2011 : Masa Panen

Refleksi Tahun Penuh Rezeki

(1st chapter)

Ketika mencari kata yang tepat untuk menggambarkan tahun 2011, pilihanku akhirnya jatuh pada “masa panen”. Tentu kedua kata sederhana itu lebih familier dalam bidang agraria. Maklum saja, panen adalah saat yang dinanti para petani dimana mereka dapat mengunduh hasil pertaniannya setelah bekerja keras untuk waktu yang tidak sebentar. Setelah panen, biasanya pundi-pundi uang mereka akan terisi dengan sendirinya. Sebuah periode yang pastinya penuh dengan kebahagiaan.

Filosofi itu rasanya mirip dengan apa yang terjadi padaku di 2011. Sebagai siswa kelas XII SMA, tingkatan terakhir dari pendidikan di sekolah, aku akan menghadapi berbagai macam ujian guna menentukan apakah aku layak untuk lulus dari masa-masa terindah di dunia pendidikan itu. Di samping itu,  aku juga berada pada pintu gerbang masa depan : masuk ke perguruan tinggi.

Sedari awal SMA, aku memang sudah menanamkan dalam hati bahwa sebisa mungkin aku masuk ke perguruan tinggi melalui jalur PMDK. Syukur-syukur aku bisa masuk tanpa tes. Aku sangat bersyukur memiliki seorang ibu yang cukup militant. Wanita yang telah melahirkan dan membesarkanku itu dengan lihai bergerilya untuk mendapat informasi mengenai cara masuk ke perguruan tinggi meskipun waktu itu aku masih kelas sepuluh. Hal tersebut tentu menjadi nilai plusku dibanding teman yang lain.

Lebih dari itu, aku juga telah berpikir masak-masak dimana aku harus berkuliah. Dengan penuh kemantapan hati, aku bulatkan tekad bahwa aku harus kuliah di luar Surabaya! Otak inipun bekerja dengan keras untuk mencari di mana perguruan tinggi yang paling cocok. Dengan mempertimbangkan masalah kualitas pendidikan, suasana kota, budgeting, tempat tinggal, jarak dari Surabaya, serta ketersediaan keluarga, tidak susah bagiku untuk memutuskan bahwa aku akan meneruskan studi di Universitas Gadjah Mada!

Kredibilitas kampus biru dalam dunia pendidikan di Indonesia ini tidak perlu diragukan lagi. Sebagai universitas negeri tertua di Indonesia, kampus yang terletak di utara Yogyakarta ini menawarkan kualitas pendidikan kelas dunia! Ribuan alumni telah ditetaskan dari pengeraman selama bertahun-tahun di bawah naungan dosen yang mayoritas lulusan universitas ternama di berbagai penjuru dunia. Banyak di antara mereka yang menjadi pemimpin bangsa. Berbagai kompetisi dimenangkan oleh universitas yang sempat nunut di pagelaran Kraton Yogyakarta pada awal pendiriannya ini, baik di level nasional maupun internasional.

Langkah selanjutnya adalah menentukan jurusan. Tentu saja aku tak ambil pusing untuk hal yang satu ini. Sejak SMP aku memang sudah memiliki cita-cita untuk masuk Hubungan Internasional. Alasannya simple, aku ingin jadi duta besar. Dengan menjadi duta besar, aku bisa pergi keliling dunia untuk menjalankan tugas negara, dan yang terpenting ialah gratis bahkan digaji! Akupun sempat berangan-angan untuk menyunting istriku di luar negeri dan membesarkan anak kami di sana.

Namun, di 2011 rencana yang telah kupikirkan masak-masak tersebut seakan lenyap. Tidak bisa dipungkiri, pesona Sri Mulyani Indrawati berhasil membujukku untuk mengubah haluan agar berkuliah di almamaternya. Hal tersebut makin dipertegas dengan mimpi bertemu senior sekaligus teman seperjuangan semasa SMA yang berkuliah di sana.

Awal 2011, aku benar-benar memfokuskan perhatian pada peningkatan kemampuan akademik khususnya pada bidang studi yang akan diujikan secara nasional. Yang perlu diingat, aku adalah siswa program IPA. Sebuah kontradiksi dengan minatku yang sejatinya adalah IPS. Dalam hal ini, aku harus mengejar ketertinggalan dari teman sekelas yang lain. Yang mengerikan, orientasi mereka bukan sekadar unas, melainkan SNMPTN. UNAS pun bagaikan hiburan akhir tahun yang menyenangkan bagi mereka namun tidak denganku.

Keputusanku masuk program IPA merupakan salah satu perjudian besarku sepanjang SMA. Keputusan inipun bisa dibilang aji mumpung. Secara tiba-tiba, diparuh ke dua kelas sepuluh, SMAku membuka program khusus yang diberi nama Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa (CIBI). Program ini menjanjikan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang cukup tinggi. Hal tersebut tentu akan menguntunkanku sebagai siswa yang memang berniat untuk masuk perguruan tinggi tanpa tes. Dengan KKM yang tinggi, otomatis nilaiku juga tinggi. Konsekuensinya, aku harus memaksa diri ini untuk bertahan dalam neraka bernama program IPA selama dua tahun.

Aku sadar, sekeras apapun belajar, aku tak akan mampu meruntuhkan dominasi Renata, Indah, Alif Mutahar, Arizky, dkk yang memang minat serta kemampuannya adalah IPA. Untuk merealisasikan keinginanku, aku harus memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh mereka yakni prestasi di luar sekolah!

Aku benar-benar harus mengucap syukur. Akibat masuk CIBI, aku bisa mengenal Bu Win (guru ekonomi SMAku) yang pada akhirnya menawarkanku untuk ikut lomba debat APBN. Dengan tidak sengaja, aku lolos seleksi internal sehingga aku berkesempatan untuk membela Smadabaya dalam derasnya arus kompetisi yang satu ini. Belum lagi predikat sekolahku sebagai juara bertahan tingkat kota membuat perjuanganku agak berat. Mau tidak mau, target kami adalah mempertahankannya.

Berada dalam tim underdog, aku tidak yakin akan mampu berbicara banyak dalam kompetisi ini. Berkawan Mbak Anin dan Mbak Nina, secara mengejutkan kami mampu menjadi tim yang diperhitungkan. Yang membahagiakan, wajahku nongol di Koran dengan oplah terbesar di Surabaya. Pada akhirnya, timku mampu menggondol trophy dari penyelenggara. Sayangnya, kami belum beruntung pada tingkat nasional.

Sebagai siswa yang masih punya kesempatan untuk berkompetisi lagi, waktu penantian selama satu tahun aku isi dengan mengikuti berbagai lomba. Hitung-hitung sebagai pemanasan untuk lomba debat APBN tahun berikutnya. Mengingat target yang telah kucanangkan tidak tanggung-tanggung : Juara Nasional. Alhamdulillah, beberapa kompetsisi berhasil kumenangkan. Dalam kompetisi tersebut, aku berhasil menemukan partner yang cukup klop, Fahmy Fil Ardhy Nurwantara.

Rasa syukur rasanya tak ingin aku usir dari diri ini. Alhamdulillah, bersama Fahmy dan Citra, aku berhasil merealisasikan keinginan yang sempat tertunda : Juara Nasional Kompetisi Debat APBN. Selain bisa mengharumkan nama SMAN 2 Surabaya, aku juga mendapat pengalaman yang berharga. Di samping itu, kenikmatan materi juga mampu membayar jerih payah kami. Satu hal yang terpenting, predikat sebagai juara nasional menjadi kartu truf kami dalam perjuangan masuk ke perguruan tinggi tanpa tes.

Kembali ke 2011. Dengan usaha serta doa, aku jalani hari-hari menjelang UNAS dengan berani meskipun terkadang galau. Bersyukur aku memiliki teman sekaliber Indah yang bisa dijadikan tempat berbagi serta tempat untuk menginput ilmu yang belum sempat tersimpan dengan rapi dalam memori.  Di sisi lain, aku juga menggadaikan waktu santai untuk mengembara di lembaga bimbingan belajar (bimbel). Dengan fasilitas tutorial, aku jelajahi berbagai macam cabang bimbel tersebut demi mendapatkan secercah pencerahan.

Saat UNASpun tiba. Entah sial atau bagaimana, aku harus duduk persis di depan pengawas. Tentu saja ini menjadi ujian mental yang cukup besar bagiku. Selama tiga tahun, diri ini terbiasa dengan pengawas ujian yang tidak begitu ketat. Terkadang secara tidak resmi, pengawas tersebut melegalkan kami untuk melakukan tindakan yang mendukung bagusnya nilai kami. Dalam UNAS, selain pengawas dari sekolah yang berbeda, mereka diwajibkan menulis segala kejadian dalam selembara berita acara. Praktis, aku tidak bisa berbuat macam-macam.

Setelah berjibaku dengan ilmu yang katanya pasti selama satu minggu, aku akhirnya bisa keluar dengan lega. Skrimit di akhir masa SMA itu berhasil kukonversikan menjadi rasa aman. Waktu penantian hasil ujian aku isi dengan program intensif di bimbel. Aku sengaja memilih cabang yang dekat dengan rumah. Selain lebih kondusif, waktu tempuh yang tidak terlalu lama akan membuatku memiliki waktu lebih untuk mengasah kemampuan di bidang yang menarik ini. Berbagai try out aku jalani, hasilnya positif. Dari satu ke lain hari, perjuanganku menunjukkan trend peningkatan.

Pengumuman UNAS pun datang. Di tengah sebuah malam, tidur nyenyakku dirusak oleh adek yang memberitahu bahwa nilai unasku 50,00. Bukan hasil yang mentereng namun cukup mengantarku untuk keluar dari kawah candradimuka bertitel SMAN 2 Surabaya.  Siang harinya, aku dan teman-teman harus pergi ke rumah wali kelas untuk mendengar hasil resmi dari pihak sekolah. Jauh memang, di pelosok Siodarjo. Namun apa hendak di kata, wali kelas selama 2 seperempat tahun sudah bertitah. Sungkan untuk menolaknya, sekalipun dengan cara halus.

Namun, penantian yang sebenarnya bukanlah pengumuman nilai UNAS. Penantian yang sebenarnya ialah keesokan harinya : pengumuman SNMPTN Undangan. Itulah saat-saat ketika sebagian besar penduduk kelas CIBI melihat apakah jerih payah mereka selama dua setengah tahun digodok dalam tungku dengan suhu yang amat tinggi ini cukup matang dan hasilnya memuaskan. Sayangnya, hari pengumuman SNMPTN Undangan bertepatan dengan Wisuda serta Prom Night SMAku. Kamipun harus mempersiapkan mental terhadap segala kondisi. Fokus kami terhadap Prom Nightpun hilang.

Sama seperti tahun sebelumnya, wisuda dilaksanakan di convention hall milik Pemkot Surabaya. Seluruh siswi terlihat cantik. Dengan balutan kebaya serta make up beraneka warna, parfum menyengat,dan berbagai macam model sanggul bagi yang tidak berjilbab, mereka menyongsong hari ketika mereka dinyatakan telah menuntaskan pendidikan di SMA. Tidak mau kalah, para siswa tampil maskulin dalam balutan jas yang dipadu oleh dasi yang serasi. Orang tua masing-masing siswa mendampingi putra-putri mereka dengan bangganya.

Satu persatu kelas dipanggil. Secara urut, announcer langganan untuk acara wisuda – Drs. Hirman Pratikto – memanggil nama anak didiknya. Masing-masing dari mereka disematkan medali berbentuk logo SMAN 2 Surabaya oleh kepala sekolah. Prosesi tersebut menandakan yang bersangkutan telah lulus dari jenjang pendidikan menengah.

Setelah menerima pengalungan medali, kami disuguhi berbagai sambutan. Mulai dari kepala sekolah, perwakilan orang tua siswa, dan perwakilan siswa. Kali ini siswa yang kebagian untuk berorasi di depan hadirin ialah kawan sebangkuku, Fahmy Fil Ardy Nurwantara. Bocah yang lama tinggal di Madura ini memang cukup piawai dalam meramu kata yang diejawantahkan dalam sebuah pidato. Hari itu, pidatonya dia siapkan dengan matang. Aku turut member saran dalam penyusunan pidatonya. ”My, jangan lupa sebutkan prestasi teman-teman satu persatu. Biar seluruh hadirin ingat bahwa kita angkatan yang berprestasi.” Alhasil, dia berhasil membius penonton hingga  riuh rendah serta memberikan applause yang cukup panjang. Akupun tak kuasa untuk memberikan standing applause baginya.

Tibalah saat dimana announcer membacakan daftar lulusan terbaik dalam berbagai bidang. Mulai akademik, olahraga, seni, hingga keorganisasian. Secara mengejutkan, namaku tercatut dalam daftar lulusan terbaik bidang akademik. Jika merujuk pada kontribusi di kelas, tentunya banyak teman yang lebih berhak untuk menerima gelar itu. Namun, tim pemberi gelar menafikkan hal tersebut. Mereka rupanya mempertimbangkan capaianku dalam Kompetisi Debat APBN serta berbagai kompetisi yang telah aku jalani. Akupun maju ke depan hadirin bersama dua kompatriotku, Fahmy dan Citra.

Pasca wisuda, degupan jantungku terasa lebih cepat. Tidur siangpun tak bisa aku lakukan. Yang ada hanyalah perasaan cemas menanti pengumuman SNMPTN Undangan. Saat itu, aku masih berharap agar bisa diterima di almamater Bu Sri Mulyani bersama teman-teman segengku. Geng tersebut kunamai “Geng of Yellow Jacket”. Geng yang beranggotakan aku, Fahmy, Indah dan Bundo ini telah berkomitmen untuk bersatu di kampus yang katanya terbaik di Indonesia itu.

Beranjak petang, aku harus mempersiapkan diri untuk berangkat ke Prom Night. Dengan mobil Kijang LGX kepunyaan ayahku, kujemput Fahmy, Gontek, dan Amik satu persatu. Sebelum berangkat ke rumah Amik, aku telah mencapai kata sepakat bersama Fahmy : tidak membuka hasil SNMPTN Undangan hingga selesai Prom Night. Untuk kita ketahui, pengumuman undangan dilaksanakan sekitar pukul tujuh malam. Itu artinya pada saat prom night berlangsung. Kami setuju untuk tidak merusak suasana prom night dengan hasil apapun yang kami terima.

Tidak mengherankan jika Prom Night waktu itu tidak seguyub Prom Night tahun sebelumnya. Satu persatu teman yang telah melihat pengumuman banyak menunjukkan gurat kesedihan. Mereka belum beruntunng. Di sisi lain, bagi yang telah diterima, rona bahagia terpancar dari wajahnya. Namun, kebahagiaan mereka masih kalah dengan gurat kesedihan yang malam itu mendominasi.

Satu persatu teman dan guru menanyakan bagaimana hasil SNMPTN Undanganku. “Saya belum buka.” Dengan meyakinkan, aku memberikan pesan pada mereka bahwa waktu Prom Night bukan untuk membuka hasil pengumuman. Prom Night ialah waktu untuk dinikmati.

Sial rupanya menimpa diriku. Tanpa sepengetahuan mereka, Fahmy yang telah sepakat denganku serta Indah sebagai salah satu anggota Geng of Yellow Jacket telah menerima kepastian tentang hasil SNMPTN Undangan. Mereka diterima di pilihan pertama masing-masing! Sejenak aku goyah. Aku juga ingin melihat bagaimana nasibku malam itu. Namun aku segera kembali pada komitmen awalku untuk membukanya pasca Prom Night. Tawaran teman-teman untuk membuka di sanapun aku tolak mentah-mentah.

Karena sudah tidak sanggup menahan rasa ingin tahu, kusegerakan untuk beranjak dari venue prom night. Aku kelimpungan untuk mencari Fahmy dan Gontek yang entah menghilang dimana. Dalam pencarianku, tidak sengaja aku melihat gelagat mencurigakan dari sekelompok temanku. Mereka tampak melihat hasil SNMPTN Undangan seseorang. Sayangnya, orang tersebut belum berhasil untuk diterima. Entah mengapa hati kecilku mengatakan bahwa itu aku.

Setelah Fahmy dan Gontek berhasil kutemukan, aku mengajak Amik untuk bergegas meninggalkan convention hall itu. Kupacu kijang itu sekencang mungkin. Tidak jarang temanku histeris ketika aku melewati polisi tidur tanpa mengerem terlebih dahulu. Mau bagaimana lagi, akal sehatku sudah teracuni oleh hasrat untuk ingin tahu. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mencapai rumah.

Di dalam garasi, aku mendapat kabar bahwa adekku belum diterima. Tidak masalah memang. Dia sejatinya menghendaki untuk berkuliah di UNAIR yang tidak membuka jalur undangan. Diapun sudah mempersiapkan dirinya untuk bertarung dalam SNMPTN tulis. Setelah itu, aku lekas pergi ke kamarku untuk mengecek hasilnya. Aku mewanti-wanti agar anggota keluargaku tidak ikut campur. Aku ingin melihat hasil dengan mata kepalaku sendiri.

Maaf, anda belum diterima dalam SNMPTN Undangan. Itulah yang aku dapati dari website SMPTN undangan. Berkali-kali aku menoba untuk refresh, tetap tidak ada perubahan. Sedih perlahan menggelayut seisi rumah ketika aku memberitahukan hasil tersebut. Yang ada hanya keheningan. Namun aku mencoba untuk tidak larut dalam suasana tersebut. Aku masih memiliki secercah harapan bernama PBUBB UGM!

Sebagai pemenang kompetisi tingkat nasional, aku mendapat kehormatan untuk menjajal jalur prestasi UGM yang bernama PBUBB. Sejak jauh hari, aku telah mendaftarkan diriku untuk ikut jalur tersebut. Hampir saja aku mencabut pendaftaranku. Hal tersebut diakibatkan oleh rumor yang menyatakan bahwa peserta PBUBB tidak boleh mengkuti SNMPTN Undangan. Untungnya aku memiliki guru sekelas Bu Ani. Beliau rela untuk berangkat ke Jogja dan memastikan bahwa hal tersebut sah-sah saja.

Koneksi internet yang lemot tidak kunjung menghubungkanku dengan website UGM. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk masuk ke dalam website yang menjadi harapan terakhirku itu. Setelah berhasil masuk, aku diharuskan mengisi nomer pendaftaran dan password. Aku lupa berapa nomor pendaftaranku. Dengan gegabah aku isi berbagai nomor yang ada di dalam kuitansi pembayaran. Hasilnya nihil! Aku mulai cemas dengan keadaan yang tidak menentu itu.

Akhirnya kuputuskan untuk menelpon Fahmy. Pertama, aku menyampaikan padanya bahwa aku tidak diterima di SNMPTN Undangan. Kedua aku bertanya apa yang menjadi nomor pendaftaran PBUBB. Eureka! Dia ingat betul bahwa yang menjadi nomor pendaftaran adalah Data berupa PDF yang telah kami unduh. Dengan sigap kututup telepon dan pergi ke kamarku.

Di dalam kamar, laptopku yang telah terpaku beberapa saat itu kujelajahi file-file yan gtersimpan di dalamnya. Rupanya benar ujar Fahmy, file itu ada! Dengan mengucap bismillah, secara perlahan kumasukkan satu persatu nomor yang ada di dalamnya pada website UGM. Passwordpun kuisi setelahnya. Setelah yakin dengan berbagai doa yang telah aku rapal,  akhirnya aku tekan tombol untuk melihat Pengumuman. AllahuAkbar! “Selamat, Anda di terima di Jurusan Hubungan Internasional.” Secara spontan aku telungkupkan tubuhku di atas lantai. Dengan mengucap syukur, aku berdoa kepada Allah atas diterimanya aku di UGM.

Sejurus kemudian, rumah yang tadinya hening berubah menjadi arena penuh teriakan. Aku dengan lantang mengucapkan, “Ma, Alhamdulillah. Aku diterima di HI UGM.” Ibuku tak kuasa menahan haru. Senyum terpancar dari wajah Ayahku yang sebelumnya muram. Satu persatu kolega aku kabari atas keberhasilanku itu. Yang pertama ialah pakde Fauzi. Beliau tidak henti-hentinya mendoakanku dari seberang lautan. Selain itu, aku juga telepon P. Yatno. Guru yang telah mendidikku sedemikian rupa ini tidak pernah luput dari kabar baik tentang diriku. Setelah itu, beberapa tema aku kabari. Mereka menunjukkan kebahagiaannya.

to be continued..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s