Sedikit Cerita tentang ASEAN dan (Penanggulangan) Terorisme

Semenjak dibentuk, ASEAN memiliki beberapa tujuan yang salah satunya adalah mendorong stabilitas dan perdamaian regional melalui penghormatan pada aturan hukum dan keadilan di hubungan antarnegara dari wilayah tersebut dan patuh pada prinsip-prinsip piagam PBB. Dalam hal ini, stabilitas regional menjadi penting mengingat efeknya yang besar terhadap tidak hanya pertumbuhan ekonomi kawasan namun juga perkembangan social budaya di dalamnya. Rupanya hal tersebut tidak mudah untuk diwujudkan. Sementara konflik-konflik antar negara telah dapat diselesaikan, atau paling tidak dikendalikan, beberapa negara di wilayah ini terus menerus disibukkan dengan kekerasan di dalam negaranya dalam bentuk pemberontakkan bersenjata melawan pemerintahan pusat negara. Pemberontakan-pemberontakan bersenjata ini terjadi dalam dua bentuk: terorisme dan kekerasan.

Terorisme adalah penggunaan kekerasan yang tidak diakui oleh kelompok sub-negara untuk menciptakan ketakutan dengan menyerang target simbolis. Hal tersebut juga berlaku di Asia Tenggara. Berbagai macam pengeboman seperti yang terjadi di Hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton Indonesia 2009 lalu berhasil menciptakan ketakutan bagi masyarakat. Urungnya Manchester Ubited berlaga di Indonesia menjadi bukti terciptanya ketakutan di masyarakat. Di samping itu satu sasaran aksi terror, Hotel J.W. Marriot dan Ritz Carlton Indonesia, adalah symbol dunia barat.

Yang perlu kita cermati dalam kasus Bom Marriot adalah pelaku pengeboman, Nur Hasbi. Dia memiliki kedekatan dengan Noordin M. Top, warga Malaysia otak teroris dalam beberapa pengeboman di Indonesia. Hal tersebut ditunjukkan dengan beberapa kali pertemuan antara Noordin M. Top dan Nur Hasbi di Cilacap. Di samping itu, Nur Hasbi adalah alumnus Pondok Pesantren Ngruki, Solo asuhan Abu Bakar Baasyir. Maka dari itu, bisa kita simpulkan bahwa ada hubungan transnasional antara Islamis Radikal yang lahir di local dan jaringan teroris internasional.

Menanggapi hal tersebut, perlu dilakukan kerjasama antarnegara di ASEAN dalam rangka penanggulangan terorisme. Namun itu bukanlah hal yang mudah mengingat perbedaan sosiokultural masyarakat di masing-masing negara serta jenis terorisme yang melanda masing-masing negara. Kedua perbedaan tersebut berakibat pada persepsi yang berbeda dari masing-masing negara untuk menanggulangi terorisme. Ini adalah hambatan mendasar yang membuat penanggulangan terorisme di ASEAN menjadi sulit dilakukan.

Tetapi negara mengesampingkan perbedaan mereka ketika mereka harus melakukan respon kolektif terhadap perubahan keamanan lingkungan global yang disebabkan oleh peristiwa 11 September 2001. Dalam hal ini dibutuhkan kehati-hatian ASEAN dalam menyikapi permasalahan terorisme. Respon pertama adalah deklarasi Aksi Bersama dalam Melawan Terorisme di Bandar Seri Begawan 2001 lalu. Deklarasi ini mencakup: (i) penolakan terhadap setiap upaya untuk menghubungkan terorisme dengan agama atau ras apapun, (ii) terorisme adalah tantangan langsung terhadap pencapaian perdamaian, kemajuan dan kemakmuran ASEAN, (iii) upaya-upaya untuk melawan terorisme harus dilakukan di sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan semua resolusi yang relevan.

Deklarasi tersebut memiliki tindak lanjut yang nyata. Secara rutin digelar Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN untuk Kejahatan Transnasional (AMMTC). Sebagai tindak operasional, dilakukan pula Pertemuan Pejabat Senior ASEAN tentang Kejahatan Transnasional (SOMTC). Pada tahun 2011, sebagai tindak lanjut pertemuan Menteri Pertahanan Se-ASEAN,telah disepakati penguatan pertukaran informasi terorisme antarnegara ASEAN. Beberapa negara di luar ASEAN juga terlibat, seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Pada akhirnya, kita bisa simpulkan bahwa negara-negara ASEAN telah melakukan upaya serius untuk menanggulangi permasalahan terorisme. Berbagai pertemuan sebagai tindak lanjut deklarasi pada tahun 2001 selalu menghasilkan keputusan yang sesuai dengan perkembangan. Namun di sini efektivitas dari upaya penanggulangan harus ditingkatkan agar tindak terorisme bisa diminimalisasi atau bahkan dihilangkan dari ASEAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s