Ganti Hari, Ganti Diary

1st Chapter

Memasuki semester dua, terjadi perubahan fundamental dalam kehidupanku. *ceileh* Ya, pasca 6 tahun memberikan loyalitas pada buku harian hadiah dari pakde, dengan hati yang mantap kuputuskan untuk membuka lembaran baru dalam catatan hidupku. Aku ganti buku harian! Sudah begitu banyak kejadian penting yang tercatat dalam buku harian yang semestinya adalah buku agenda di instansi di mana kakak kandung ibuku ini mengabdi. Baik suka maupun duka, refleksi dari satu persatu kejadian tertulis dengan rapi. Walaupun di sana-sini akan ditemui tulisan yang tidak bisa dibaca sebagai ungkapan suasana hati sang penulis yang terkadang tidak menentu.. *e ciee, prikitiuw* 

Kegiatanku menulis beberapa kejadian penting dalam buku harian tersebut sebenarnya dimulai pada tahun 2007. Tepatnya ketika aku masih duduk di kelas IX SMP Negri 1 Surabaya, sekolah kita tercintaaaa. *kok malah nyanyi fan?!* Ya, di awal kelas penghabisan di sekolah yang memang menjadi impianku sejak sd ini, kubiasakan diri untuk menuliskan kejadian-kejadian penting dalam satu hari. Memang aku tidak konsisten untuk mencatat setiap hari. Namun poinnya adalah aku mulai menulis dan merefleksikan apa yang terjadi dalam satu hari dengan serius.

Acap kali buku harian itu memudahkanku dalam menjalani kegiatan. Hal ini terkait dengan amanah yang waktu itu harus kujalani, mengomandoi organisasi siswa sekolahku. Tidak mudah tanggung jawab yang harus aku pikul, aku harus menyukseskan tujuhbelasan, seleksi pengurus osis, pemilihan ketua osis secara langsung, dan ujungnya adalah LDK dalam interval waktu yang sangat sempit! Buku harian tersebut membantuku untuk menyusun skala prioritas. Hal yang jarang aku lakukan sebelumnya. Alhamdulillah, meski masih amat sangat banyak kekurangan sekali, masa-masa itu berhasil kulalui.

Pasca LDK praktis aku kehilangan kebiasaan yang mulai kubiasakan itu. Perhatianku yang awalnya untuk organisasi mulai bergeser pada kepentingan pribadi, heuheu😉. Ya, waktu yang tersisa selama SMP itu ku habiskan untuk tiga hal : lebih dekat dengan indah, meningkatkan skill band-bandan sebagai persiapan untuk open air2k8, dan menyelesaikan sesuatu yang tertunda, Menjuarai S2EC!

Singkat cerita aku lulus dari SMPN 1 Surabaya (Spensa). Bisa dibilang nilaiku tidak gemilang alias biasa-biasa saja. Nilaiku jauh lebih rendah dari dua sahabatku, Faiz dan Bagus. Bahkan rata-rata nilaiku lebih rendah daripada rata-rata nilai sewaktu aku masuk ke sekolah yang telah banyak memberi kenangan ini. Memang kedua hal itu bukan sesuatu yang patut untuk dibandingkan. Namun di sini bisa kita lihat bahwa kualitasku ternyata tidak lebih baik dari hari sebelumnya. Akupun harus merelakan keinginanku untuk masuk ke SMA yang sebelumnya sangat kuidam-idamkan, SMAN 5 Surabaya. Tidak bisa dipungkiri, berbagai keunggulan yang dimiliki oleh sekolah yang menghadap ke arah jalan kusuma bangsa Surabaya ini membuat imajinasi seorang anak spensa sepertiku melayang menelusuri tiap seluk beluk di sekolah tua itu. Motivasiku untuk mengikuti S2ECpun, lomba akademik yang diadakan smala, berlipat ganda. Seperti banteng yang melihat warna merah, menerjang hingga tetes keringat terakhir! Dan aku harus merelakan piala S2EC itu tergeletak di atas orgen di ruang keluargaku sebagai peringatan bahwa aku dulu pernah berambisi masuk smala.

To be continued..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s