Tuntutan Demokrasi : Bumerang bagi Stabilitas Politik dan Keamanan di Timur Tengah

Akhir-akhir ini, dunia Arab diguncang oleh berbagai gerakan revolusi, demonstrasi dan protes. Gerakan yang biasa disebut dengan Arab Spring ini terjadi di berbagai negara. Gerakan- gerakan tersebut menciptakan instabilitas politik dan keamanan di negaranya. Setelah ditelisik, mereka menyuarakan hal yang sama dalam pergerakannya yakni demokrasi.

Sebagaimana kita ketahui, salah satu hal yang membuat terjadinya stabilitas adalah dominasi. Dominasi tersebut didapatkan oleh pemerintah atas legitimasi yang mereka miliki. Tidak jarang, pemerintah menyalahgunakan legitimasinya. Hal ini berakibat pada timbulnya gerakan-gerakan masyarakat yang menuntut pemerintahnya untuk bertindak sebgaimana hukum yang berlaku. Di sinilah, terjadi usaha untuk meruntuhkan dominasi yang berakibat pada instabilitas.

Arab Spring menjadi contoh teraktual guna menggambarkan upaya menggugurkan dominasi pemerintah yang sedang berkuasa. Upaya tersebut rupanya menimbulkan instabilitas keamanan di negara yang bersangkutan. Unjuk rasa yang mengarah pada anarkisme memaksa polisidan bahkan militer untuk bertindak represif. Di beberapa negara seperti yang terjadi di Libya, terjadi pertempuran antara loyalis pemerintah dan pihak yang menuntut turunnya presiden mereka, Moammar Khadafi, dari tampuk kekuasaan. Hal tersebut berakibat pada jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit serta kerusakan infrastruktur.

Harus kita akui kepemimpinan negara-negara di Timur Tengah menjadi penyebab utama terjadinya Arab Spring. Pemimpin di negara-negara yang masuk dalam pusaran Arab Spring cenderung memimpin dalam waktu yang cukup lama. Dalam kepemimpinannya, mereka memiliki tendensi untuk berperilaku otoriter. Hal ini tentu sesuai dengan pendapat Lord Acton yang menyatakan bahwa powers tend to corrupt but absolute power corrupt absolutely. Tentu saja masyarakat negara-negara tersebut geram dengan status quo yang ada.

Atas dasar tersebut, demokrasi menjadi tuntutan para demonstran. Mereka meyakini bahwa demokrasi adalah jalan terbaik guna mengakhiri episode otoriter dalam pemerintahannya. Namun, kita harus mengakui bahwa para demonstran telah menyebabkan terjadinya  instabilitas dalam keamanan di negaranya. Di samping itu mereka juga tidak berpikir panjang mengenai kepemimpinan yang akan mengganti status quo yang ada. Alhasil terciptalah instabilitas dalam politik di negara tersebut.

Menurut saya, seharusnya demokrasi tidak dipaksakan pelaksanaannya di seluruh penjuru dunia. Hal ini berdasar pada asumsi bahwa tidak setiap masyarakat memiliki kultur demokrasi. Apalagi kultur demokrasi yang sama dengan negara asalnya, Amerika. Tiap masyarakat telah memiliki struktur pemerintahan yang sesuai dengan kulturnya. Ketika demokrasi tetap dipaksakan, akan terjadi berbagai kekacauan di masyarakat tersebut.

Seharusnya, masyarakat tetap menjalankan struktur pemerintahan yang ada. Yang perlu di ubah di sini adalah penggunaan nilai-nilai universal yang sesuai dengan kultur masyarakat tersebut. Kita sebaiknya tidak berusaha menyamakan perbedaan. Karena perbedaan adalah rahmat yang harus dikelola dengan baik.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s