Antara Cemani, Wedhus, dan Perdamaian

Seperti biasanya, Sabtu pagi menjadi hari yang selalu dinantikan oleh kebanyakan siswa kelas XI IA 7 SMAN 2 Surabaya. Di hari itulah segala letih dan penat yang telah berakumulasi setelah lima hari menempuh pendidikan di sekolah tua ini bisa dilepaskan. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang yang ada mulai dari berolahraga bersama keluarga, membaca koran di teras rumah, sarapan bubur, ataupun browsing dan membuka facebook yang waktu itu mencapai puncak kejayaannya. Penulis rupanya memilih untuk melakukan plihan terakhir.

“SESUK TAK ENTENI NANG SMADA JAM PITU ISUK!” begitulah kalimat yang penulis temui di dinding teman penulis sebut saja Wedhus. Rupanya Cemani yang juga teman penulis sedang berseteru dengan Wedhus dan sedang merencankan  adu kejantanan. Pertarungan ini direncanakan akan dilakukan di lingkungan sekolah. Kebetulan pada keesokan harinya akan diadakan jalan sehat di sekolah penulis. Hal ini menjadi justifikasi bagi keduanya untuk bertarung di sekolah.

Inti dari masalah ini sebenarnya sepele : saling ejek. Wedhus sebagai siswa yang memang berpredikat mulut  besar waktu itu melakukan kesalahan fatal. Dia menghina wilayah tempat tinggal Cemani. Tentu saja Cemani yang terkenal akan tempramennya tidak terima pada sikap Wedhus. Keduanyapun terlibat adu mulut yang dibawa hingga ke jejaring social tersebut. Karena terbawa hingga jejaring social, tentu permasalahan ini diketahui oleh banyak orang, baik teman maupun orang lain, tidak terkecuali wali kelas XI IA 7.

Keesokan harinya pertempuran antara keduanya tidak bisa dielakkan. Adu jotos mewarnai pertempuran antar sejawat ini. Bertempat di lantai paling atas gedung tertinggi sekolah, pertempuran ini tidak mengundang perhatian khalayak. Hanya beberapa siswa yang tahu. Tidak ada yang mencoba untuk melerai. Mereka seakan membiarkan Wedhus yang sering menyakiti hatinya dianiaya oleh Cemani. Cemanipun muncul sebagai pemenang. Meskipun kalah, tidak ada luka serius yang dialami oleh Wedhus.

Sial bagi keduanya, wali kelas IA 7 – Pak Sugeng —  yang terkenal sangat perhatian pada muridnya mengetahui hal ini melalui facebook. Hari Senin, sehabis upacara bendera, keduanya dipanggil ke perpustakaan secara bergantian. Di sana mereka dicecar beberapa pertanyaan. Interogasi tidak berhenti pada mereka. Beberapa orang yang dipandang netral oleh beliau termasuk penulis juga ikut dimintai keterangan.

Setelah memahami permasalahan, beliau menasihati pihak-pihak yang bertikai. Di sana, beliau meminta mereka untuk berinstropeksi diri. Di samping itu, beliau memberi beberapa wejangan mengenai sepelenya penyebab konflik antara mereka dan besarnya efek yang ditimbulkan. Beliau juga menasihati agar satu sama lain saling memaafkan. Pada akhirnya, beliau mempertemukan kedua pihak yang bertikai di depan kelas dan merekapun saling jabat tangan tanda memaafkan. Selain itu, beliau juga menjelaskan konflik yang mendera kedua sejawat itu pada siswa lain di IA 7 secara halus dan elegan. Beliau memasukkan wejangan pada siswa yang lain dalam ceramahnya itu. Konflik di antaranya berakhir dengan happy ending.

Dalam hal ini, bisa kita lihat bahwa Pak Sugeng selaku wali kelas IA 7 telah menunaikan nilai-nilai inti dari penciptaan perdamaian dalam Islam sebagaimana tertuang dalam buku Chaiwat Satta Anand. Kelima nilai itu –sabar, menghargai hak-hak kemanusiaan setiap orang, berbagi bersama, kreatifitas, dan memaafkan— tertuang dalam upaya penciptaan perdamaian antara Wedhus dan Cemani. Pak Sugeng sebagai Muslim yang taat terilhami dari berbagai kisah teladan Nabi Muhammad untuk menjalani hidupnya.

Dalam hal meminta keterangan dari berbagai pihak, baik yang bertikai maupun tidak, Pak Sugeng mencerminkan sikap sabar. Di sini beliau mau mendengarkan orang lain terlebih dahulu bagi dasar berpikir untuk tindakan selanjutnya. Di samping itu, dalam melakukan interogasi, beliau tidak mempertemukan pihak yang berseteru. Jika pihak yang berseteru dipertemukan, tentu saja aka nada perasaan inferior dari yang kalah. Wedhus yang harga dirinya mungkin sudah terinjak tentu cenderung takut dan memberikan keterangan yang menguntungkan Cemani meskipun harus berbohong. Dalam hal ini, Pak Sugeng tidak ingin membuat harga diri Wedhus makin terinjak. Beliau mencerminkan nilai menghargai kemanusiaan setiap orang dalam tindakan ini.

Sebagaimana disebutkan di atas, dalam nasihat pada pihak yang bertikai, beliau menginstruksikan mereka untuk saling memaafkan. Secara jelas, di sini beliau sedang mengamalkan nilai kelima, yakni memaafkan. Di samping itu, dalam pengamalan nilai memaafkan, beliau juga mencerminkannya dalam tindakan yang tidak disertai dengan amarah sedikitpun. Kisah adu jotos antara Cemani dan Wedhus ini sebenarnya telah beredar luas di sekolah dan menurunkan citra dari kelas XI IA 7  dan Pak Sugeng di mata warga sekolah yang selama ini cukup baik.

Nilai berbagi bersama tercermin dalam tindakan Pak Sugeng yang menceritakan kembali konflik tersebut dengan halus dan elegan pada siswa kelas XI IA 7 lain. Dalam hal ini, beliau ingin membagi hikmah dari kisah ini tanpa menyinggung perasaan dari siapapun. Manfaat positifpun menyertai ikhtiar beliau ini. Teman-teman jadi lebih waspada terhadap segala bentuk provokasi yang bisa berakibat terjadinya konflik.

Dan nilai terakhir adalah kreativitas. Dalam hal ini, Pak Sugeng cukup kreatif untuk menciptakan perdamaian dalam kelas IA 7. Beliau menjalankan tugasnya dengan melakukan tindakan preventif yakni memantau situasi kelas melalui jejaring social. Di samping itu, dalam melakukan interogasi dan member wejangan, keliahaian beliau sangat teruji. Masalah bisa selesai dan tidak ada hati yang tersakiti.

Cerita di atas telah menyadarkan kita bahwa banyak tindakan penciptaan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari kita. Di samping itu, penciptaan perdamaian bisa dilakukan oleh orang-orang yang tidak kita prediksi. Kita juga akhirnya sadar bahwa banyak sekali tindakan-tindakan dari pihak tersebut yang telah mengadopsi perilaku dari Nabi Muhammad SAW.Pada akhirnya kita akan melihat, bahwa nilai-nilai penciptaan perdamaian dalam Islam itu bukan sekadar teori melainkan kenyataan yang terjadi di sekitar kita.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s