional yang cukup besar. Sekitar Rp 4.187.940.000 dihabiskan guna membiayai kampanye Bambang D.H.-Arif Affandi.

Pada akhirnya, kerja keras dan kerja cerdas dari tim sukses Bambang D.H.-Arif Affandi membuahkan hasil manis. Bambang D.H.-Arif Affandi mengantongi 492.999 atau 51,34 persen suara sah. Bambang D.H. pun menjadi walikota Surabaya untuk kali kedua hingga tahun 2010. Dengan demikian, Bambang D.H.-Arif Affandi menjadi pasangan Walikota dan Wakil Walikota Surabaya pertama yang terpilih melalui mekanisme pemilihan langsung.

2.4 Analisis : Persebaya Surabaya dan Kemenangan Bambang D.H.

Mencermati data yang telah ditemukan, kita bisa memahami adanya pengaruh antara penguasaan Persebaya Surabaya pada tahun 2003-2005 dan kemenangan Bambang D.H.-Arif Affandi dalam Pemilihan Walikota Surabaya 2005. Setidaknya ada beberapa indicator yang bisa membantu kita untuk memahami pengaruh tersebut, antara lain struktur kepengurusan Persebaya Surabaya 2003-2007, Prestasi Persebaya 2004, struktur tim sukses Bambang D.H.-Arif Affandi dalam pemilihan walikota Surabaya 2005, pelaksanaan kampanye Bambang D.H-Arif Affandi, dan perolehan suara Bambang D.H.-Arif Affandi dalam pemilihan walikota Surabaya 2005.

Pertama adalah struktur kepengurusan Persebaya Surabaya 2003-2007. Dengan melihat data yang ada, kita akan menemukan fakta bahwa sebagian Pengurus Persebaya Surabaya adalah pengurus DPC PDI-P Kota Surabaya dan Birokrat Pemkot Surabaya. Dari jajaran Birokrat kita akan menemui nama Yuli Subianto (Sekertaris Persebaya) yang menjabat sebagai Plt. Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Surabaya; Subodro (Kabid Organisasi) yang menjabat sebagai salah satu Camat di Surabaya; Sukamto Hadi (Sekertaris Tim Persebaya) yang menjabat sebagai Sekertaris Kota Surabaya; dan tentunya Bambang D.H. sebagai walikota Surabaya sekaligus Ketua Umum Persebaya. Dari jajaran pengurus DPC PDI-P Kota Surabaya, kita akan menemui nama Saleh Ismail Mukadar (Manajer Tim Persebaya) yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPC PDI-P Kota Surabaya; Wisnu Sakti Buana (Asisten Manajer Tim Persebaya) yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPC PDI-P Kota Surabaya; dan lagi-lagi Bambang D.H. sebagai Ketua DPC PDI-P Kota Surabaya.

Dengan kehadiran orang-orang tersebut dalam jajaran kepengurusan Persebaya, kita bisa melihat adanya upaya dari Bambang D.H. untuk menguasai Persebaya melalui orang-orang kepercayaannya, yaitu anak buahnya baik di Pemerintah Kota Surabaya maupun DPC PDI-P Kota Surabaya. Di sini harus kita sepakati bahwa di satu sisi Bambang D.H. memiliki keinginan untuk memajukan prestasi Persebaya dalam kancah persepakbolaan nasional. Di sisi lain, keinginan Bambang D.H. untuk memajukan prestasi Persebaya dibarengi dengan keinginannya untuk terpilih dalam Pemilihan Walikota Surabaya 2005. Dengan menguasai Persebaya melalui orang kepercayaannya, akan lebih mudah bagi Bambang untuk menciptakan iklim kondusif di dalam tubuh Persebaya. Dengan demikian, Persebaya bisa dikendalikan menuju jalan yang positif.

Bambang D.H. menyadari jika dia berhasil mendongkrak prestasi Persebaya dalam Liga Indonesia X, popularitasnya di mata masyarakat khususnya pendukung Persebaya cenderung meningkat. Ketika kita memaknai hal ini dengan pendekatan perilaku pemilih model sosiologis, kita bisa memaknai bahwa seseorang akan memilih pada calon yang memiliki kesamaan paling banyak dengan dirinya. Dengan posisinya sebagai Ketua Umum Persebaya, Bambang memiliki kesamaan dengan pendukung Persebaya yaitu sama-sama mendukung Persebaya meski dengan jalan yang berbeda. Dengan demikian, ketika Bambang maju dalam pilwali, Bonek diharapkan juga ikut mendukung Bambang. Berhasilnya pendekatan Bambang bisa kita lihat pada, keikutsertaaan Bonek pada beberapa kegiatan kampanye baik itu kampanye di lapangan, diskusi di ruang public sampai pada pemasangan spanduk pun mereka dilibatkan.

Di samping itu, dengan menguasai Persebaya melalui posisinya sebagai ketua umum dan juga anak buahnya di Pemkot Surabaya maupun DPC PDI-P Kota Surabaya, menjadi lebih mudah bagi Bambang D.H. untuk mendapat dana dari APBD Kota Surabaya dalam membiayai perjalanan Persebaya di Liga Indonesia X. Sebagai Walikota Surabaya, tentu saja Bambang memiliki wewenang untuk mengajukan rancangan APBD. Dari segi penyusunan anggaran, posisi Sukamto Hadi sebagai Sekkota Surabaya memuluskan langkah Bambang untuk menyusun anggaran Persebaya. Setelah disusun, dana ini tentu diajukan ke DPRD Kota Surabaya. Dengan DPRD Kota Surabaya yang waktu itu dikuasai oleh PDI-P dengan 12 kursi, langkah Persebaya untuk mendapat dana tidak menemui halangan yang berarti. Alhasil, Persebaya mendapat kucuran dana dari APBD yang totalnya mencapai Rp 5.000.000,00 Padahal, musim-musim sebelumnya Persebaya hanya mendapat dana sebanyak Rp 500.000.000,00 Dengan kata lain, terjadi peningkatan sepuluh kali lipat alokasi APBD Surabaya untuk Persebaya dalam masa kepemimpinan Bambang. Dalam hal ini, Bambang berhasil menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk membuat sebuah kebijakan public yang menguntungkan Persebaya.

Kedua adalah Prestasi Persebaya tahun 2004. Di sini sangat jelas bahwa Persebaya menjadi juara Liga Indonesia X. Dengan prestasi Persebaya yang cukup gemilang, animo Bonek untuk mendukung Persebaya kembali meningkat. Tingkat keterisian Gelora 10 Nopember kembali seperti ketika Persebaya belum terdegradasi. Di samping itu, pemberitaan media masa mengenai hal-hal positif di tubuh Persebaya juga makin gencar. Dengan kata lain, ada peningkatan perhatian sebagian masyarakat Surabaya terhadap Persebaya. Hal ini menjadi keuntungan mutlak bagi Bambang D.H. untuk mendongkrak popularitasnya. Dalam satu artikel, Wisnu Sakti Buana menyatakan bahwa tahun tersebut adalah saat bagi walikota (Bambang D.H.) untuk menunjukkan kepedulian terhadap salah satu ikon Surabaya. Padahal, tahun sebelumnya Bambang tidak sekalipun menginjakkan kaki di Gelora 10 Nopember sekadar untuk menonton pertandingan Persebaya. Di samping itu, dalam musim kompetisi 2005, Persebaya berhasil mempertahankan prestasinya yaitu dengan menjadi juara paruh musim Liga Indonesia wilayah timur. Kebetulan atau tidak, gelar juara paruh musim yang diraih Persebaya terjadi pada 12 Juni 2005 atau hari kedua masa kampanye. Hal ini rupanya ikut mengangkat popularitas Bambang D.H. yang tercermin dalam hasil survey yang dirilis oleh beberapa lembaga survey. Pada survey yang digelar 13-16 Juni 2005 oleh ITS, Bambang unggul dengan presentase 37%.

Ketiga adalah struktur tim sukses Bambang D.H.-Arif Affandi dalam pemilihan Walikota Surabaya 2005. Di sana kita akan menemui nama Saleh Ismail Mukadar (Ketua tim sukses) yang juga menjabat sebagai Manajer tim Persebaya dan nama Wisnu Sakti Buana (Divisi Eksternal) yang juga menjabat sebgai asisten manajer Persebaya. Dalam hal ini, kita bisa memaknai kemudahan yang didapat oleh tim sukses Bambang untuk menggerakkan masa khususnya yang terkait dengan Persebaya (supporter Persebaya). Kemudahan itu tentunya tidak didapat secara cuma-cuma. Saleh dan Wisnu harus bisa meningkatkan prestasi Persebaya guna menarik perhatian Bonek. Hal ini dengan baik ditunaikan oleh Saleh dan Wisnu dengan keberhasilan Persebaya menjuarai Liga Indonesia X. Dengan begitu, animo supporter Persebaya untuk kembali memperhatikan Persebaya meningkat. Ini adalah modal yang cukup baik untuk memasarkan sosok Bambang D.H. Bagaimana Saleh dan Wisnu menggerakkan masa Persebaya untuk mendukung Bambang akan kita lihat dalam pembahasan mengenai kampanye.

Keempat adalah pelaksanaan kampanye Bambang D.H.-Arif Affandi. Kita telah mendapati bahwa beberapa kampanye BARA sarat akan aroma pemanfaatan Persebaya. Di sini kita sepakat bahwa mobilisasi masa adalah elemen penting dalam sebuah kampanye. Posisi Bambang sebagai ketua umum Persebaya, Saleh Manajer Persebaya dan Wisnu sebagai Asisten Manajer Persebaya, menjadi modal besar untuk memobilisasi masa yaitu Bonek dalam kampanye Bambang. Hal itu tercermin dalam rapat umum di Lapangan Putroagung 14 Juni 2005. Sebagian besar masa yang hadir mengenakan kaos bergambar Bambang, Arif, dan Persebaya. Lebih dari itu, kaos tersebut menggambarkan prestasi Bambang D.H. ketika membidani Persebaya. Di samping itu, Bambang juga menghadiri perayaan ulang tahun Persebaya di Tunjungan Plasa pada 20 Juni 2005. Dari segi tanggal saja cukup aneh mengingat Persebaya berulang tahun pada 18 Juni. Setelah dicermati, 20 Juni 2005 adalah jadwal di mana Bambang diperbolehkan untuk berkampanye di kawasan Tunjungan. Selain itu, Bambang D.H.-Arif Affandi adalah satu-satunya pasangan calon yang menghadiri perayaan ulang tahun Persebaya. Dengan demikian, kita bisa melihat bagaimana pemanfaatan Persebaya oleh BARA dalam masa kampanye.

Yang kelima adalah hasil pemungutan suara pada Pemilihan Walikota Surabaya 2005. Hasil pemungutan suara adalah indikasi utama keberhasilan strategi yang telah dijalankan oleh tim sukses Bambang D.H.-Arif Affandi. Sebagaimana disebutkan, Bambang D.H.-Arif Affandi keluar sebagai pemenang pilwali Surabaya 2005 dengan perolehan suara 492.999 atau 51,34 persen suara sah. Namun demikian, guna menganalisis pengaruh pemanfaatan Persebaya dan keberhasilan Bambang memenangkan pilwali 2005, kita bisa melihat perolehan suara Bambang D.H. di kecamatan tertentu. Dalam hal ini, Kecamatan Tambak Sari menjadi parameter utama keberhasilan strategi Bambang D.H. dalam memanfaatkan Persebaya Surabaya. Kecamatan Tambaksari ialah basis Bonek Mania. Di kecamatan inilah berdiri Gelora 10 Nopember. Tentu saja, segala kegiatan Persebaya dan Bonek Mania terpusat pada kecamatan ini. Di samping itu, di Kecamatan Tambaksarilah pendukung Bambang D.H. dalam kampanyenya secara terang-terangan mengenakan kaos bergambar Bambang, Arif, dan Persebaya. Dalam pilwali Surabaya 2005, Bambang D.H. meraup 44.912 suara. Perolehan tersebut jauh meninggalkan lawan-lawannya, yakni Erlangga Satriagung dengan 12.997 suara, Gatot Sudjito dengan 6.525 suara, dan Alisjahbana dengan 12.990 suara. Dalam hal ini, kita bisa menyimpulkan bahwa dengan menguasai Persebaya Surabaya, Bambang berhasil memengaruhi perilaku pemilih khususnya Bonek untuk memberikan suara pada Bambang.

Dengan demikian, kita telah memahami adanya kaitan antara penguasaan Persebaya dan kemenangan Bambang D.H.-Arif Affandi dalam Pemilihan Walikota Surabaya 2005. Hal itu tercermin melalui indicator , antara lain struktur kepengurusan Persebaya Surabaya 2003-2007 yang dihuni oleh tim sukses Bambang D.H. dan anak buahnya di pemkot, Prestasi Persebaya 2004 yang cukup gemilang sehingga meningkatkan popularitas Bambang, struktur tim sukses Bambang D.H.-Arif Affandi dalam pemilihan walikota Surabaya 2005 yang beberapa diantaranya merangkap sebagai manajer Persebaya, pelaksanaan kampanye Bambang D.H-Arif Affandi yang memanfaatkan pendukung Persebaya, dan perolehan suara Bambang D.H.-Arif Affandi dalam pemilihan walikota Surabaya 2005 yang unggul di basis Bonek, Kecamatan Tambaksari.

Bab III
KESIMPULAN

Setelah memahami data dan fakta yang tersaji dalam makalah ini, kita bisa menilai bahwa penguasaan Persebaya yang dilakukan oleh Bambang D.H. terhadap Persebaya Surabaya melalui posisinya sebagai Ketua Umum Persebaya Surabaya berpengaruh pada kemenangan Bambang D.H. dalam Pemilihan Walikota Surabaya 2005. Dalam hal ini, kita bisa merujuk pada perolehan suara Bambang D.H.-Arif Affandi di Kecamatan Tambaksari yang jauh meninggalkan perolehan suara lain. Sebagaimana kita ketahui, kecamatan Tambaksari adalah basis dari Bonek Mania.

Kemenangan Bambang itu sendiri tidak lepas dari kelihaian Bambang dan tim suksesnya untuk memanfaatkan Persebaya Surabaya dalam rangka meningkatkan popularitas Bambang di mata Bonek Mania. Pemanfaatan itu sendiri dimulai ketika Bambang menjadi Ketua Umum Persebaya pada 2003. Jika menilik pada sejarah, di tahun sebelumnya tidak sekalipun Bambang menonton pertandingan Persebaya di Gelora 10 Nopember. Prestasi yang berhasil diberikan Bambang semasa kepemimpinannya, Juara Liga Indonesia X dan Juara paruh musim Liga Indonesia XI, dengan dibantu Manajer dan Asisten Manajer Persebaya yang notabene adalah tim suksesnya menjadi poin utama yang menaikkan popularitas Bambang di kalangan Bonek.

Keberhasilan Bambang tersebut dimanfaatkan oleh tim sukses dalam masa kampanye. Beberapa kali terlihat upaya Bambang untuk menonjolkan keberhasilannya sebagai Ketua Umum Persebaya. Di samping itu, dengan posisi Bambang serta Saleh Mukadar dan Wisnu Sakti Buana dalam kepengurusan Persebaya, mereka bisa menggerakkan Bonek Mania untuk hadir dalam kampanye Bambang. Selain itu, Bambang juga menjadi satu-satunya calon walikota yang hadir dalam perayaan ulang tahun Persebaya yang jadwalnya diatur untuk sesuai dengan waktu kampanye Bambang.

Pemanfaatan Bambang yang berujung pada popularitasnya di mata Bonek memang membuahkan hasil yang manis. Kesadaran Bambang dan tim sukses akan besarnya jumlah suara Bonek patut diacungi jempol. Pendekatan perilaku pemilih model sosiologis yang dilakukan oleh Bambang terbukti efektif untuk memengaruhi perilaku pemilih khususnya Bonek agar memberikan suaranya pada Bambang dengan terpilihnya kembali Bambang sebagai Walikota Surabaya periode 2005-2010.

DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Budiardjo, M., ‘Dasar-Dasar Ilmu Politik’, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 20008.
Darmawanto, E.’Sejarah Perkembangan Klub Persebaya 1927-1978 (Studi Tentang Peran Sepakbola Sebagai Unsur Pemersatu Bangsa di Surabaya),Surabaya, 2003.
Firmanzah,’Marketing Politik Antara Pemahaman dan Realitas’, Yayasan Obor Indonesia, 2008
Prihatmoko, J.J. , ‘Pemilihan Kepala Daerah Langsung;Filosofi, Sistem dan Problema Penerapan di Indonesia’, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005
Rochman, Z.N. ,’Makna Simbol “Suporter” Persebaya (Analisis Semiologi Komunikasi), Surabaya, 2004.
Sahab, A. ,’Peran Mesin Politik terhadap Perolehan Suara (Studi Kasus Perbandingan Strategi Politik Tim Sukses Calon Walikota dalam Pilkada 2005 di Kota Surabaya’, Prodi Ilmu Politik Fisip Unair, Surabaya, 2005
Sitepu, P.A. , ‘Studi Ilmu Politik’, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2012.
Suharto, E. PhD,’Analisis Kebijakan Publik; Panduan Praktid Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial’, Alfabeta, Bandung, 2008.
Sukartiningsih, S. ,’Makna ‘Bonek Sejati’ Studi Interpretatif Tentang Makna Bonek Sejati Pada Komunitas Bonek (Pendukung Persebaya) di Surabaya’, Prodi Sosiologi Fisip Unair, Surabaya, 2005
Media Cetak :
Jawa Pos, 15 Juni 2003.
Jawa Pos, 21 Juni 2003.
Jawa Pos, 12 Oktober 2003.
Jawa Pos,17 Oktober 2003.
Jawa Pos, 18 Oktober 2003.
Jawa Pos, 12 November 2003.
Jawa Pos, 25 Juni 2005
Kompas, 8 Februari 2005.
Website :
Bola.Net (online), , diakses pada 19 Juni 2012.
KPUD Tetapkan Bambang Sebagai Walikota Surabaya’, Tempo Interaktif (online), , diakses pada 12 Juni 2012.

Lampiran 1

Susunan Pengurus Persebaya Surabaya 2004-2007

Pelindung : Imam Utomo
Penasehat : H.M. Barmen
H. M. Mislan
Ketua Umum : Bambang D.H. (Walikota Surabaya)
Ketua Harian : H. Santo
Sekum : Yuli Subianto (Plt. Kadis Infokom Kota Surabaya)
Bendahara : Toyib
Kabid Organisasi : Subodro (Salah Satu Camat di Surabaya)
Kabid Pembinaan : Saleh Hanifah
Humas : Soepangat
Komisi Hukum : Joni Kunto
Supriyadi
Komisi Wasit : Mudjito
Kelompok Usia : Maryono
Komisi pelatih : Maura Helly
Komisi pertandingan : Ahmada Jaya
Official Tim Persebaya
Manajer : Saleh Mukadar (Wakil Ketua DPC PDI-P Surabaya, Anggota DPRD Tk. I Provinsi Jawa Timur)
Asisten Manajer : Wisnu Sakti Buana (Wakil Ketua DPC PDI-P Surabaya, Anggota DPRD Tk. II Kota Surabaya)
Sekertaris : Sukamto Hadi (Sekkota Surabaya)
Bendahara : Hendri
Meassure : Madr’ai
Pembantu Umum : Kardjono
(Sumber : Jawa Pos 25 Oktober 2003)

Lampiran 2
Struktur Tim Sukses
Bambang D.H.-Arif Affandi

Keterangan:
• Saleh Ismail Mukadar (Wakil Ketua DPC PDI-P Surabaya & anggota DPRD Jatim, Manajer Persebaya Surabaya)
• Budi Harijono (Sekretaris DPC PDI-P Surabaya & anggota DPRD Kota Surabaya)
• Indah Kurnia (Kader PDIP)
• Suliad (Wakil Ketua DPC PDI-P Surabaya & anggota DPRD Kota Surabaya)
• Wisnu Sakti Buana (Wakil Ketua DPC PDI-P Surabaya & anggota DPRD Kota Surabaya, Asisten Manajer Persebaya Surabaya)
• Adi Sutarwiyono (Mantan wartawan Tempo dan Surya)
(Sumber: Tim Sukses Bambang D.H.)

Lampiran 3
Perolehan Suara Pemilihan Walikota Surabaya 2005
NO. Kecamatan eR-T BARA GaBe AW
1 Bulak 1.889 6.552 743 3.030
2 Genteng 2.955 10.309 23.321 4.561
3 Karangpilang 5.578 11.929 2.113 4.767
4 Tambaksari 12.997 44.912 6.525 12.990
5 Asemrowo 2.605 7.008 559 2.945
6 Wiyung 4.677 11.854 2.198 3.382
7 Wonokromo 13.232 25.613 8.022 11.558
8 Rungkut 5.150 15.519 2.703 7.441
9 Sukolilo 5.847 14.546 2.180 9.306
10 Kenjeran 6.700 21.533 3.077 8.584
11 Sukomanunggal 5.246 22.093 2.649 4.644
12 Bubutan 7.506 18.817 3.132 9.195
13 Mulyorejo 4.348 13.566 2.207 5.829
14 Sawahan 12.841 46.502 6.071 11.664
15 Dukuh Pakis 4.186 11.237 1.851 2.410
16 Pabean Cantian 6.168 12.440 2.351 5.747
17 Wonocolo 7.091 12.508 1.988 5.319
18 Tenggilis Mejoyo3.369 9.658 1.608 4.393
19 Krembangan 6.877 18.911 4.539 8.371
20 Jambangan 4.831 7.222 1.025 2.925
21 Pakal 2.061 7.233 882 3.531
22 Tegalsari 6.192 19.194 4.026 6.752
23 Gubeng 9.049 26.365 6.869 9.923
24 Lakarsantri 3.157 10.683 1.606 3.883
25 Simokerto 6.434 14.679 2.786 8.859
26 Gayungan 3.080 7.204 1.448 3.164
27 Tandes 6.317 16.596 3.546 6.366
28 Semampir 10.343 22.356 5.376 16.824
29 Gunung Anyar 2.232 7.749 1.102 4.040
30 Sambikerep 3.156 9.404 1.746 3.387
31 Benowo 2.141 8.805 1.680 3.218
Jumlah 179.255 492.999 88.929 199.057
Daftar Pemilih Tetap 1.934.688
Mencoblos 999.894
Jumlah Suara Sah 960.240
Jumlah Suara Tidak Sah 39.654
Golput 934.794
48,32%
(Sumber : KPUD Kota Surabaya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s