Relevansi Realisme dalam Memahami Politik Internasional Kontemporer

Semenjak kemunculannya, realisme menjadi teori politik yang selalu hangat untuk diperbincangkan. Banyak pro dan kontra di kalangan ilmuwan dalam menyikapi berkembangnya teori ini. Walaupun demikian, realisme menjadi teori yang cukup dominan dalam memahami politik internasional. Hingga saat ini, realisme masih relevan dalam rangka memahami politik internasional kontemporer. Oleh karena itu, essay ini mencoba untuk menjelaskan relevansi realisme dalam memahami politik internasional kontemporer.

Agar tidak terjadi kesalahan persepsi, mari kita pahami realisme terlebih dahulu. Realisme adalah sebuah paradigma yang berdasarkan pada pendapat bahwa politik dunia secara esensial sebagai perjuangan di antara negara yang mementingkan kepentingan nasionalnya untuk meraih kekuasaan dan posisi dibawah anarki, dengan beberapa negara kompetitor yang berjuang untuk kepentingan nasionalnya.Ada tiga elemen utama dalam realisme. Elemen – elemen itu adalah statism, survival, dan self-help.

Realisme, sebagaimana diaplikasikan dalam politik dunia kontemporer, melihat  negara, tanpa ada otoritas politik yang lebih tinggi, adalah aktor terpenting dalam panggung politik dunia.2  Realisme menawarkan sebuah panduan dalam pencapaian kepentingan sebuah negara di lingkungan yang penuh permusuhan. Dalam hal ini, lingkungan yang dimaksud adalah dunia internasional.

Hal ini berakibat pada prioritas kebijakan mereka di mana survival dari negaranya adalah hal yang utama.  Pada akhirnya, bagi mereka tidak ada yang lebih penting dari power dan self-help. Karena konsepsi tersebut, kedaulatan negara menjadi sangat penting. Negara yang berpandangan realis akan mati-matian dalam mempertahankan kedaulatan negaranya.

Di sisi lain, bagi realis garis keras, moral dikesampingkan. Mereka menganggap moral adalah salah satu halangan untuk mencapai kepentingannya. Hal ini berimbas pada penghalalan mereka terhadap perang untuk mencapai national interest-nya.

Dalam Politics Among Nations: Struggle For Power and Peace, HJ.Morgenthau menuliskan enam prinsip realisme politik., dan berikut ini rangkuman enam prinsip relisme politik HJ.Morgenthau yang ditulis oleh J.Ann Tickner : A Critique of Morgenthau’s Principles of Political Realism, hal.19.

 

1. Politics like society in general, is governed by objective laws thet have their roots in                                                              human nature, which unchanging ; therefore it is possible to develop a rational theory that reflects these objective laws.

2. The main signpost of political realism is the concept of interest defined in term of power which infuses rational order into the subject matter of politics, and thus makes the theoretical understunding of politics possible. Political realism stresses the rational, objective and unemotional.

3. Realism assumes that interst defined as power is an objectve category which is universally valid but not with a meaning that is fixed once and for all.Power is control of man over man.

4. Political realsm is aware of the moral significance of political actions. It is also aware of the tension between moral command and the requirements of successful political actions.

5. Political realsm refuses to identify the moral aspirations of a particular nations with the moral laws that govern the universe. It is the concept of interest defined in terms of power that saves us from moral excess and political folly.

6. The political realist maintains of the political sphere.


Dengan berakhirnya perang dingin dan perubahan-perubahan yang terjadi di tatanan regional maupun global, telah terjadi perubahan dalam konstelasi politik internasional.3 Konstelasi politik internasional yang sebelumnya bipolar, dengan runtuhnya Uni Sovyet menjadi unipolar. Imbasnya, isu politik yang sebelumnya lebih mengarah kepada high politics (perang dan militer) bertransformasi menuju low politics (ekonomi dan perdagangan). Di samping itu, kejatuhan Uni Sovyet juga membuat ilmuwan yakin bahwa konsep balance of power sudah tidak berlaku lagi. Di sisi lain, peran aktor non-negara kian besar dalam politik global.

Muncul keraguan akan relevansi realisme dalam memahami politik internasional kontemporer. Namun yang perlu kita garis bawahi meski terjadi perubahan concern dalam politik global, masih terjadi keberlanjutan era perang dingin dalam politik regional. Hal tersebut ditunjukkan oleh berbagai macam sengketa yang terjadi di Timur Tengah (Palestina vs Israel), Semenanjung Korea  (Korea Utara vs Korea Selatan), bahkan di Asia Tenggara (Thailand vs Kamboja). Kasus – kasus yang melibatkan militer tersebut akan menjadi mudah dipahami dengan kacamata realis. Oleh karena itu, meski telah terjadi perubahan besar-besaran di tatanan global, realisme masih cukup relevan dalam memahami politik internasional.

Di sisi lain,  masih banyak pemimpin-pemimpin negara yang menggunakan kacamata realis untuk melaksanakan politik luar negerinya meskipun negara tersebut berhaluan liberal.

Perubahan konstelasi politik internasional tak berhenti sampai di situ. Saat ini, Amerika Serikat tidak lagi mendominasi politik internasional seorang diri. Kehadiran China diyakini mampu menyaingi kedigdayaan Amerika. Di samping itu bangkitnya Rusia membuat konstelasi politik internasional  kian seimbang. Belum lagi negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup menjanjikan seperti Brazil dan India. Kita bisa melihat politik internasional saat ini cenderung ke arah multipolar. Dalam hal ini, konsep balance of power mulai muncul kembali.

Salah satu contoh paling mudah untuk menggambarkan bahwa realisme masih relevan dalam memahami politik internasional kontemporer adalah baku tembak yang terjadi antara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel).  Pada 23 November 2010, terjadi serangan artileri yang dilakukan oleh Korut ke P. Yeongpyang (Korsel). Empat orang di Korsel, dua diantaranya warga sipil, tewas akibat serangan itu. Ini adalah keadaan paling menegangkan semenjak Perang Korea berakhir setengah abad yang lalu.

Kedua pihakpun tidak mau mengakui siapa yang harus bertanggung jawab. Terjadi saling tuding antara negara di Semenanjung Korea ini. Di satu sisi, Korsel melalui kantor berita Yonhap menegaskan bahwa Korut  adalah pihak yang memantik konflik. Di sisi lain, Korut memlalui kantor berita KCNA menyebutkan bahwa Korsellah yang pertama kali melontarkan tembakan. Pada waktu itu, tentara Korsel sedang mengadakan latihan militer di perairan dekat Yeongpyang. Sebagian besar perairan di L. Kuning itu masih dipersengketakan oleh kedua negara.

Dalam sebuah siaran televisi, pemerintah Korut menyalahkan tindakan Korsel yang telah menjadi boneka bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Mereka terpaksa melakukan tembakan karena tindakan provokatif dari rezim yang mereka anggap boneka.  Bahkan Korut mengancam akan melakukan peperangan jika Korsel berani memasuki wilayahnya sekecil apapun itu.

Menurut pendapat Jimi Carter, Korut adalah negara yang tak mudah untuk dihadapi. Mereka sulit diajak kompromi, mudah tersinggung, dan tak mau tunduk pada pengaruh asing. Karakter tersebut menurut Carter terkait dengan agama resmi di negara itu, Juche, yang artinya bertumpu pada diri sendiri dan jangan mau didominasi pihak lain.4 Karakter itu selalu ditekankan oleh pemimpin Korut, Kim Il-Sung kepada putranya Kim Jong Il semenjak perang Korea berlangsung.

Sementara itu, ada sebuah fakta di Korut bahwa telah terjadi krisis pangan yang menyebabkan kelaparan. Di samping itu negara mereka jauh tertinggal dalam kemakmuran dari negara tetangga sekaligus musuh bebuyutannya, Korsel. Meskipun begitu, Korut mengalami ketergantungan dalam bantuan pangan pada musuhnya itu.

             Pernyataan Korut mengenai Latihan perang Korsel di sekitar perairan P. Yeongpyang menjadi bahan analisis yang pertama. Dalam hal ini, kita harus memahami bahwa sebagian besar perairan di sekitar P. Yeongpyang masih menjadi sengketa. Hal tersebut mengindikasikan adanya struggle for power di antara kedua belah pihak. Di samping itu, kita bisa memastikan bahwa Korea Utara memandang hal tersebut melalui geopolitik. Wilayah yang masih disengketakan nyatanya dijadikan ajang untuk berlatih militer. Untuk memahaminya, perhatian kita tujukan pada national interest Korut. Sebagaimana negara lainnya, national interest mereka adalah survival. Show off power yang dilakukan oleh Korsel adalah ancaman nyata bagi eksistensi Korut. Oleh karena itu, mereka menembakkan artilerinya ke P. Yeongpyang.

Bahan analisis kedua adalah pernyataan Korut tentang peperangan yang akan dilakukannya jika Korsel dan sekutunya berani melanggar batas wilayah Korut. Dalam hal ini, aspek kedaulatan negara bicara. Sebagaimana kita ketahui kedaulatan adalah sebuah prinsip di mana hanya ada satu otoritas yang berdaulat di dalam sebuah teritori negara. Secara otomatis kedaulatan negara Korut dilanggar ketika Korsel memasuki batas wilayahnya khususnya jika tanpa seizin Korut.

Kemudian, pendapat Jimi Carter menjadi bahan analisis ketiga. Pendapat mantan Presiden Amerika Serikat ini adalah perihal Korut yang sulit diajak kompromi, mudah tersinggung, dan tak mau tunduk pada pengaruh asing. Menurutnya hal tersebut mirip dengan agama resmi di negara itu, Juche, yang artinya bertumpu pada diri sendiri dan jangan mau didominasi pihak lain. Aspek self help terlihat pada perangai Korut tersebut. Hal ini bisa dimengerti bahwa Korut tidak mau percaya pada pihak lain.  Akibatnya mereka menggantungkan nasib pada diri mereka sendiri.

Berbagai macam aspek telah ditemukan dalam analisis di atas. Aspek-aspek tersebut antara lain struggle for power, geopolitik, national interest, survival, kedaulatan negara, dan self help. Aspek – aspek tersebut adalah aspek yang terkandung dalam realisme. Maka dari itu, bisa di katakan bahwa sengketa di Semenanjung Korea ini mampu menggambarkan penggunaan realisme dalam memahami politik internasional.

Tidak bisa dipungkiri, era pasca perang dingin telah merubah concern politik internasional. Terjadi pergerseran isu dari   keamanan dan militer menjadi isu ekonomi dan perdagangan. Oleh karena itu muncul pesimisme dari para ilmuwan tentang relevansi realisme untuk memahami politik internasional kontemporer. Namun, pesimsime tersebut terbantahkan dengan sendirinya oleh berbagai macam perang yang berkecamuk di tatanan regional seperti yang terjadi antara Korut dan Korsel. Berbagai aspek dalam cara pandang realisme tercermin dalam perang itu. Oleh karenanya perang Korsut vs Korsel tersebut mampu menunjukkan pada kita bahwa realis masih relevan dalam memahami politik internasional kontemporer.

 

 

Referensi

  1. C. W. Kegley, World Politics Trend and Transformation, 11th edition, 2008, Thomson Wadsworth,  Boston, p. 29.
  2. C. W. Kegley, World Politics Trend and Transformation, p. 29
  3. I.N. Sudira, B. Winarno, “Tinjauan Kritis Terhadap Realisme Politik dan Relevansinya Terhadap Politik Internasional Pasca Perang Dingin”, Berkala Penelitian Pasca Sarjana 1997, X(1), p.1.
  4. R.R.A Kawilarang, “Konflik Korea, Kisah dari Utara”, http://sorot.vivanews.com/news/read/190858-konflik-korea–kisah-dari-utara , 26 November 2010, diakses 1 November 2011

 

Daftar Pustaka

Kegley, Charles W. 2008. World Politics Trend and Transformation, 11th edition, Boston : Thomson Wadsworth.

Baylis, Smith, & Owens. 2011. The Globalization of World Politics. New York : Oxford.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s